Comscore Tracker

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Paham

Jangan berprasangka buruk dulu

HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit mematikan dan para pengidapnya banyak dijauhi oleh orang-orang sekitarnya. Tapi, sebanyak apa kasusnya di Indonesia? Melansir data Pusdatin Kemkes, jumlahnya ada 50.282 kasus HIV dan ada 7.036 kasus AIDS pada 2019.

Sayangnya, sebesar rasa takut orang-orang terhadap penyakit dan pasiennya, sebesar itu pula kesalahpahaman masyarakat terhadap HIV/AIDS. Melansir laman Drugs, inilah stereotip yang harus sama-sama kita patahkan untuk saling melindungi dari HIV/AIDS.

1. Mengidap HIV dan AIDS sama dengan hukuman mati 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi sedih (unsplash.com/Claudia Wolff)

Tidak benar, karena pada tahun 2016, sebuah studi epidemiologi dari Harvard Medical School, menyatakan angka harapan hidup orang dengan HIV/AIDS bisa mencapai sekitar 78 tahun. Datanya berdasarkan pasien yang didiagnosis HIV-positif di usia dua puluhan, melansir laman The Body Pro.

Ini menunjukkan walau belum ada obat untuk HIV/AIDS, tetapi penyakitnya sendiri dapat dikelola dengan baik.

2. HIV dan AIDS adalah penyakit yang sama 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah PahamHIV, virus Aids (berwarna kuning) yang menginfeksi sel. (unsplash.com/National Cancer Institute)

Tidak sama, karena HIV adalah virus yang menginfeksi dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Sedangkan AIDS adalah penyakit yang berkembang pada orang dengan HIV yang tidak diobati atau tidak menanggapi pengobatan.

Untuk alasan yang tidak diketahui, beberapa orang yang dites positif HIV tidak berkembang menjadi AIDS, meskipun tidak pernah menjalani pengobatan. Orang-orang ini dikenal sebagai nonprogressors jangka panjang (orang dengan perjalanan penyakit yang sangat lambat).

Melansir laman NIH HIV Info, infeksi HIV memiliki beberapa stadium:

  1. infeksi HIV akut
  2. Infeksi HIV kronis
  3. AIDS

Jadi, AIDS adalah stadium ketiga dari infeksi HIV.

3. HIV dan AIDS hanya menular pada pria gay 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi pria gay (unsplash.com/Honey Fangs)

Bukan begitu konsepnya, karena HIV ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh, khususnya air mani, cairan vagina, ASI, darah atau cairan pra-ejakulasi. Artinya, siapa pun yang bersentuhan dengan cairan ini berpotensi tertular virus, meskipun, pria yang berhubungan seks dengan pria berada pada risiko terbesar.

Jadi, HIV tidak dapat menyebar melalui kontak fisik, kecuali kamu memiliki luka terbuka yang bersentuhan dengan cairan tubuh orang HIV-positif. Cairan tubuh lainnya seperti air liur, keringat, dan air mata tidak dapat menularkan HIV.

HIV pun tidak dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk atau dudukan toilet.

4. Tidak mungkin mendapat HIV dari tato atau tindik tubuh 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi menato (unsplash.com/Kristian Angelo)

Salah lagi, karena kamu dapat tertular HIV dari alat tato atau tindik yang belum disterilkan dengan benar dan yang memiliki sisa darah dari orang HIV-positif.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan bahwa jarum, tinta, dan persediaan lain yang bisa digunakan hanyalah persediaan yang baru. Jadi, sebelum kamu membuat tato atau menindik tubuh, coba cari tahu kebijakan apa yang dimiliki studio tato dan tindik tersebut untuk mencegah infeksi.

Baca Juga: Mengenal 4 Tahap Infeksi pada Anak-anak dengan HIV/AIDS

5. Aman untuk berhubungan seks, jika pasangan dites negatif HIV

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi tidur bersama (unsplash.com/Womanizer Toys)

Salah lagi, karena beberapa orang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan yang lain untuk menghasilkan respon antibodi terhadap HIV. Meskipun tes HIV generasi ke-4 dan ke-5 mendeteksi 95 persen infeksi 4 minggu setelah pajanan (kontak antara virus dan manusia), untuk memastikan sepenuhnya, hasil negatif harus dikonfirmasi dengan tes kedua 3 bulan setelah pajanan HIV.

Saat itu pasangan kamu juga harus menghindari aktivitas seksual yang berisiko. Jika hasil tes kedua juga negatif, orang tersebut dianggap bebas HIV dan dapat berhubungan seks tanpa menyebarkan HIV.

6. Pasien HIV-positif yang menerima pengobatan antiretroviral tidak akan menyebarkan virus 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi mengonsumsi obat (unsplash.com/Altin Ferreira)

Pernyataan ini dikatakan benar jika orang tersebut meminum obat HIV mereka persis seperti yang diresepkan, setiap hari. Pada orang dengan HIV yang mencapai viral load (jumlah virus) tidak terdeteksi, secara efektif tidak ada risiko menularkan HIV secara seksual kepada pasangannya yang HIV-negatif.

Profilaksis pra pajanan (atau PrPP) adalah obat untuk melindungi orang tanpa HIV yang terpajan secara teratur (seperti pasangan dari orang yang memiliki HIV). Ketika digunakan secara konsisten, PrPP mengurangi risiko tertular HIV dari hubungan seks sekitar 99 persen, dan risiko tertular dari jarum suntik sekitar 70 persen.

Ada juga kombinasi obat-obatan yang disebut Post-Paparan Profilaksis (PEP) dan harus dimulai dalam waktu 72 jam setelah seseorang diduga terpapar HIV, agar tak ikut tertular. Contohnya, pada pada wanita yang sedang hamil atau berisiko hamil. PEP dapat menurunkan risiko infeksi HIV hingga 80 persen jika dikonsumsi persis seperti yang ditentukan.

Jadi, hingga saat ini tidak ada obat yang 100 persen efektif mencegah penyebaran HIV.

7. Ibu hamil dengan HIV-positif, bayinya akan lahir dengan HIV 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi ibu hamil (unsplash.com/Mel Elías)

Salah, karena jika ibu hamil mendapatkan pengobatan untuk HIV di awal kehamilannya atau melanjutkan aturan pengobatan, maka risiko untuk menularkan virus ke bayinya hanya sekitar 2 persen. Kalau tanpa pengobatan, risikonya menjadi sekitar 25 persen.

Itulah kenapa semua perempuan hamil harusnya melakukan pendeteksian dini HIV. Kalau positif, dokter akan cepat bertindak dan menentukan kombinasi obat yang terbaik selama kehamilan. Dan ibu hamil pun akan teredukasi untuk tidak menyusui bayinya, karena virus juga dapat ditularkan melalui ASI.

8. Jika sama-sama terkena HIV sudah tidak perlu menggunakan kondom 

Membongkar 8 Stereotip HIV dan AIDS agar Tak Salah Pahamilustrasi pemakaian kondom (unsplash.com/Dainis Graveris)

Salah lagi, karena 2 orang yang berbeda mungkin memiliki jenis strain HIV yang berbeda pula. Melansir laman Healthline, ketika virus memasuki sel inang, ia mulai memperbanyak dirinya sendiri. Namun, banyak virus yang membuat salinan baru dari materi genetik mereka, dan mutasi terjadi. Ketika virus bermutasi, varian virus yang berbeda dapat dihasilkan. Varian ini lah yang disebut sebagai strain virus.

Varian yang banyak ini lah yang membuat pengobatan jauh lebih sulit, terutama jika seseorang terinfeksi dengan jenis yang lebih ganas dan resisten terhadap obat HIV. Maka penting untuk selalu mempraktikkan seks yang aman dan menggunakan kondom, untuk saling melindungi pasangan yang lebih rentan.

Dengan stereotip yang simpang siur tentang HIV/AIDS, sudah saatnya kita mencari fakta dan bukannya percaya dengan kabar yang menyimpang. Cara seseorang terjangkit HIV pun ada banyak, jadi sangat tidak tepat jika langsung menuduh bahwa mereka melakukan hal tak senonoh. Karena setiap manusia berhak untuk hidup, maka yang sakit pun berhak mendapatkan kesempatan untuk mencapai kesehatan dan kualitas hidup yang optimal. 

Baca Juga: Kurangnya Perhatian pada Perempuan Korban Kekerasan dengan HIV/AIDS

Cynthia Dasmir Photo Verified Writer Cynthia Dasmir

Ravenclaw~

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya