Comscore Tracker

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang Tuberkulosis

Penyakit paru yang menular ini tak boleh diremehkan

Sudah lebih dari setahun dunia berperang melawan COVID-19. Seluruh dunia pun fokus terhadap penyakit akibat virus corona strain SARS-CoV-2 ini. Namun, di sisi lain beberapa penyakit jadi "terlantar". Salah satunya tuberkulosis (TBC atau TB), yang adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis.

Menurut Global Tuberculosis Report tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), tercatat bahwa dari 30 negara yang rentan TBC, enam di antaranya datang dari Asia Tenggara. Tahun 2018, Indonesia menempati urutan ketiga dengan rata-rata 845.000 kasus. Mengkhawatirkan, bukan?

Memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret, berikut ini fakta-fakta tentang salah satu penyakit paru-paru ini. 

1. Infeksi dan Tipe Infeksi TBC

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang TuberkulosisParu-paru yang terkena TBC. eurekalert.org

TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis), yang terhirup lewat tetesan kecil (droplet) dari penderita lewat batuk atau bangkis (bersin) yang masuk ke saluran pernapasan.

Selain paru-paru, bakteri tersebut dapat menyebar hingga ke ginjal dan tulang belakang. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), TBC dapat menginfeksi dengan cepat, apalagi jika sudah mencapai tenggorokan dan paru-paru.

TBC terbagi menjadi dua jenis:

  • Laten: penderita tidak menunjukkan gejala dan tidak merasa sakit. Meskipun begitu, tes kulit dan darah menunjukkan positif TBC. Untungnya, pasien TBC jenis ini tidak dapat menulari orang lain dan masih dapat diobati sebelum penyakit mencapai tahap aktif.
  • Aktif: penderita menunjukkan gejala dan merasa sakit. Selain itu, hasil rontgen dada dan sputum smear menunjukkan abnormalitas. Dapat menulari orang lain, pasien TBC aktif harus secepatnya diobati.

Menurut informasi dari WHO, seperempat populasi dunia mengidap TBC laten. Biasanya, pasien memiliki peluang sembuh yang lebih besar karena M. tuberculosis tidak aktif. Namun, bila tidak didukung oleh sistem imun yang kuat dan tidak ditangani, lama-lama bisa berkembang menjadi TBC aktif.

2. Gejala-gejala Lanjutan TBC

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang Tuberkulosispixabay.com/Nastya-gepp

Menurut National Health Service Inggris (NHS), jika TBC berkembang ke tahap aktif, maka akan muncul gejala-gejala umum seperti:

  • Batuk terus-menerus selama sedikitnya tiga minggu dan disertai dahak berdarah
  • Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan
  • Merasa lelah dan tidak enak badan terus-menerus
  • Demam yang disertai dengan suhu tubuh tinggi dan keringat di malam hari
  • Pembengkakan di leher

Selain pernapasan, TBC juga bisa menyebar ke organ lain seperti ginjal dan tulang belakang. Melansir Medical News Today gejala-gejala jika TBC menyebar di antaranya:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit perut
  • Nyeri pada persendian atau tulang
  • Linglung
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Kejang

Baca Juga: Tak Hanya Paru-paru, TBC Juga Bisa Menyerang 6 Organ Tubuh Ini  

3. Dari Rokok hingga HIV, Inilah Beberapa Faktor Risiko TBC

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang Tuberkulosispexels.com/AnnH

Imun yang kuat dapat menangkal perkembangan bakteri M. tuberculosis di tubuh. Namun, hal-hal berikut dapat menyebabkan imun lemah dan merusak saluran pernapasan:

  • Mengidap AIDS sehingga terkena infeksi oportunistik
  • Gizi buruk
  • Merokok (aktif dan pasif)
  • Faktor lain seperti berat badan rendah, diabetes, penyalahgunaan obat, silikosis (menghirup debu silikon), penyakit ginjal tahap akhir, serta kanker tertentu terutama di bagian kepala dan leher

Melansir Healthline, dikatakan bahwa beberapa pengobatan dapat menghambat kinerja imun tubuh, sehingga membuka celah bagi bakteri M. tuberculosis untuk menginvasi. Pengobatan-pengobatan untuk penyakit berikut ini dapat melemahkan imun:

  • Kanker
  • Lupus
  • Psoriasis
  • Radang sendi (artritis reumatoid)
  • Penyakit Crohn

4. Komplikasi Lanjutan yang Ditimbulkan dari TBC

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang Tuberkulosisindependent.co.uk

WHO mengingatkan bahwa TBC masuk urutan 10 besar penyakit paling mematikan di dunia dan 95 persen kasus kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan TBC dapat menyebabkan komplikasi seperti penyakit kardiovaskular dan mengganggu fungsi metabolisme tubuh.

Selain itu, melansir Medical News Today, TBC dapat menyebabkan sepsis, yakni kondisi saat imun tubuh melawan infeksi bakteri dalam darah, tetapi menyebabkan gagal organ dan kematian.

5. Diagnosis untuk TBC, dari Tes Kulit Hingga Darah

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang Tuberkulosisflickr.com/USAID Kenya and East Africa

Untuk diagnosis apakah kamu terkena TBC atau tidak, biasanya akan dilakukan tiga tes:

  • Tes Mantoux
  • Tes darah interferon gamma release assay (IGRA)
  • Rontgen dada

Pada tes Mantoux, dokter akan menyuntikkan 0,1 mililiter zat purified protein derivative (PPD) ke lapisan atas kulit dan hasilnya akan keluar selama 2-3 hari. Jika muncul bilur berukuran lebih dari 15 milimeter, maka hasilnya positif TBC. Namun, tes Mantoux dinilai tidak sempurna karena hasilnya rancu (apalagi jika kamu habis vaksin TBC) dan tidak dapat memastikan TBC aktif.

Untuk tes darah IGRA, hasilnya terbagi menjadi tiga: positif, negatif, dan indeterminate. Quantiferon dan T-Spot adalah dua tes darah yang sudah lulus uji di Amerika Serikat (AS). Namun, sama seperti tes Mantoux, tes darah pun sejatinya tidak dapat menentukan status TBC aktif.

Jika tes kulit atau darah menunjukkan hasil positif, biasanya kamu akan langsung menjalani rontgen dada untuk melihat adanya bercak putih pada paru-paru. Biasanya, tes sputum yang diambil dari paru-paru juga dilakukan.

6. Pengobatan dan Pencegahan untuk TBC Jangan Sampai Putus!

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang TuberkulosisIlustrasi Obat-Obatan. IDN Times/Mardya Shakti

Meskipun TBC adalah infeksi bakteri, pengobatan antibakterinya pun berbeda. Butuh sekitar 6-9 bulan konsumsi obat kombinasi agar pasien TBC pulih total.

Dalam jangka waktu tersebut, pengobatan harus disiplin dan tuntas. Kelewat satu hari saja harus ulang dari awal lagi! Jika pengobatan tidak tuntas meskipun gejala sudah tidak ada, bakteri TBC bisa berkembang lagi dan lebih resistan terhadap pengobatan. Pengobatan pun jadi lebih sulit dan lebih lama.

CDC menjabarkan beberapa obat yang ampuh dan lulus uji coba Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), yakni:

  • Isoniazid (INH)
  • Rifampin (RIF)
  • Ethambutol (EMB)
  • Pyrazinamide (PZA)

Pengobatan TBC harus di bawah pengawasan dokter, apalagi jika penderitanya punya masalah ginjal atau hati, kondisi medis lain, atau alergi obat tertentu.

7. Cara Mencegah TBC

Tak Kalah Berbahaya dari COVID-19, Simak 6 Fakta tentang TuberkulosisIlustrasi vaksinasi BCG pada anak. freepik.com/pressfoto

Lalu, bagaimana agar tidak terkena TBC? Diagnosis dan perawatan dini adalah kunci! Selain itu, hindari kontak dengan penderita TBC aktif dan pakai masker di ruangan tertutup. WHO mengingatkan bahwa sekitar 10-15 kasus per tahun disebabkan karena kontak fisik dengan pasien TBC.

Cara pencegahan lainnya adalah dengan mendapat vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) untuk bayi baru lahir hingga usia 2 bulan. Orang dewasa juga boleh mendapatkan vaksin BCG bila tidak mendapatkannya semasa kecil. Meski begitu, efektivitas pada orang dewasa lebih rendah, sehingga jarang dianjurkan, kecuali untuk yang berisiko tinggi seperti petugas kesehatan yang menangani pasien TBC atau mereka yang tinggal di daerah yang risiko penularan TBC-nya tinggi.

Jika kamu terdeteksi menderita infeksi TBC dan tidak mengalami gejala, maka besar kemungkinan kamu terkena TBC laten. Jangan dibiarkan dan cepat-cepat obati agar tidak berkembang menjadi TBC aktif!

Pengobatan biasanya lebih singkat dibandingkan TBC aktif, yaitu antara 3-9 bulan, tergantung dari kombinasi obat-obatan.

Itulah 6 fakta tentang tuberkulosis yang harus kamu ketahui. Selain yang sudah disebutkan sebelumnya, kamu juga bisa mencegah TBC dengan memelihara kesehatan, yaitu dengan makan makanan bergizi seimbang, olahraga, dan pakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

COVID-19 memang mengerikan, tetapi jangan sampai kita mengesampingkan risiko penyakit lainnya. Cegah TBC sebelum terlambat. Selalu jaga jarak dan jaga kesehatan demi Indonesia bebas TBC!

Baca Juga: Perokok atau Bukan, Ini 7 Cara Ampuh untuk 'Membersihkan' Paru-parumu

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya