Comscore Tracker

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Buruk

Penyakit ini sesungguhnya bukanlah aib

Tahukah kamu bahwa Hari Alzheimer Sedunia diperingati pada tanggal 21 September? Peringatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan penyakit degeneratif tersebut.

Data dari Riskesdas Kementrian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus Alzheimer di Indonesia mencapai 1,2 juta penderita pada tahun 2016. Walaupun demikian, banyaknya kasus yang ditemukan tidak menghentikan stigma buruk terhadap penyakit ini. Sebagian orang merasa enggan untuk bersosialisasi dengan penderita Alzheimer. Akibatnya, penderita merasa malu dan takut.

Lantas bagaimana cara menghentikan stigma buruk tersebut? Langkah awal yang dapat kita lakukan adalah mengenali penyakitnya terlebih dahulu.

1. Apa itu Alzheimer?

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi seorang pria pelupa (pixabay.com/Tumisu)

Dilansir National Institute on Aging, Alzheimer adalah suatu penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir. Ini tergolong dalam penyakit progresif, yaitu penyakit yang terus berkembang sehingga kondisi penderita semakin memburuk. Penderita dapat kehilangan sebagian ingatannya hingga kemampuan untuk memulai atau merespons suatu pembicaraan. Akibatnya, aktivitas sehari-hari sulit untuk dilakukan. 

Kesulitan penderita untuk beraktivitas dapat disebabkan oleh hilangnya jalinan sel saraf dengan otak. Sel saraf atau neuron berfungsi sebagai penghantar pesan dari otak ke otot dan organ tubuh. Ketika jalinan terputus, sel tersebut akan mati sehingga pesan dari otak pun tidak dapat disampaikan.

Kata "Alzheimer" berasal dari nama seorang dokter yang menemukan penyakit ini, Dr. Alois Alzheimer. Ia awalnya menemukan gumpalan abnormal pada jaringan otak seorang wanita yang meninggal dunia karena suatu penyakit kejiwaan pada tahun 1906.

Gumpalan tersebut kini dikenal sebagai plak amyloid. Selain itu, terdapat pula struktur seperti berkas benang kusut yang disebut neurofibrillary. Keduanya diyakini sebagai ciri utama kerusakan otak akibat penyakit Alzheimer.

2. Apa saja faktor risiko dari penyakit Alzheimer?

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi merayakan ulang tahun (pixabay.com/Damián Aldeta Fuentes)

Sampai saat ini, peneliti belum mengetahui penyebab penyakit Alzheimer secara pasti. Beberapa faktor yang diyakini memberikan dampak signifikan adalah usia dan genetik. Perubahan struktur jaringan yang berkaitan dengan usia dapat membahayakan sel saraf dan sel otak lainnya. Dilansir National Institute on Aging, perubahan yang terjadi, yaitu penyusutan bagian otak tertentu, kerusakan pembuluh darah, dan inflamasi. Perubahan ini berkontribusi terhadap perkembangan Alzheimer.

Gen yang diwariskan oleh orang tua kepada anak dapat mempengaruhi bagaimana penyakit Alzheimer dapat berkembang. Seseorang dengan keluarga yang memiliki riwayat penyakit tersebut berpeluang terkena Alzheimer dengan risiko rendah. Sementara itu, orang-orang dengan Down Syndrome memiliki peluang yang lebih besar karena mutasi genetiknya dapat menyebabkan pembentukan plak amyloid

Dilansir National Health Services of United Kingdom, gaya hidup termasuk salah satu faktor risiko terkena penyakit Alzheimer. Gaya hidup yang dimaksud berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler. Hal ini termasuk obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, tingkat kolestrol tinggi, dan kebiasaan merokok.

Baca Juga: Diabetes hingga Alzheimer, Ini 7 Dampak Fatal Polusi pada Kesehatan

3. Gejala umum yang tampak pada penderita Alzheimer

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi gejala umum Alzheimer (freepik.com/freepik)

Gejala umum yang sering kali tidak disadari adalah penurunan daya ingat. Penderita Alzheimer kesulitan untuk mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.

Dilansir Healthy Brain Initiative, penderita juga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, contohnya mengangkat telepon, memasak atau berbelanja. Selain itu, mereka juga sering meletakkan sesuatu di tempat yang tidak biasa, seperti meletakkan kunci mobil di atas mesin cuci.

Gejala lainnya berkaitan dengan rangkaian kata. Penderita sulit memahami obrolan dalam suatu perkumpulan. Mereka pun berusaha keras untuk mengucapkan satu kata yang tepat karena kesulitan. Biasanya, mereka mendeskripsikan kata yang dimaksud. Sebagai contoh, penderita akan mengatakan, "Benda yang melingkar di pergelangan tangan dan berfungsi menunjukkan waktu," untuk menyebut jam tangan. 

Perubahan suasana hati dan perilaku juga menjadi salah satu gejala Alzheimer. Penderita menjadi lebih agresif atau sebaliknya, mudah ketakutan. 

4. Tanda-tanda penyakit Alzheimer sesuai tingkat keparahan

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi penderita Alzheimer golongan parah (pixabay.com/truthseeker08)

Berdasarkan tingkat keparahan, Alzheimer dibagi menjadi tiga golongan, yaitu ringan, sedang, dan parah. Penderita dengan gejala umum tergolong dalam kategori rendah dan termasuk kasus yang paling sering ditemukan.

Penderita dengan golongan Alzheimer sedang ditandai dengan kesulitan mengenali anggota keluarga. Mereka juga dapat mengalami halusinasi, delusi, atau paranoia.

Penyakit Alzheimer tergolong parah ditandai dengan penderita tidak mampu berkomunikasi. Otot yang melemah akibat kematian sel saraf pada otak menyebabkan penderita menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur.

5. Bagaimana cara mengobati penyakit Alzheimer?

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi menyusun puzzle (freepik.com/freepik)

Sayangnya, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan dilakukan hanya untuk mengurangi gejala yang ditimbulkan secara sementara. Beberapa obat yang diberikan untuk menangani gejala Alzheimer adalah donepezil, rivastigmine, dan galantamine. Mereka bekerja dengan cara meregulasi neurotransmitter, zat kimia yang berfungsi menghantarkan pesan antarsel saraf.

Selain pemberian obat, terdapat pula beberapa terapi yang dapat membantu penderita Alzheimer menjalani hidup dengan baik. Contohnya adalah cognitive stimulation therapy (CST) dan rehabilitasi kognitif.

CST adalah terapi berkelompok untuk mengasah otak dan kemampuan pemecahan masalah. Sementara itu, rehabilitasi kognitif adalah terapi dengan seorang profesional untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, melatih kebiasaan penggunaan handphone.

6. Cara mencegah penyakit Alzheimer

7 Fakta Alzheimer, Penyakit Degeneratif yang Sering Dapat Stigma Burukilustrasi bersepeda (pixabay.com/Mabel Amber)

Gaya hidup yang sehat adalah salah satu kunci untuk mencegah berbagai penyakit. Salah satunya adalah Alzheimer. Nah, pola makan yang baik dengan empat sehat lima sempurna harus diterapkan agar kebutuhan nutrisi tubuh tercukupi. Pola makan yang lebih ketat ditujukan untuk penderita diabetes atau obesitas. Sebaiknya, dikonsultasikan dengan ahli gizi terlebih dahulu, ya!

Olahraga yang teratur di pagi hari dapat membuat tubuh lebih bugar. Aktivitas ini bertujuan mengimbangi pola makan yang diterapkan. Olahraga dengan aktivitas aerobik seperti bersepeda atau berjalan cepat sangat disarankan. Jalan di sore hari dapat dilakukan sebagai alternatif dari olahraga dengan intensitas tinggi.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga berperan penting dalam mencegah penyakit Alzheimer. Kebahagiaan di masa tua berperan pada kestabilan suasana hati para lansia. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara melakukan kegiatan yang menyenangkan, seperti membaca, bermain alat musik, atau mencoba sesuatu hal yang baru. Para lansia pun memiliki waktu yang produktif sehingga terhindar dari stres. 

7. Tak ada salahnya untuk bergabung dengan komunitas Alzheimer

Salah satu bentuk kepedulian terhadap penderita Alzheimer ditandai dengan berdirinya komunitas, salah satunya yang ada di Indonesia adalah ALZI. Bergabung dengan sebuah komunitas cukup disarankan bagi para penderita, keluarga, dan caregiver. Dengan begitu, kita bisa saling dukung dan berbagi ilmu tentang penyakit tersebut. 

Dukungan dari keluarga dan orang-orang sekitar berperan penting bagi kesejahteraan penderita Alzheimer. Oleh karena itu, mari, kita tingkatkan kepedulian terhadap penderita dan keluarga yang terdampak. Mulai sekarang, stop menyebarkan stigma negatif akan penyakit tersebut. 

Baca Juga: 7 Tahapan Penyakit Alzheimer, Penyebab Ayah Bill Gates Meninggal

Zhafira Diva Photo Writer Zhafira Diva

Boba milk-tea lover!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Izza Namira

Berita Terkini Lainnya