Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Merupakan bentuk fobia yang paling umum

Acrophobia digambarkan sebagai ketakutan yang intens terhadap ketinggian hingga menyebabkan kecemasan dan kepanikan yang dahsyat. Acrophobia juga diperkirakan merupakan salah satu bentuk fobia yang paling umum.

Bagi individu yang memiliki acrophobia, hanya membayangkan atau melihat foto tempat yang tinggi saja sudah bisa memicu ketakutan dan kecemasan. Hal ini tentu saja berpotensi mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Di bawah ini kamu akan diajak mengetahui lebih lanjut tentang acrophobia. Simak informasinya yang dikumpulkan dari laman Cleveland Clinic dan Healthline.

1. Gejala

Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi merasa cemas saat berada di tempat yang tinggi (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Gejala utama acrophobia adalah rasa cemas dan takut yang ekstrem saat berada di ketinggian. Beberapa orang dengan acrophobia takut akan ketinggian yang signifikan, sementara yang lain juga merasa takut pada ketinggian yang relatif pendek.

Gejala psikologis

  • Merasa sangat takut dan cemas saat berada di tempat yang tinggi. Kadang juga merasa cemas dan takut hanya dengan memikirkannya.
  • Takut terjadi hal negatif di tempat yang tinggi, seperti jatuh atau terjebak.
  • Memiliki keinginan yang kuat untuk melarikan diri saat berada di tempat yang tinggi.

Gejala fisik

  • Detak jantung menjadi lebih cepat saat memikirkan atau melihat tempat yang tinggi.
  • Merasa pusing saat membayangkan atau melihat ketinggian.
  • Mual.
  • Gemetaran.
  • Sesak napas.

2. Penyebab

Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi terjatuh (pixabay.com/doctor-a)

Terkadang, seseorang mengembangkan acrophobia karena memiliki pengalaman traumatis yang melibatkan ketinggian, seperti:

  • Jatuh dari tempat tinggi.
  • Melihat orang jatuh dari tempat tinggi.
  • Panik atau memiliki pengalaman negatif lainnya saat berada di tempat tinggi.

Akan tetapi, acrophobia juga bisa berkembang tanpa penyebab yang jelas. Genetika atau faktor lingkungan dipercaya mungkin berperan dalam hal ini.

Teori navigasi berevolusi

Teori ini menjelaskan bahwa proses manusia tertentu, seperti persepsi ketinggian, beradaptasi lewat seleksi alam. Memandang sesuatu lebih tinggi dari yang sebenarnya dapat mengurangi risiko jatuh yang berbahaya, yang meningkatkan kemungkinan individu untuk tetap hidup.

Baca Juga: Autophobia, Takut Berlebihan atau Fobia terhadap Kesendirian

3. Diagnosis

Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi konsultasi dokter (pexels.com/cottonbro)

Acrophobia didiagnosis melalui pertanyaan yang detail tentang riwayat, pengalaman, dan gejala yang dimiliki seseorang. Untuk didiagnosis dengan acrophobia, umumnya seseorang harus mengalami ketakutan dan kecemasan terhadap ketinggian selama setidaknya enam bulan terus-menerus.

Secara umum, ada empat kriteria untuk mendiagnosis fobia, yang mencakup:

  • Rasa takut yang ekstrem dan tidak masuk akal.
  • Kecemasan antisipatif. Orang yang memiliki fobia takut memikirkan situasi masa depan yang akan melibatkan objek atau situasi yang mereka takuti.
  • Penghindaran. Orang yang memiliki fobia cenderung menghindari objek atau situasi yang ditakuti.
  • Mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk didiagnosis sebagai fobia, ketakutan yang dirasakan harus menyebabkan terganggunya kehidupan sehari-hari.

4. Pengobatan

Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi terapi (pexels.com/cottonbro)

Fobia tidak selalu harus diobati. Menghindari objek yang ditakuti sudah cukup membantu bagi banyak pemilik fobia. Namun, bagi individu yang ingin mengatasinya, beberapa perawatan dapat membantu. Perawatan tersebut meliputi:

  • Terapi paparan atau eksposur: terapi ini melibatkan mengekspos diri pasien secara perlahan pada apa yang di takuti.
  • Terapi perilaku kognitif: pada terapi ini, pasien akan bekerja dengan terapis untuk menantang dan membingkai ulang pemikiran negatif tentang apa yang ditakuti.
  • Pengobatan: beberapa obat dapat membantu mengatasi gejala panik dan kecemasan, seperti beta-blocker, benzodiazepin, dan D-sikloserin .
  • Virtual reality: pengalaman virtual reality dapat memberikan paparan terhadap objek fobia dalam pengaturan yang aman.

5. Risiko

Acrophobia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi perempuan merasa panik (unsplash.com/Priscilla Du Preez)

Bahaya terbesar dari acrophobia dan banyak fobia lainnya adalah risiko membatasi hidup dan aktivitas. Kepanikan yang ditimbulkan akibat acrophobia dapat membuat individu melakukan tindakan yang tidak aman.

Sangat penting bagi orang dengan acrophobia agar kondisinya ditangani secara profesional secepat mungkin. Ini utamanya jika ketinggian adalah bagian rutin dari hidup, misalnya jika kamu bekerja di lantai atas.

Acrophobia merupakan salah satu fobia yang paling umum. Jika kamu mendapati dirimu cenderung menghindari ketinggian atau menghabiskan banyak waktu untuk mengkhawatirkan cara menghindarinya, mungkin ada baiknya menghubungi terapis. Bekerja sama dengan terapis memungkinkan kamu mengatasi rasa takut agar tidak memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: 5 Fakta Ablutophobia, Fobia Takut Mandi dan Membersihkan Diri

Topik:

  • Nurulia
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya