Comscore Tracker

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Alergi makanan dianggap sebagai salah satu penyebabnya

Esofagitis eosinofilik atau eosinophilic esophagitis adalah penyakit kronis pada kerongkongan. Kerongkongan merupakan tabung berotot yang membawa makanan dan cairan dari mulut ke perut. Pada esofagitis eosinofilik, sel darah putih yang disebut eosinofil menumpuk di lapisan dalam kerongkongan. 

Eosinofil ini melepaskan zat yang mengakibatkan peradangan. Peradangan kronis kerongkongan bisa menyebabkan gejala seperti kesulitan makan atau menelan. Dilansir Medical News Today, esofagitis eosinofilik merupakan kondisi langka yang memengaruhi sekitar 1 dari 2.000 orang. 

Namun, American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology (AAAAI) menyatakan bahwa esofagitis eosinofilik menjadi lebih umum, meski ini diduga karena peningkatan kesadaran sehingga lebih banyak yang terdiagnosis.

Esofagitis eosinofilik bisa berkembang pada anak-anak dan orang dewasa semua etnis. Pada anak-anak, kondisi ini bisa mengakibatkan masalah perkembangan, seperti pertumbuhan yang terhambat. 

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut informasi seputar esofagitis eosinofilik yang perlu kamu ketahui.

1. Penyebab

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatanilustrasi esofagitis eosinofilik (pexels.com/Karolina Grabowska)

Eosinofil merupakan jenis sel darah putih yang biasanya tidak ada di kerongkongan. Namun, pada esofagitis eosinofilik, eosinofil menumpuk di kerongkongan dan menyebabkan peradangan pada jaringan kerongkongan.

Para ahli telah memperhatikan bahwa banyak orang dengan esofagitis eosinofilik mempunyai beberapa jenis alergi. Dengan begitu, konsensusnya adalah bahwa respons imun seseorang terhadap alergen bisa mengakibatkan akumulasi eosinofil di kerongkongan.

Menurut AAAAI, respons imun abnormal terhadap makanan merupakan penyebab utama esofagitis eosinofilik. Namun, para ahli belum sepenuhnya memahami bagaimana mekanisme makanan memicu kondisi ini.

Alergen potensial lainnya yang bisa berkontribusi terhadap esofagitis eosinofilik meliputi serbuk sari, tungau debu, dan spora jamur.

Menurut keterangan dari American Partnership for Eosinophilic Disorders, gen tertentu juga bisa berperan dalam berkembangnya esofagitis eosinofilik.

Dilansir Mayo Clinic, inilah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengembangkan esofagitis eosinofilik:

  • Iklim: Seseorang yang tinggal di iklim dingin atau kering lebih mungkin didiagnosis esofagitis eosinofilik dibanding mereka yang tinggal di iklim lain. 
  • Musim: Seseorang lebih mungkin didiagnosis esofagitis eosinofilik antara musim semi dan musim gugur. Ini kemungkinan karena tingkat serbuk sari dan alergen lainnya lebih tinggi dan orang-orang cenderung berada di luar ruangan.
  • Jenis kelamin: Esofagitis eosinofilik lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan.
  • Sejarah keluarga: Para ahli menduga bahwa esofagitis eosinofilik bisa diturunkan dalam keluarga (mempunyai komponen genetik). Jika anggota keluarga ada yang menderita esofagitis eosinofilik, maka peluang untuk mengembangkan kondisi ini juga lebih besar. 
  • Alergi dan asma: Jika seseorang mempunyai alergi makanan atau lingkungan, asma, dermatitis atopik, atau penyakit pernapasan kronis, maka ia lebih mungkin didiagnosis esofagitis eosinofilik.
  • Usia: Pada awalnya, esofagitis eosinofilik dianggap sebagai penyakit masa kanak-kanak. Namun, esofagitis eosinofilik sekarang juga umum terjadi pada orang dewasa, meskipun gejalanya agak berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. 

2. Gejala

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatanilustrasi seseorang dengan disfagia (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dilansir Verywell Health, anak-anak dan orang dewasa kemungkinan mengalami gejala terkait esofagitis eosinofilik yang berbeda. Orang dewasa kemungkinan mengalami gejala berikut ini:

  • Kesulitan menelan (disfagia).
  • Impaksi makanan (makanan tersangkut sesudah tertelan). 
  • Nyeri dada mirip heartburn, yang tidak hilang dengan antasida.
  • Sakit perut bagian atas. 
  • Gejala yang tidak sembuh dengan pengobatan penyakit refluks gastroesofageal (GERD). 
  • Regurgitasi (aliran balik makanan yang tidak tercerna).

Sementara itu, gejala esofagitis eosinofilik pada anak-anak dapat meliputi: 

  • Sifat mudah marah. 
  • Masalah dengan makanan. 
  • Muntah.
  • Sakit perut. 
  • Kesulitan menelan. 
  • Rasa makanan menjadi bersarang.
  • Pertambahan berat badan dan pertumbuhan yang buruk (misalnya gagal tumbuh, malnutrisi, dan defisiensi nutrisi).
  • Tidak responsif terhadap obat GERD.

Baca Juga: Esofagitis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

3. Komplikasi yang dapat timbul

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatanilustrasi esofagitis eosinofilik (pexels.com/ROCKETMANN TEAM)

Pada beberapa orang, esofagitis eosinofilik bisa mengakibatkan hal berikut:

  • Jaringan parut dan penyempitan kerongkongan: Hal ini membuat seseorang kesulitan menelan dan kemungkinan besar makanannya akan tersangkut. 
  • Kerusakan pada kerongkongan: Karena radang kerongkongan, maka endoskopi bisa mengakibatkan perforasi atau robekan pada jaringan yang melapisi kerongkongan. Robekan juga bisa terjadi sehubungan dengan muntah yang dialami beberapa orang saat makanan tersangkut di kerongkongan.

4. Diagnosis

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatanilustrasi konsultasi dokter (pexels.com/cottonbro)

Seperti diterangkan dalam laman Johns Hopkins Medicine, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan kemungkinan ingin menguji untuk alergi.

Selain itu, dokter mungkin akan meminta endoskopi oleh ahli gastroenterologi, spesialis gangguan pencernaan (perut dan menelan). Ini adalah prosedur rawat jalan yang melibatkan memasukkan endoskopi tipis dan fleksibel dengan kamera melalui mulut dan tenggorokan untuk melihat kerongkongan Anda.

Ahli gastroenterologi akan memeriksa tanda-tanda fisik peradangan dan peningkatan jumlah eosinofil. Untuk memastikan diagnosis, ahli gastroenterologi mungkin perlu mengambil biopsi, atau sampel jaringan, dari kerongkongan.

Menambahkan dari MedlinePlus, tes lain juga bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Pasien mungkin perlu menjalani tes darah untuk memeriksa kondisi lainnya. Jika pasien menderita esofagitis eosinofilik, maka kemungkinan ia harus menjalani tes darah atau jenis tes lainnya untuk memeriksa alergi tertentu.

5. Pengobatan

Esofagitis Eosinofilik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatanilustrasi minum obat (genesisfertility.com)

Untuk saat ini, tidak ada obat untuk esofagitis eosinofilik. Namun, kombinasi antara perubahan pola makan dan perawatan medis bisa membantu mengelola peradangan dan mengurangi gejala.

Diet eliminasi bisa membantu mengidentifikasi makanan pemicu sehingga ini bisa dihindari di masa mendatang. Ada berbagai jenis diet eliminasi yang bervariasi dalam hal kenyamanan dan efektivitas. Dokter bisa merekomendasikan salah satu dari tiga diet eliminasi berikut:

  • Diet eliminasi empiris: Melibatkan menghilangkan seluruh makanan yang biasanya memengaruhi esofagitis eosinofilik. Makanan tersebut meliputi susu, telur, gandum, kedelai, ikan dan kerang.
  • Diet eliminasi yang diarahkan pada tes makanan: Melibatkan menghilangkan makanan apa pun yang sebelumnya telah menunjukkan sensitivitas seseorang selama tes tusukan kulit. Sesudah menghilangkan makanan ini dari pola makan, seseorang memantau gejalanya untuk memeriksa perbaikan apa pun. 
  • Diet unsur: Melibatkan penggunaan formula khusus untuk melengkapi atau mengganti pola makan. Formulanya mengandung kombinasi asam amino, yang memberikan nutrisi tanpa memicu esofagitis eosinofilik. Diet elemental merupakan pilihan pengobatan yang paling ekstrem, dan dokter biasanya hanya merekomendasikan untuk anak-anak. Namun, ini mungkin dibutuhkan jika pendekatan lain tidak berhasil. 

Food and Drug Administration (FDA) masih belum menyetujui obat apa pun untuk esofagitis eosinofilik. Akan tetapi, perawatan berikut bisa membantu mengelola peradangan atau meringankan gejala:

  • Inhibitor pompa proton: Obat-obatan ini membatasi produksi asam lambung. Dalam beberapa kasus, ini bisa membantu mengurangi peradangan kerongkongan.
  • Steroid topikal: Steroid merupakan obat yang membantu mengendalikan peradangan dalam tubuh. Fluticasone (Flonase) dan budesonide (Pulmicort) merupakan steroid yang bisa dihirup dari inhaler atau ditelan dalam bentuk larutan kental. Steroid bersentuhan dengan lapisan dalam kerongkongan sehingga menargetkan peradangan secara langsung. 
  • Dilatasi: Peradangan kerongkongan yang parah mengakibatkan penyempitan kerongkongan. Penyempitan ini mengakibatkan makanan kesulitan masuk ke perut. Dilatasi merupakan prosedur yang melibatkan menggembungkan balon atau tabung di dalam kerongkongan untuk membukanya.

Kebanyakan orang dengan esofagitis eosinofilik akan membutuhkan perawatan berkelanjutan. Namun, gangguan ini tidak mengakibatkan penyakit kronis lebih lanjut atau memengaruhi harapan hidup.

Esofagitis eosinofilik adalah kondisi seumur hidup. Manajemennya termasuk menghindari makanan atau alergen yang menyebabkan reaksi alergi. Diperlukan kesabaran untuk mengidentifikasi dan kemudian menghilangkan alergen dari pola makan. Namun, kualitas hidup akan meningkat seiring kemajuan rencana pengelolaan kondisi tersebut.

Baca Juga: Varises Esofagus: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan  

Eliza Ustman Photo Verified Writer Eliza Ustman

'Menulislah dengan hati, maka kamu akan mendapatkan apresiasi yang lebih berarti'

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya