Comscore Tracker

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara Berlebihan

Sering kali disertai masalah kesehatan mental 

Makan banyak jika dilakukan sesekali wajar, misalnya saat kangen makanan tertentu atau ditraktir makan di restoran all-you-can-eat alias prasmanan. Namun, kalau makan berlebihan sering dilakukan atau menjadi kebiasaan, ini patut diwaspadai. Bisa jadi kamu mengalami gangguan makan binge eating disorder

Menurut keterangan dari laman Eating Disorder Hope, binge eating disorder pertama kali dijelaskan pada tahun 1959 oleh Albert Stunkard, seorang psikiater dan peneliti. Kondisi ini tidak hanya mengacu pada “kebiasaan makan yang banyak”, melainkan cenderung terjadi bersamaan dengan masalah kesehatan mental. Gangguan makan ini bisa dialami baik perempuan maupun laki-laki.

Seperti yang tertera dalam Office on Women’s Health, binge eating disorder mendapat predikat gangguan makan yang paling umum di Amerika Serikat (AS). Melansir Healthline, hampir 2 persen kasus memengaruhi populasi dunia.

1. Orang-orang dengan binge eating disorder akan menyembunyikan kebiasaan makan mereka

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara Berlebihanunsplash.com/Prudence Earl

Makan banyak saat ada perayaan tertentu tidak termasuk binge eating. Dikatakan sebagai gangguan makan jika episode makan berlebihan terjadi berkali-kali. Karena merasa malu, kebanyakan orang dengan binge eating disorder akan sebisa mungkin merahasiakan kebiasaan makannya ini.

Jika kamu berpikir makan berlebihan tersebut dilakukan untuk kepuasan atau kesenangan, itu anggapan yang salah. Perlu dipahami bahwa gangguan makan ini cenderung berasal dari gangguan kesehatan mental atau bisa juga ada kondisi medis lain yang mendasarinya.

National Eating Disorders Association memperkirakan 3,5 persen binge eating memengaruhi perempuan dan sebanyak 2 persen pada laki-laki di AS.

2. Hubungan antara binge eating disorder dan kesehatan mental

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara BerlebihanUnsplash.com/Andriyko Podilnyk

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, binge eating disorder sering kali berkaitan dengan masalah kesehatan mental. Melansir Medical News Today, kondisi yang biasanya menyertai gangguan makan ini adalah gangguan mood, dan kecemasan, gangguan depresi mayor, gangguan kepribadian ambang, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, alkoholisme, atau penyalahgunaan zat.

Semua kondisi tersebut dapat menyebabkan tantangan emosional yang mungkin menyebabkan rasa bersalah pada seseorang dengan binge eating disorder. Faktor umum yang sering membuat seseorang mengembangkan gangguan makan tersebut adalah perasaan akan harga diri yang rendah. Imbasnya, penderitanya akan menyalahkan diri sendiri dan merusak citra harga dirinya.

Baca Juga: 10 Cara Mengendalikan Nafsu Makan Berlebihan, Jangan Dibiarkan Saja

3. Apa saja gejalanya? 

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara Berlebihanunsplash.com/Artem Labunsky

Orang dengan gangguan makan binge mengalami periode makan berlebihan secara teratur dengan jumlah besar dan cenderung mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

Gangguan makan ini tertulis dalam buku pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5), yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA), dan masuk ke dalam daftar diagnosis kesehatan mental sejak tahun 2013.

Melansir Women's Health, kriteria binge eating disorder adalah makan secara berulang dan terus-menerus, yang melibatkan periode makan lebih cepat dari biasanya, makan banyak saat tidak lapar, makan diam-diam sendirian karena malu dengan porsi makannya, makan sampai terlalu kenyang, serta merasa bersalah setelah makan.

4. Penyebab pasti binge eating disorder belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko yang bisa memicunya

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara Berlebihanunsplash.com/Rosie Fraser

Melansir Medical News Today, para peneliti telah mengaitkan sejumlah faktor risiko dengan gangguan makan berlebihan, di antaranya adalah:

  • Usia: binge eating disorder dapat mempengaruhi segala usia. Namun, tanda dan gejala awal sering ditunjukkan pada akhir masa remaja atau usia awal 20-an.
  • Faktor biologis dan genetik: faktor tersebut mungkin berperan, terlebih dalam hal kebiasaan makan.
  • Riwayat pribadi dan keluarga: mendapat kritik atas bentuk dan ukuran tubuh bisa menjadi pemicu. Ditambah lagi jika orang tersebut pernah mengalami gangguan makan lain, depresi, atau jenis kecanduan lain.
  • Gangguan makan lain: seseorang dengan gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan makan berlebihan.
  • Masalah kesehatan mental: orang-orang dengan gangguan makan berlebih tak bisa mengendalikan aktivitas makannya. Tidak jarang mereka mengalami masalah dalam mengatasi stres, kecemasan, kemarahan, kesedihan, kebosanan, atau kekhawatiran.
  • Kepribadian tertentu: seseorang yang perfeksionis dan punya gangguan obsesif lebih mungkin mengembangkan binge eating disorder.
  • Adanya kondisi medis: sindrom Prader-Will dapat memicu kebiasaan makan berlebihan. Sindrom ini dapat memengaruhi kelenjar hipotalamus dan berakibat pada produksi hormon, termasuk mekanisme pengontrol nafsu makan. Akibatnya, tubuh tidak dapat memberi tahu kapan merasa kenyang, sehingga mereka terus makan.
  • Trauma pelecehan seksual: beberapa orang yang melaporkan pernah mengalami pelecahan seksual memiliki kaitan dengan gangguan makan binge. Diperkirakan, 35 persen perempuan dan 16 persen laki-laki mengalami binge eating disorder yang berkaitan dengan trauma seksual.
  • Diet: percaya atau tidak, menurut data, perempuan yang sedang diet dua belas kali lebih mungkin mengalami gangguan makan berlebihan dibandingkan dengan perempuan yang tidak diet. Meskipun demikian, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk benar-benar membuktikan apakah diet termasuk faktor risiko binge eating disorder.
  • Tekanan sosial: media sosial yang menyuguhkan tampilan fisik dapat memicu binge eating disorder. Fokus yang intens untuk menjadi langsing, terlebih karena tekanan sosial atau profesionalitas kerja, dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan gangguan makan berlebihan.

5. Diagnosis binge eating disorder

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara BerlebihanPexels.com/Andrea Piacquadio

Diagnosis binge eating disorder mengacu pada DSM-5. Seseorang harus menunjukkan kesusahan nyata, tidak terlibat dalam perilaku kompensasi, dan mengalami setidaknya satu episode makan berlebihan sekali seminggu selama tiga bulan.

Melansir Mayo Clinic, dokter mungkin akan melakukan evaluasi psikologis berkaitan tentang kebiasaan makan pasien. Dokter juga akan menyarankan pasien melakukan tes lain untuk memeriksa konsekuensi dari gangguan makan berlebihan, seperti kolesterol tinggi, GERD, hingga beberapa gangguan pernapasan terkait tidur.

Beberapa orang mungkin mengalami gejala lebih ringan dan makan berlebihan sekali dalam seminggu, sementara lainnya mengalami gejala parah dan bisa makan berlebihan sebanyak 14 kali atau lebih per minggu.

Binge eating disorder dapat menimbulkan masalah kesehatan secara menyeluruh. Komplikasi yang dapat terjadi adalah perasaan gelisah, depresi, penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, dan obesitas.

6. Bisakah disembuhkan?

Binge Eating Disorder, Bikin Seseorang Makan secara Berlebihanpexels.com/Andrea Piacquadio

Binge eating disorder bisa menjadi sangat serius dan dapat memengaruhi kesehatan penderitanya secara menyeluruh. Tidak jarang, banyak penderita yang mencari pertolongan medis agar bisa sembuh.

Pengobatan dan perawatan biasanya bertujuan untuk mengurangi frekuensi makan berlebihan dan meningkatkan kesehatan psikis.

Opsi pengobatan dan perawatan dapat melibatkan beberapa aspek, seperti:

  • Terapi perilaku kognitif
  • Terapi perilaku dialektika
  • Psikoterapi interpersonal
  • Pengobatan dengan antidepresan, anticemas, atau pengontrol nafsu makan
  • Terapi lain seperti support group dan perawatan pengendalian berat badan

Selain itu, ada pula beberapa cara untuk meredam kebiasaan buruk makan berlebihan, yang meliputi: tidak menyimpan makanan dalam jumlah besar di rumah, ketika makan lebih baik fokus pada makanan dan tidak melakukan aktivitas lain seperti membaca buku atau menonton acara televisi, membuat jurnal untuk membantu mengamati pola makan, serta menyibukkan diri untuk menghindari rasa bosan.

Selain itu, tidur yang cukup, olahraga teratur, menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang, serta melatih kesadaran akan pentingnya mengendalikan makan berlebih juga dapat dilakukan.

Bila kamu mengalami gejala-gejala dari binge eating disorder, jangan ragu untuk mencari pertolongan ahli medis. Kamu bisa berkonsultasi dengan ahli kejiwaan bila ada masalah mental yang mendasari, serta ke dokter untuk melakukan pemeriksaan fisik untuk mengecek apakah makan berlebihan berdampak pada kesehatan fisik.

Baca Juga: 7 Fakta Bulimia Nervosa, Gangguan Makan yang Bisa Menyebabkan Kematian

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya