Comscore Tracker

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejang

Banyak, kok, pasien yang bisa punya kehidupan bebas kejang

Epilepsi, atau awam sering menyebutnya ayan, adalah gangguan kronis pada sistem saraf pusat (neurologis) yang memengaruhi aktivitas otak. Tanda umumnya adalah kejang berulang yang bisa terjadi tanpa alasan. Bahkan, kejang yang dialami kadang dapat berujung pada pingsan atau kehilangan kesadaran.

Penyakit ini bisa dikembangkan oleh siapa pun, tetapi lebih sering terjadi pada anak kecil dan lansia. Sayangnya, hingga kini epilepsi belum bisa disembuhkan. Namun, pengobatan atau perawatan yang segera dilakukan akan sangat membantu meringankan gejalanya. Inilah beberapa perawatan epilepsi yang dilakukan kepada pasien yang mengalami kejang.

1. Perawatan dengan obat antikejang atau antiepilepsi

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi obat-obatan (unsplash.com/Adam Nieścioruk)

Dilansir Mayo Clinic, sebagian besar orang dengan epilepsi bisa bebas dari kejang dengan mengonsumsi obat antikejang, yang disebut sebagai obat antiepilepsi atau antiepileptic drugs (AED). Mengonsumsi kombinasi dari beberapa obat juga mungkin bermanfaat dalam mengurangi frekuensi dan intensitas kejang pada sebagian pasien.

Faktor frekuensi kejang, usia, dan faktor lainnya akan diperhatikan oleh dokter guna meresepkan dosis obat. Dosis obat saat pertama kali diberikan biasanya relatif rendah, dan selanjutnya meningkat secara bertahap sampai kejang dapat terkontrol dengan baik.

Meski epilepsi belum bisa disembuhkan, tetapi kebanyakan anak dengan epilepsi yang tidak lagi mengalami gejala bisa menghentikan pengobatan dan menjalani kehidupan bebas kejang. Sementara itu, pasien dewasa juga mungkin bisa menyetop pengobatan setelah 2 tahun atau lebih tidak mengalami kejang sama sekali. Untuk lebih tepatnya, dokter yang akan memberi tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan.

Walau membantu, tetapi penggunaan obat antikejang mungkin memiliki beberapa efek samping, yang mencakup:

  • Kelelahan
  • Pusing
  • Penambahan berat badan
  • Kehilangan kepadatan tulang
  • Ruam kulit
  • Kemampuan koordinasi yang memburuk
  • Masalah bicara
  • Masalah memori dan berpikir
  • Depresi
  • Pikiran dan perilaku bunuh diri
  • Ruam parah
  • Peradangan pada organ tertentu seperti hati

Obat-obatan bisa efektif untuk mengontrol kejang dengan baik dengan catatan pasien patuh dan mengikuti langkah-langkah seperti:

  • Mengonsumsi obat sesuai dengan aturan yang ditentukan.
  • Selalu menghubungi dokter terlebih dahulu bila ingin beralih ke versi generik dari obat, ingin konsumsi obat dengan resep berbeda, obat bebas, ataupun obat herbal.
  • Jangan pernah berhenti melakukan pengobatan atau konsumsi obat tanpa adanya diskusi dengan dokter.
  • Beri tahu dokter apabila mengalami perasaan depresi yang baru atau meningkat, pikiran untuk bunuh diri, atau perubahan suasana hati dan perilaku yang tidak biasa.
  • Beri tahu dokter bila mengalami migrain, sebab dokter dapat meresepkan obat antiepilepsi yang dapat mengobati epilepsi sekaligus mencegah migrain.

2. Operasi otak

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi operasi otak (brain-surgery.com)

Pada umumnya, sekitar setengah dari pasien yang baru terdiagnosis dengan epilepsi dapat bebas dari kejang dengan mengonsumsi obat antiepilepsi. Akan tetapi, bila obat tersebut tidak menunjukkan hasil yang positif, dokter mungkin menyarankan pembedahan atau terapi lain. Beberapa pasien yang telah menjalani operasi mungkin dapat mengurangi obat antikejang atau berhenti meminumnya.

Operasi yang paling umum dilakukan adalah reseksi, dilansir Healthline. Reseksi merupakan pengangkatan bagian otak yang menyebabkan kejang. Biasanya, lobus temporal adalah bagian otak yang menyebabkan kejang. Bagian otak ini bisa diangkat melalui prosedur lobektomi temporal. Pada beberapa kasus, operasi ini dapat efektif menghentikan aktivitas kejang.

Saat operasi, beberapa pasien mungkin perlu tetap dalam kondisi sadar saat prosedur medis tersebut berlangsung. Tujuannya agar dokter bisa berbicara dengan pasien dan menghindari kesalahan pengambilan otak yang mengontrol fungsi penting, seperti penglihatan, pendengaran, ucapan, atau gerakan.

Bila area otak penyebab epilepsi terlalu besar atau terlalu penting untuk diangkat, ada prosedur lain yang bisa dilakukan, yaitu multiple subpial transection atau disconnection. Ini dilakukan dengan cara membuat pemotongan di otak untuk mengganggu jalur saraf, dengan tujuan agar kejang tidak menyebar ke area lain di otak.

Sama seperti operasi apa pun, operasi pada kasus epilepsi juga punya beberapa risiko, seperti reaksi buruk terhadap anestesi, pendarahan, dan infeksi. Pembedahan otak juga berpotensi menyebabkan perubahan kognitif. Karenanya, keputusan untuk operasi harus dipertimbangkan secara matang dan didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.

3. Stimulasi saraf vagus

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi vagus nerve stimulation (VNS) atau stimulasi saraf vagus (epilepsysociety.org.uk)

Selain operasi otak, prosedur lain yang dapat dilakukan bila AED tidak memberikan hasil yang positif adalah vagus nerve stimulation (VNS) atau stimulasi saraf vagus.

VNS adalah perangkat listrik kecil mirip alat pacu jantung yang bisa ditempatkan di bawah kulit dada. Perangkat ini akan dipasangkan pada kabel di bawah kulit dan kemudian dihubungkan dengan saraf vagus di leher. Semburan listrik akan dikirimkan di sepanjang kabel ke saraf pengidap. Perangkat VNS yang ditanam di dalam tubuh biasanya dapat bertahan hingga 10 tahun, dan setelah itu diperlukan prosedur lain untuk menggantinya.

Menurut keterangan dari National Healh Service (NHS), penggunaan metode atau alat ini mungkin dapat membantu mengendalikan kejang dengan mengubah sinyal listrik di otak. Walau demikian, VNS biasanya tidak bisa menghentikan kejang sepenuhnya, tetapi tetap bisa membantu meringankan atau mengurangi frekuensi kejang. Pada prosedur ini, pasien mungkin masih memerlukan obat antikejang.

VNS juga dapat menyebabkan efek samping yang meliputi suara serak, sakit tenggorokan, dan batuk saat perangkat diaktifkan. Ini dapat terjadi setiap 5 menit dengan durasi efek samping sekitar 30 detik.

Baca Juga: 7 Fakta Biang Keringat, Jenis Ruam yang Sering Menyerang Bayi

4. Stimulasi otak dalam

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi deep brain stimulation (DBS) atau stimulasi otak dalam (ninds.nih.gov)

Deep brain stimulation (DBS) atau stimulasi otak dalam merupakan perangkat yang mirip VNS. Bedenya, perangkat yang ditanam di dada terhubung dengan kabel yang mengalir langsung ke otak.

Sama seperti VNS, perangkat DBS juga akan mengalirkan semburan listrik yang dikirim melalui kabel tersebut. Ini juga dapat membantu mencegah kejang dengan mengubah sinyal listrik di otak.

Efektivitas DBS sebenarnya belum dapat dipastikan, sebab prosedur ini terbilang cukup baru dan belum banyak digunakan untuk epilepsi. Selain itu, ada beberapa risiko serius yang mungkin terkait dengan DBS, seperti pendarahan di otak, depresi, dan masalah memori, seperti yang dijelaskan di laman NHS.

5. Diet ketogenik atau diet Atkins yang dimodifikasi

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi diet keto (freepik.com/timolina)

Diet juga mungkin dapat membantu mengurangi kejang pada pasien epilepsi. Dilansir Medical News Today, berbagai tinjauan ilmiah yang telah menunjukkan bahwa pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat dapat bermanfaat bagi anak-anak dan orang dewasa dengan epilepsi.

Berbagai penelitian menggunakan diet ketogenik, sementara beberapa lainnya menggunakan diet Atkins yang dimodifikasi. Adapun makanannya meliputi telur, bacon, alpukat, keju, kacang-kacangan, ikan, buah-buahan, dan sayuran tertentu.

Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Neurology tahun 2014 tersebut menemukan, sebanyak 32 persen dari partisipan yang melakukan diet ketogenik dan 29 persen dari mereka yang mengikuti diet Atkins yang dimodifikasi mengalami penurunan frekuensi atau keteraturan kejang sekitar 50 persen.

Walaupun terdengar menjanjikan, tetapi penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengonfirmasi efek ini.

6. Perawatan potensial lainnya

6 Perawatan Epilepsi untuk Mengurangi dan Mengendalikan Kejangilustrasi dokter membicarakan pilihan perawatan dengan pasien epilepsi (scripps.org)

Selain berbagai perawatan yang saat ini tersedia, para peneliti juga sedang mempelajari dan terus mengembangkan berbagai pengobatan baru yang berpotensi untuk mengelola epilepsi. Beberapa perawatan tersebut dapat termasuk:

  • Neurostimulasi responsif atau responsive neurostimulation (RNS): merupakan perangkat implan yang mirip alat pacu jantung. Perangkat ini dapat membantu mencegah kejang karena stimulasi responsif ini mungkin dapat menganalisis pola aktivitas otak untuk mendeteksi kejang sebelum terjadi, dan mengirimkan muatan listrik atau obat untuk menghentikan kejang.

  • Stimulasi subthreshold: merupakan stimulasi yang terus-menerus dilakukan ke area otak dengan tingkat rendah. Ini mungkin dapat mengurangi kejang dan meningkatkan kualitas hidup beberapa orang dengan kejang. Perawatan ini juga mungkin dapat bekerja pada orang-orang yang karakteristik kejangnya sulit diobati dengan pengobatan neurostimulasi responsif, atau yang sulit diobati dengan operasi otak karena bagian otak penyebab kejangnya merupakan area otak yang penting.

  • Bedah minimal invasif: teknik bedah invasif seperti ablasi laser yang dipandu MRI mungkin memiliki potensi mengurangi kejang dengan risiko lebih sedikit atau lebih ringan dibandingkan operasi otak terbuka yang biasa dilakukan untuk epilepsi.

  • Stereotactic laser ablation atau stereotactic radiosurgery: metode ini mungkin bisa efektif mengelola beberapa jenis epilepsi. Dokter akan mengarahkan radiasi ke area otak penyebab kejang dengan tujuan untuk menghancurkan jaringan otak tersebut agar kejang dapat dikendalikan dengan lebih baik.

  • Perangkat stimulasi saraf eksternal: mirip perangkat VNS, perangkat ini akan merangsang saraf tertentu untuk mengurangi frekuensi kejang. Bedanya, perangkat ini tidak ditanam di dada pasien, tetapi dilakukan secara eksternal.  

Walau epilepsi belum bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi perawatan yang segera  dilakukan setelah seseorang terdiagnosis epilepsi bisa sangat membantu meringankan gejala kejang.

Sebagian pasien mungkin bisa mengontrol gejala dengan obat antikejang atau obat antiepilepsi. Akan tetapi, sebagian lain mungkin perlu pembedahan dan prosedur lain. Beberapa orang juga dapat memerlukan perawatan seumur hidup untuk mengendalikan kejang, sementara beberapa yang lain berhasil menghilangkan gejalanya.

Untuk perawatan epilepsi dan kejang terbaik, pasien perlu mendiskusikannya bersama dokter.

Baca Juga: 6 Fakta Kram Menstruasi, Bisa Disebabkan Masalah Kesehatan Tertentu

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya