Comscore Tracker

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot Kronis

Termasuk penyakit autoimun

Pergerakan tubuh kita didukung oleh saraf dan otot rangka. Bila ada masalah pada keduanya, tentunya akan memengaruhi kemampuan gerak. Salah satu gangguan pada saraf dan otot penyebab kelemahan otot adalah miastenia gravis (myasthenia gravis).

Diderita oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yuk, mengenal penyakit myasthenia gravis lebih jauh.

1. Apa itu myasthenia gravis?

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot KronisFreepik

Menurut National Organization for Rare Disorders (NORD), myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskular yang  ditandai dengan kelemahan dan kelelahan otot.

Meskipun kelainan ini biasanya terlihat pada usia dewasa (paling sering menyerang orang-orang sekitar usia paruh baya), myasthenia gravis dapat terjadi pada semua usia.

Kondisi ini mungkin terbatas pada kelompok otot tertentu, seperti pada mata (myasthenia gravis okular), atau mungkin meluas pada beberapa kelompok otot (myasthenia gravis umum).

Myasthenia gravis adalah gangguan saraf dan otot yang tergolong langka akibat kondisi autoimun. Ya, penyakit ini masuk dalam kategori penyakit autoimun, kondisi saat sistem kekebalan berbalik menyerang tubuh sendiri.

2. Termasuk dalam jenis penyakit autoimun

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot Kronislink.springer.com

Masih berdasarkan keterangan dari NORD, myasthenia gravis disebabkan oleh respons autoimun, yaitu ketika kekebalan tubuh (antibodi) menyerang reseptor di sambungan neuromuskuler.

Sambungan neuromuskuler adalah area kontak antara ujung saraf dan serat otot rangka. Ujung saraf melepaskan neurotransmiter asetilkolin yang menghantarkan impuls ke serat otot, sehingga menyebabkan kontraksi otot. Akan tetapi, pada penderita myasthenia gravis, antibodi menyerang reseptor asetilkolin pada permukaan sel otot tertentu.

Respons autoimun abnormal tersebut menurunkan jumlah reseptor asetilkolin, menyebabkan transmisi saraf pada sambungan neuromuskuler tertentu gagal dan kontraksi otot menjadi lemah.

Penyebab spesifik dari respons autoimun pada penderita myasthenia gravis masih belum diketahui pasti. Meskipun demikian, beberapa peneliti mengaitkan hal tersebut dengan kelainan pada kelenjar timus (kelenjar di bagian dada yang merupakan bagian dari sistem kekebalan).

Banyak penderita myasthenia gravis mempunyai ukuran kelenjar timus yang lebih besar daripada normal. Sekitar 1 dari 10 penderita memiliki pertumbuhan timus abnormal yang disebut timoma.

Baca Juga: Waspada, 5 Jenis Penyakit Autoimun Ini Sering Gak Disadari

3. Lebih sering menyerang perempuan

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot Kronispexels.com/Andrea Piacquadio

Berdasarkan laporan dalam jurnal "BMC Neurology", myasthenia gravis relatif jarang terjadi. Diperkirakan angka kejadiannya berkisar 5,3 per 1 juta orang per tahun, dan prevalensi rata-rata 77,7 per 1 juta orang.

Di Indonesia, data tentang myasthenia gravis belum tercatat dengan jelas.

Menurut buku "Essentials of Neurology", myasthenia gravis lebih sering terjadi pada perempuan, khususnya pada usia dewasa muda. Sementara itu, pada laki-laki biasanya terjadi di usia di atas 50 tahun. Perbandingan angka kejadian myasthenia gravis pada perempuan dan laki-laki adalah 2:1. 

4. Kelopak mata turun menjadi salah satu gejalanya

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot Kronisjmedicalcasereports.biomedcentral.com

Myasthenia gravis menyebabkan kelemahan otot yang biasanya di waktu tertentu membaik, tapi di lain waktu bisa memburuk. Kondisi ini sering memengaruhi mata dan wajah terlebih dulu. Namun, seiring berjalannya waktu, bisa menyebar ke bagian tubuh lain.

Pada beberapa pasien, kemunculan gejala bisa dipicu beberapa faktor, seperti stres, infeksi, dan konsumsi obat-obatan tertentu.

Dilansir dari National Health Service Inggris, gejala myasthenia gravis antara lain:

  • Pada mata bisa menyebabkan kelopak mata turun (bisa memengaruhi satu atau kedua mata), penglihatan ganda, dan sulit membuat ekspresi wajah.
  • Gangguan saat menelan, bicara, dan bernapas. Bila menyerang otot di mulut, tenggorokan, dan dada, bisa menyebabkan kesulitan mengunyah makanan, bicara cadel, suara parau atau sengau, sulit menelan, tersedak dan tak sengaja menghidup makanan yang bisa menyebabkan infeksi dada, dan sesak napas khususnya saat berbaring atau setelah olahraga. Beberapa penderita mengalami kesulitan bernapas yang parah yang disebut sebagai myasthenia crisis. Kondisi ini butuh pertolongan medis segera.
  • Gejala pada anggota tubuh bisa terjadi di leher, tangan, dan kaki, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mengangkat kepala, kesulitan dalam melakukan tugas fisik (seperti mengangkat barang, bangun dari duduk untuk berdiri, naik tangga, menggosok gigi, atau keramas), goyah saat berjalan, nyeri otot setelah menggunakannya, dan kelemahan otot cenderung dirasakan lebih buruk di tubuh bagian atas.

5. Bagaimana dokter mendiagnosis dan menanganinya?

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot KronisFreepik

Proses diagnosis myasthenia gravis tergolong sulit. Diagnosis dilakukan berdasarkan evaluasi klinis menyeluruh, deteksi gejala khas dan temuan fisik, riwayat pasien secara terperinci, dan berbagai tes khusus.

Diagnosis dicurigai berdasarkan distribusi karakteristik kelemahan otot dan kelelahan tanpa adanya gangguan fungsi neurologis lainnya. Beberapa pemeriksaan khusus yang dilakukan seperti tes edrophonium atau tensilon, ice pack test, dan rest test.

Penanganan myasthenia gravis dilakukan bukan untuk menghilangkan penyakit, tetapi lebih pada mengontrol gejala agar pasien bisa beraktivitas normal.

Berdasarkan jurnal "Expert Review of Clinical Immunology", dokter saraf akan memberi tablet piridostigmin untuk membantu impuls berjalan antara saraf dan otot. Obat ini dapat mengurangi kelemahan otot. Namun, karena efeknya hanya berlangsung selama beberapa jam, pasien harus meminumnya beberapa kali sehari.

6. Bagaimana jika ada teman atau kerabat yang terdiagnosis myasthenia gravis?

6 Hal Penting tentang Myasthenia Gravis, Penyebab Lemah Otot Kronisunsplash.com/Markus Spiske

Hidup dengan penyakit autoimun seperti myasthenia gravis bisa terasa sulit. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membantu dan mendukung pasien agar kualitas hidupnya tetap optimal.

Dikutip dari situs organisasi Myaware, ada beberapa hal yang bisa lakukan bila ada teman atau kerabat yang terdiagnosis penyakit autoimun tersebut, yaitu:

  • Beri mereka kesempatan untuk beristirahat agar mampu memulihkan tenaga.
  • Jangan membuat mereka mengantre, karena itu bisa membuat mreka lelah dan memperparah kondisi.
  • Jangan terlalu membatasi aktivitas. Pasien tetap lebih tahu batas kemampuan fisiknya. Beri pertolongan secukupnya dan jika dirasa perlu saja.
  • Ketahuilah bahwa mata yang terkulai, juling, ucapan yang tidak jelas, dan volume suara yang kecil bisa membuat mereka diejek. Terus beri dukungan kepada mereka dan bantu tingkatkan kesadaran akan penyakit ini ke orang-orang di sekitarnya.
  • Bantu pasien agar selalu minum obat tepat waktu.
  • Bila perlu, ajak pasien untuk bergabung pada komunitas sesama penderita myasthenia gravis bila ada.

Selain itu, untuk mencegah kekambuhan atau perburukan gejala, pastikan untuk:

  • Cegah infeksi dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
  • Tidak melakukan aktivitas berat dan berlebihan.
  • Jaga suhu tubuh agar tidak terlalu dingin atau panas.
  • Kelola stres dengan baik, misalnya dengan meditasi, yoga, atau melakukan hobi.

Itulah beberapa hal yang perlu kamu tahu tentang myasthenia gravis. Walaupun tergolong langka, tetapi penyakit autoimun ini tetap perlu diwaspadai. Bila mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas tadi, segera cek ke dokter agar bisa diketahui penyebabnya.

Baca Juga: 7 Jenis Penyakit Autoimun yang Paling Umum, Sering Menyerang Wanita

Indira swastika utama Photo Verified Writer Indira swastika utama

An ISTJ-T. A medical student who love write :)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya