Comscore Tracker

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Membuat pengidapnya selalu berusaha menghindari cermin

Coba ingat-ingat, berapa kali kamu melihat cermin setiap harinya? Kita bisa bercermin berkali-kali sepanjang hari, seperti saat merias wajah, cek penampilan, memastikan pakaian yang kita kenakan sudah rapi, atau berlatih berbicara. Bahkan, tak sedikit yang memang hobi menatap wajahnya di cermin.

Meskipun kerap dianggap sebagai salah satu benda penting dan sangat bermanfaat, tetapi cermin juga dapat menjadi objek ketakutan pada beberapa orang. Ya, pada kenyataannya, ada orang yang tidak bisa menggunakan cermin karena takut melihat pantulan dirinya dalam cermin. Kondisi ini disebut eisoptrophobia, yaitu fobia langka yang membuat penderitanya merasakan ketakutan yang irasional terhadap cermin.

Untuk membantu kamu memahami lebih dalam seputar eisoptrophobia, di bawah ini akan dibahas informasi yang lebih detail yang telah dirangkum dari laman Healthgrades dan Psych Times.

1. Apa itu eisoptrophobia?

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi ketakutan melihat cermin (pexels.com/Alex Green)

Eisoptrophobia adalah kondisi ketakutan terhadap cermin yang irasional. Orang yang mengalami fobia ini mungkin merasakan kecemasan yang ekstrem saat melihat cermin. Dalam beberapa kasus, mereka mungkin sebenarnya menyadari bahwa takut pada cermin bukanlah sikap yang rasional.

Akibatnya, pengidap eisoptrophobia mungkin tidak memiliki cermin di rumah dan kesulitan dalam mengemudi, mengingat fakta bahwa pada kendaraan terdapat beberapa cermin demi alasan keamanan.

Intensitas dan gejala spesifik eisoptrophobia bervariasi dari orang ke orang, tetapi pengidap fobia ini pasti akan mengalami serangan kecemasan yang intens saat melihat cermin.

2. Gejala eisoptrophobia

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi ketakutan melihat cermin (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Seperti fobia sederhana lainnya, eisoptrophobia menunjukkan gejala yang bersifat fisik dan psikologis. Gejala fobia fisik adalah hasil dari perubahan fisiologis dalam menanggapi ketakutan atau bahaya. Gejala eisoptrophobia fisik yang umum meliputi:

  • Dada sesak atau sesak napas
  • Pusing, merasa pusing atau pingsan, atau pingsan
  • Mual
  • Berkeringat
  • Gemetar

Sementara itu, gejala eisoptrophobia dari sisi psikologis yang umum meliputi:

  • Selalu berusaha menghindari cermin dan permukaan reflektif lainnya
  • Merasa khawatir saat harus melihat ke cermin
  • Merasa bersalah atau malu karena takut pada cermin
  • Merasa tertekan, panik, atau ingin melarikan diri saat melihat ke cermin atau permukaan reflektif lainnya
  • Mengakui bahwa ketakutan pada cermin itu tidak rasional

Pada anak-anak yang menderita eisoptrophobia, mereka mungkin tidak dapat mengekspresikan kecemasannya. Mereka mungkin bereaksi terhadap cermin dengan menangis atau mengamuk.

Baca Juga: 5 Fobia yang Mengganggu Kesehatan Mental, Jangan Diabaikan!

3. Penyebab eisoptrophobia

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi anak kecil sedang bercermin (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tidak diketahui dengan jelas penyebab dari eisoptrophobia. Namun, genetika dan lingkungan mungkin memainkan peran penting. Individu yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental, utamanya kecemasan dan fobia memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan eisoptrophobia.

Selain genetika, lingkungan juga memainkan peran besar membuat seseorang mengembangkan eisoptrophobia. Ketakutan ini bisa terjadi sebagai respons terhadap sejumlah faktor, seperti takhayul, citra diri yang buruk, atau akibat dari peristiwa traumatis.

Penyebab lain dari eisoptrophobia adalah bahwa individu mungkin sudah menderita gangguan kecemasan sebelumnya, seperti gangguan kecemasan umum atau gangguan obsesif kompulsif. Jika ini masalahnya, maka mungkin individu cenderung memusatkan ketakutan mereka pada area tertentu, seperti cermin.

5. Diagnosis

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi konsultasi dengan psikolog atau psikiater (freepik.com/Racool_studio)

Fobia tertentu dapat didiagnosis oleh profesional kesehatan dengan merujuk pada panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5). Buku ini merinci kriteria diagnostik spesifik yang harus dipenuhi untuk menerima diagnosis.

Dokter mungkin akan meminta pasien untuk menggambarkan gejala, intensitasnya, dan frekuensinya. Pasien juga akan diminta untuk menilai ketakutan atau kecemasannya dalam skala, dengan tujuan untuk lebih memahami pengalaman pasien.

Selama proses diagnostik, dokter juga akan mengesampingkan kondisi lain dan mungkin dapat mendiagnosis pasien dengan kondisi yang terjadi bersamaan. Dengan meluangkan waktu untuk memahami sepenuhnya lingkup gejala pasien, dokter dapat menawarkan perawatan dan/atau rujukan terbaik. 

5. Pengobatan eisoptrophobia

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi berkonsultasi dengan psikolog (pexels.com/cottonbro)

Tidak ada bentuk perawatan yang dibuat khusus untuk eisoptrophobia. Namun, terapi bicara, terapi eksposur, dan obat-obatan mungkin dapat mengurangi gejala yang terkait dengan eisoptrophobia secara signifikan.

Berikut adalah beberapa perawatan eisoptrophobia yang paling efektif:

  • Mindfulness-based stress reduction (MBSR): MBSR menawarkan pelatihan kesadaran untuk membantu orang yang mengalami masalah dengan kecemasan, stres, depresi, dan kondisi mental lainnya. MBSR diyakini dapat secara signifikan membantu mengatasi gejala eisoptrophobia karena meditasi kesadaran telah terbukti sangat bermanfaat bagi orang yang cemas.

  • Cognitive behavioral therapy (CBT): CBT adalah intervensi psikososial yang digunakan untuk meningkatkan kesehatan mental. Seseorang dengan eisoptrophobia mungkin dapat memperoleh manfaat dari CBT serta menyadari betapa irasionalnya ketakutan mereka.

  • Obat-obatan: perawatan eisoptrophobia mungkin melibatkan obat-obatan yang sangat berguna untuk membantu mencegah serangan panik yang kerap dialami orang dengan eisoptrophobia.

  • Teknik meditasi: ada banyak bentuk meditasi yang bisa sangat bermanfaat bagi seseorang yang menderita eisoptrophobia. Pada dasarnya, meditasi dapat membantu seseorang memasuki keadaan yang lebih seimbang, yang mungkin bermanfaat bagi pengidap eisoptrophobia untuk mengendalikan ketakutannya.

  • Kurangi konsumsi kafein: konsumsi kafein dalam jumlah besar dapat memicu atau memperparah kecemasan. Ini karena kafein memengaruhi fisiologi tubuh.

  • Dialectical behavior therapy (DBT): DBT adalah bentuk pengobatan yang sangat efektif untuk orang-orang dengan masalah regulasi emosi. Terapi ini kerap dipilih untuk merawat individu dengan masalah gangguan kepribadian ambang.

6. Eisoptrophobia dan spectrophobia

Eisoptrophobia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatanilustrasi bercermin (pexels.com/Karolina Grabowska)

Eisoptrophobia kadang disalahartikan sebagai spectrophobia. Kedua jenis fobia ini sama-sama terkait dengan ketakutan terhadap cermin, tetapi objek ketakutan keduanya sebenarnya berbeda.

Eisoptrophobia merupakan ketakutan akan refleksi seseorang di cermin, sedangkan pada spectrophobia, orang tersebut tidak takut dengan bayangannya sendiri. Mereka takut bahwa bayangan mereka yang ada di cermin mungkin berkaitan dengan takhayul. Terkadang, pengidap spectrophobia juga percaya bahwa cermin dapat menjebak jiwa mereka.

Jika kamu merasa memiliki kesan buruk terhadap cermin atau mengalami beberapa gejala eisoptrophobia (maupun spectrophobia atau fobia lainnya), kamu mungkin akan mendapat manfaat dari terapi. Jadi, jangan ragu untuk menghubungi klinik kesehatan mental untuk mendapatkan pilihan yang tersedia untuk mengatasi kondisi yang kamu alami.

Baca Juga: 7 Fobia Aneh yang Membuatmu Berpikir Dua Kali, Emangnya Ada?

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya