Comscore Tracker

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!

Ingat, PPOK belum bisa disembuhkan secara total

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) ditandai adanya perlambatan aliran udara bersifat progresif dan kronis. Kondisi ini diyakini terjadi akibat respons peradangan saluran udara yang abnormal terhadap partikel atau gas iritan yang terkandung pada udara napas.

PPOK menyebabkan penderitanya merasakan sesak napas dan batuk menahun. Tentu saja ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup seseorang. Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat atau terapi yang mampu menyembuhkan PPOK secara total. Oleh karena itu, mencegah sebelum penyakit menyerang adalah satu-satunya cara supaya bisa terbebas dari penyakit paru-paru ini. 

Nah, berikut ini adalah hal-hal yang perlu dihindari karena dapat menyebabkan PPOK. Hindari sejak muda, ya!

1. Merokok

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!ilustrasi rokok (pexels.com/Basil MK)

Merokok adalah pemicu utama banyak penyakit pernapasan, termasuk PPOK. Menurut American Lung Association (ALA), sekitar 85-90 persen dari semua kasus PPOK disebabkan oleh merokok.

Sebatang rokok yang dibakar mampu melepas lebih dari 7.000 bahan kimia, yang mana banyak zat kandungannya yang berbahaya. 

Racun dalam asap rokok melemahkan pertahanan paru-paru terhadap infeksi, mempersempit saluran udara, menyebabkan pembengkakan di saluran udara, dan menghancurkan kantung udara. Hal ini berkontribusi dalam menyebabkan PPOK.

Lebih parahnya lagi, risiko ini tidak hanya dialami perokok aktif. Orang-orang yang menghirup asap rokok namun bukan perokok (perokok pasif) juga berisiko tinggi mengembangkan PPOK. Oleh karena itu, berhenti merokok tidak hanya baik untuk kesehatan diri sendi, tetapi juga untuk melindungi orang-orang terdekat kita.

2. Kebiasaan minum alkohol

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!ilustrasi minuman beralkohol (pexel.com/Pavel Danilyuk)

Selain merokok, kebiasaan minum minuman beralkohol juga dapat memicu PPOK. Mengutip Healthline, minum alkohol dalam jumlah besar dan waktu lama akan mengurangi kadar glutation. Padahal, glutation membantu melindungi paru-paru dari kerusakan akibat asap atau iritan di udara.

Selain itu, alkohol juga mencegah paru-paru menjaga jalan napas yang sehat. Sistem transportasi mukosiliar bekerja terus-menerus untuk membersihkan lendir dan benda asing dari saluran napas.

Saat kamu minum alkohol dalam jumlah banyak, sistem transportasi mukosiliar di saluran napas tidak bekerja secara sempurna. Hal ini menyebabkan lendir dan benda asing di saluran napas tidak dapat keluar serta dapat menimbulkan radang.

3. Terpapar polusi udara di tempat kerja

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!ilustrasi paparan asap di tempat kerja (pexel.com/THIS IS ZUN)

Paparan polusi udara maupun debu di tempat kerja diyakini dapat meningkatkan risiko PPOK. Berdasarkan laporan dalam Journal of Occupational Medicine and Toxicology, tercatat sebanyak 20 persen pekerja yang terpapar debu atau polusi berisiko mengembangkan PPOK.

Zat berbahaya yang kerap ditemui di tempat kerja contohnya adalah sulfur dioksida, debu mineral, vanadium, endotoksin, kadmium, batu bara, hasil pembakaran, dan silika.

Paparan terhadap zat-zat tersebut dapat menurunkan kadar alpha-1 antitrypsin, yang berfungsi mencegah kerusakan alveoli (rongga pertukaran gas) di paru-paru.

Menurunnyaalpha-1 antitrypsin memicu pelepasan sel radang yang mengakibatkan inflamasi pada sel-sel paru. Selain itu, akumulasi dari debu atau polusi udara di saluran napas akan menghambat sistem pembersihan lendir yang menyebabkan penumpukan dahak. Oleh karena itu, menggunakan masker ketika bekerja di tempat berdebu atau berasap dapat membantu mencegah PPOK.

Baca Juga: Emfisema: Gejala, Penyebab, Komplikasi, Diagnosis, Pengobatan

4. Pola makan tidak sehat

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!ilustrasi pola makan tidak sehat (pexels.com/Andres Ayrton)

Menurut ALA, kombinasi nutrisi tepat dalam pola makan sehari-hari dapat membantu meringankan kinerja paru-paru.

Metabolisme karbohidrat menghasilkan karbon dioksida lebih banyak dibandingkan metabolisme lemak. Jadi, saat mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah banyak, paru-paru akan lebih keras untuk membuang karbon dioksidan. Bahkan, beberapa pasien PPOK disarankan untuk membatasi asupan karbohidrat dan memperbanyak konsumsi lemak untuk mempermudah pernapasan.

Tidak hanya itu, pola makan tidak sehat dapat menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas. Menurut sebuah studi dalam jurnal Thorax, obesitas mengakibatkan frekuensi napas lebih sering dibandingkan dengan berat badan normal. Ini karena peningkatan beban metabolik dan asidosis metabolik, mengakibatkan gangguan dalam pengambilan oksigen oleh paru-paru. 

5. Infeksi paru-paru berulang

5 Penyebab Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Hindari Sejak Muda!ilustrasi seseorang mengalami infeksi pernapasan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Infeksi pernapasan berulang, baik sejak kecil maupun dewasa, dapat meningkatkan risiko PPOK. Merujuk pada sebuah laporan dalam European Respiratory Journal, makin sering seseorang mengalami infeksi, imunitas tubuh akan berusaha menyeimbangkannya. Namun, hal ini berdampak pada diameter saluran napas dan peradangan sistemik yang ditimbulkan.

Akibatnya, tubuh akan menggunakan sistem imun tubuh yang lebih spesifik yang bisa saja mengatasi serangan patogen. Akan tetapi, sistem imun yang tak terkontrol ketika melawan kuman menyebabkan inflamasi tak terkontrol yang dapat berujung pada PPOK.

Jika ingin terhindar dari PPOK, hindarilah lima hal di atas sejak muda. Optimalkan dengan menjalani pola makan sehat, rutin olahraga, dan istirahat cukup. Mengingat fakta bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan total, mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Yuk, jaga kesehatan paru-paru agar tetap bisa bernapas lega hingga hari tua!

Baca Juga: 12 Tips Ampuh Bernapas Lega untuk Pasien PPOK

Indira swastika utama Photo Verified Writer Indira swastika utama

An ISTJ-T. A medical student who love write :)

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya