Comscore Tracker

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar 

Bila tidak ditangani, dampaknya bisa ke berbagai aspek hidup

Mungkin kamu lebih familier dengan gangguan bipolar daripada siklotimia (cyclothymia, cyclothymic disorder, atau secara tak resmi dijuluki gangguan bipolar III). Karena punya gejala yang mirip, awam bisa dengan mudah salah paham antara keduanya.

Nah, agar tidak salah kaprah, yuk, pahami lebih dalam tentang siklotimia, lengkap mulai dari penyebab, gejala, hingga penanganannya. Berikut ini ulasannya!

1. Apa itu siklotimia?

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar pixabay.com/FerGalindo980

Dilansir dari Mayo Clinic, siklotimia adalah gangguan suasana hati yang angka kejadiannya langka. Gangguan ini menyebabkan emosi naik turun, tetapi tidak seekstrem gangguan bipolar I dan II. Gejalanya lebih ringan dan kronis (berlangsung lama).

Kalau kondisi emosi naik turun, lantas apa bedanya dengan mood swing? Siklotimia dapat meningkatkan risiko perkembangan gangguan bipolar (dengan perkiraan bervariasi, yaitu 15-50 persen).

Sering terjadi pada remaja, siklotimia membuat penderitanya merasa nomal, tapi kenyataannya di mata orang lain ia terlihat murung.

Tercatat sebanyak 0,4-1 persen populasi Amerika Serikat memiliki siklotimia, dengan jumlah yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana di Indonesia? Sayangnya, datanya tidak tersedia.

2. Beragam gejala siklotimia

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar Unsplash/Ethan Sykes

Dilansir dari laman Healthline, seseorang dikatakan mengidap siklotimia jika setidaknya selama 2 tahun mengalami gejala, dan 1 tahun untuk anak-anak.

Menurut jurnal "Clinical Psychology Review" tahun 2012, gejala penderita siklotimia lebih ringan ketimbang gangguan bipolar I maupun II, dalam hal episode depresi dan hipomania (aktif dan bersemangat) tidak terlalu intens. Di antaranya kedua episode tersebut, penderita umumnya merasa normal.

Menurut buku medis "Merck Manual of Diagnosis and Therapy", gejala pada episode hipomania adalah: 

  • Sulit konsentrasi
  • Merasa lelah
  • Merasa sangat senang (euforia)
  • Tidak butuh tidur seperti durasi normal
  • Mudah tersinggung atau marah
  • Secara fisik lebih aktif
  • Tingkat kepercayaan diri yang tinggi
  • Kontrol impuls atau penilaian yang buruk
  • Lebih banyak bicara
  • Gampang teralihkan

Sedangkan pada episode depresi, gejalanya meliputi:

  • Isolasi diri
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang tadinya disenangi
  • Menangis terus-menerus
  • Perubahan pola makan atau berat badan
  • Kurang tidur atau tidur terlalu lama
  • Sulit konsentrasi
  • Merasa bersalah, tak berharga, dan putus asa
  • Merasa kelelahan
  • Pikiran untuk bunuh diri

Baca Juga: Awas, Ini 7 Tanda Kamu Terkena Gangguan Mental Akibat Media Sosial

3. Apa penyebab siklotimia?

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar pexels.com/Pixabay

Sayangnya, para peneliti masih belum dapat menemukan jawaban pastinya. Namun, diperkirakan faktor riwayat keluarga, genetik, lingkungan, dan senyawa kimia di otak bisa memengaruhi dalam perkembangan siklotimia.

Dilansir dari Psycom, ada studi yang menemukan bahwa risiko siklotimia 2-3 kali lebih tinggi pada kembar identik.

Kejadian traumatis yang menimbulkan stres dalam jangka waktu lama juga disebut-sebut dapat mengembangkan siklotimia.

4. Bentuk perawatan

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar pexels.com/Dids

Kebanyakan kasus siklotimia merupakan keadaan yang butuh perawatan seumur hidup. Tujuannya adalah untuk menekan gejala depresi dan hipomania, serta menurunkan risiko kondisi berkembang menjadi gangguan bipolar.

Selain itu, penderita juga tidak disarankan untuk minum minuman beralkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang, karena itu dapat memperburuk gejala. Mengatur pola tidur dan olahraga rutin juga dapat membantu meminimalkan gejala.

Penanganan siklotimia bisa berupa psikoterapi dan/atau obat-obatan, atau bisa juga dikombinasikan dengan terapi konsultasi, group therapy, atau pendampingan keluarga.

5. Kapan harus ke dokter?

Berkenalan dengan Siklotimia, Gangguan Suasana Hati Mirip Bipolar pexels.com/Cottonbro

Bila kamu merasa punya gejala siklotimia seperti yang dijelaskan di atas, sebaiknya cari bantuan medis seperti ahli kejiwaan atau psikiater. Karena, siklotimia umumnya tidak bisa membaik dengan sendirinya.

Jika gangguan suasana hati ini diabaikan, siklotimia bisa berdampak buruk pada hubungan keluarga, kerja, sosial, dan dengan pasangan. Tak hanya itu, gejala impulsif yang erat dengan siklotimia bisa membuat seseorang memilih pilihan hidup yang buruk, melanggar hukum, serta kesulitan finansial.

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang-orang dengan siklotimia lebih berisiko melakukan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.

Jadi, siklotimia lebih dari sekadar mood swing, yang bila tidak diatasi dengan benar dapat berujung pada gangguan bipolar yang konsekuensinya lebih serius.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila kamu merasa punya gejala siklotimia maupun gejala kondisi mental apa pun. Mereka akan dengan senang hati membantumu dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup.

Baca Juga: 7 Tanda Tak Terduga Seseorang Mengidap Bipolar yang Sering Diabaikan

Garnis Sukma Photo Verified Writer Garnis Sukma

Semoga artikelnya bermanfaat, yaa. Kurang lebihnya mohon maaf, makasii ^^

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya