Comscore Tracker

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahaya

Segera cari pertolongan medis bisa mengalami gejalanya

Apendisitis atau dikenal juga sebagai penyakit usus buntu adalah kondisi peradangan pada usus buntu atau apendiks.

Apendiks adalah kantong berbentuk jari yang menonjol dari usus besar di sisi kanan bawah perut. Karena lokasinya, apendisitis mengakibatkan rasa sakit di perut kanan bawah. Namun, pada kebanyakan kasus, nyeri biasanya dimulai di sekitar pusar, kemudian menjalar. Ketika peradangan memburuk, intensitas nyeri akan meningkat dan menjadi parah.

Walau dapat menyerang semua usia, tetapi apendisitis paling sering menyerang usia 10 hingga 30 tahun. Selain itu, laki-laki lebih berisiko mengalami, begitu juga pada orang-orang dengan riwayat penyakit usus buntu dalam keluarga.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini deretan fakta medis seputar penyebab, gejala, diagnosis, dan penanganan apendisitis.

1. Usus buntu yang tersumbat adalah penyebab apendisitis

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang BerbahayaIlustrasi usus buntu atau apendisitis. myupchar.com

Dalam banyak kasus, penyebab utama apendisitis tidak diketahui. Namun, para ahli percaya bahwa apendisitis berkembang saat bagian dari usus buntu terhalang atau tersumbat. 

Ada banyak hal yang bisa berpotensi menyebabkan penyumbatan pada usus buntu, termasuk:

  • Folikel limfoid membesar
  • Tumor
  • Cedera traumatis
  • Penumpukan feses yang mengeras
  • Cacingan

Ketika usus buntu tersumbat, maka bakteri akan berkembang biak di dalamnya. Hal ini bisa mengakibatkan pembentukan nanah dan pembengkakan, yang bisa menyebabkan tekanan yang menyakitkan di perut penderitanya.

2. Apendisitis bisa bersifat akut maupun kronis

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahayafreepik.com/macrovector

Melansir Healthline, apendisitis bisa bersifat akut atau kronis. Apendisitis akut terjadi secara tiba-tiba dan kondisinya parah. Selain itu, gejalanya biasanya berkembang dengan cepat seiring berjalannya waktu satu.

Pada jenis akut, pasien harus segera mendapat perawatan medis, karena bila terlambat ditangani bisa menyebabkan usus buntu pecah. Ini dapat menjadi komplikasi serius yang bisa berakibat fatal. Apendisitis akut lebih sering terjadi dibandingkan dengan jenis kronis.

Pada apendisitis kronis, gejala yang muncul yang lebih ringan. Gejala kemungkinan menghilang sebelum muncul kembali selama beberapa minggu, bulan, atau tahun. Apendisitis kronis sulit terdeteksi. Bahkan, terkadang jenis ini tidak terdiagnosis hingga akhirnya berkembang menjadi apendisitis akut.

Baca Juga: 10 Cara Sederhana Mencegah Usus Buntu, Gak Sampai Meradang dan Operasi

3. Berbagai gejala apendisitis yang harus diwaspadai

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahayapexels.com/Sora Shimazaki

Seseorang yang mengalami radang usus buntu kemungkinan mengalami satu atau lebih dari gejala-gejala berikut ini:

  • Nyeri di perut bagian atas atau di sekitar pusar
  • Nyeri di sisi kanan bawah perut
  • Kehilangan selera makan
  • Gangguan pencernaan
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Sembelit
  • Perut bengkak
  • Ketidakmampuan untuk mengeluarkan gas
  • Demam ringan

Nyeri radang usus buntu dapat dimulai sebagai kram ringan, yang sering menjadi lebih stabil atau parah seiring berjalannya waktu. Gejala ini kemungkinan dimulai di perut bagian atas atau area pusar, sebelum berpindah ke kuadran kanan bawah perut.

Bila kamu mengalami konstipasi dan menduga jika menderita radang usus buntu, maka sebaiknya hindari minum obat pencahar atau penggunaan enema. Perawatan tersebut bisa menyebabkan usus buntu pecah.

Sebaiknya segera hubungi dokter jika mengalami nyeri tekan di sisi kanan perut dengan disertai gejala radang usus buntu lainnya. Ingat, apendisitis adalah kondisi gawat darurat medis yang bisa mengancam nyawa bila terlambat mendapat perawatan yang tepat.

4. Apendisitis bisa menyebabkan peritonitis yang bisa mengancam nyawa

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahayafreepik.com/wavebreakmedia_micro

Melansir Medical News Today, apendisitis bisa menyebabkan komplikasi serius seperti:

  • Peritonitis: jika usus buntu sampai pecah dan melepaskan infeksi ke perut, maka bisa terjadi peritonitis, yaitu infeksi dan peradangan pada peritoneum. Peritoneum merupakan selaput yang melapisi rongga perut dan menutupi sebagian besar organ perut. Peritonitis bisa menyebabkan usus berhenti, pergerakan usus akan terhenti, dan akhirnya usus tersumbat. Kondisi ini akan membuat penderitanya mengalami demam dan dapat mengalami syok. Peritonitis memerlukan perawatan sesegera mungkin.
  • Abses: jika infeksi sampai merembes keluar dari usus buntu dan bercampur dengan isi usus, maka dapat membentuk abses. Jika abses tidak segera diobati, dapat berkembang menjadi peritonitis. Terkadang abses bisa diobati dengan antibiotik. Namun, sering kali abses dikeringkan melalui pembedahan dengan bantuan tabung yang ditempatkan di perut.

Komplikasi di atas dapat mengancam nyawa. Oleh sebab itu, pasien apendisitis harus segera mencari pertolongan medis untuk mencegah kondisi penyakitnya menjadi semakin parah.

5. Diagnosis apendisitis

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahayaindependentimaging.com

Untuk membantu proses diagnosis, dokter mungkin akan mencatat semua gejala yang dialami pasien dan memeriksa perutnya. Selain itu, dokter juga akan memesan beberapa tes dan prosedur lainnya untuk mempermudah diagnosis. 

Melansir Mayo Clinic, tes dan prosedur yang akan digunakan dokter untuk mendiagnosis apendisitis, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik untuk menilai nyeri pasien: dokter kemungkinan akan menekan lembut pada area yang nyeri. Saat tekanan dilepaskan secara tiba-tiba, nyeri usus buntu akan sering terasa lebih buruk, yang menandakan bahwa peritoneum yang berdekatan meradang. Dokter juga kemungkinan mencari kekakuan perut dan kecenderungan pasien untuk membuat otot perut menjadi kaku sebagai respons terhadap tekanan pada usus buntu yang meradang. Dokter juga kemungkinan akan menggunakan jari bersarung yang dilumasi untuk memeriksa rektum bawah pasien (pemeriksaan rektal digital). Perempuan usia subur kemungkinan diberi pemeriksaan panggul untuk memeriksa kemungkinan adanya masalah ginekologi yang bisa menimbulkan nyeri.
  • Tes darah: untuk memeriksa jumlah sel darah putih yang tinggi, yang kemungkinan mengindikasikan adanya infeksi.
  • Tes urine: untuk memastikan bahwa infeksi saluran kemih atau batu ginjal bukan penyebab rasa nyeri yang dirasakan pasien.
  • Tes pencitraan: dokter mungkin juga akan merekomendasikan rontgen perut, USG perut, CT scan, atau MRI untuk membantu memastikan penyakit usus buntu atau menemukan penyebab lain dari nyeri yang dirasakan pasien.

6. Perawatan apendisitis melibatkan pembedahan

6 Fakta Apendisitis, Peradangan Usus Buntu yang Berbahayafreepik.com/peoplecreations

Apedisitis bukan kondisi yang bisa dianggap remeh, karena ada risiko usus buntu bisa pecah dan menyebabkan infeksi serius yang bisa berdampak fatal. Oleh sebab itu, pada hampir semua situasi, penyedia layanan kesehatan akan menyarankan pasien segera dioperasi untuk mengangkat usus buntunya yang mengalami peradangan.

Usus buntu atau apendiks bisa diangkat dengan menggunakan prosedur seperti:

  • Metode operasi terbuka (tradisional): pasien akan diberi anestesi dan sayatan akan dibuat di sisi kanan bawah perutnya. Setelah dokter bedah menemukan usus buntu, ia akan langsung mengeluarkannya. Jika usus buntu pecah, maka tabung kecil (pirau) bisa dipasang untuk mengeluarkan nanah dan cairan lain di perut. Pintasan akan diambil dalam beberapa hari, ketika ahli bedah merasa infeksinya telah menghilang.
  • Metode laparoskopi: Pasien akan diberi anestesi. Operasi ini menggunakan beberapa sayatan kecil dan kamera (laparoskop) untuk melihat ke dalam perut pasien. Alat bedah akan ditempatkan melalui beberapa sayatan kecil. Laparoskop dipasang melalui sayatan lain. Laparoskopi sering kali bisa dilakukan bahkan jika usus buntu pecah.

Bila usus buntu pasien tidak pecah, proses pemulihan biasanya cuma makan waktu beberapa hari. Akan tetapi, bila sampai pecah, maka waktu pemulihannya bisa lebih lama dan pasien akan memerlukan antibiotik.

Itulah deretan fakta medis seputar penyebab, gejala, diagnosis, risiko komplikasi, dan penanganan apendisitis atau radang usus buntu. Segera cari pertolongan medis bila mengalami gejala apendisitis, karena penyakit ini merupakan kondisi darurat medis. Semakin cepat ditangani, maka makin besar pula peluang kesembuhan dan terhindar dari komplikasi fatal.

Baca Juga: 7 Gejala Usus Buntu yang Terjadi dan Kenali Tanda-tandanya

Eliza ustman Photo Verified Writer Eliza ustman

'Menulislah dengan hati, maka kamu akan mendapatkan apresiasi yang lebih berarti'

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya