Comscore Tracker

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang Membesar

Bisa dialami laki-laki di segala usia, lho

Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kelenjar payudara. Hanya saja, pada perempuan kelenjar tersebut lebih besar dan mengalami perkembangan, sementara pada laki-laki kelenjar payudara cenderung kecil dan tidak mengalami pembesaran.

Namun, tahukah kamu bahwa payudara laki-laki juga bisa membesar?

Terdengar mustahil, tetapi pembesaran payudara pada laki-laki dalam dunia medis adalah kondisi umum. Kondisi ini dikenal sebagai ginekomastia, yang dilaporkan dapat memengaruhi laki-laki di segala usia. Namun, kondisi ini paling sering terjadi pada remaja latau yang lebih tua.

Untuk menjawab rasa penasaranmu tentang ginekomastia, simak terus penjelasan berikut.

1. Ginekomastia bukan berarti laki-laki memiliki lemak berlebih karena kelebihan berat badan

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang Membesarpexels.com/cottonbro

Jika kamu berpikir ginekomastia diakibatkan oleh penumpukan lemak akibat kelebihan berat badan, maka tepis segera pemikiran tersebut. Faktanya, payudara laki-laki membesar akibat lemak bukan merupakan ginekomastia, melainkan dikenal dengan istilah pseudo-ginekomastia.

Lantas apa penyebab ginekomastia?

Melansir berbagai sumber, terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan seorang laki-laki mengalami ginekomastia.

Ketidakseimbangan hormon (testosteron dan estrogren) diduga menjadi penyebab umum laki-laki mengembangkan ginekomastia. Hal tersebut terjadi ketika kadar hormon estrogen lebih tinggi dari hormon testosteron.

Menurut American Family Physician, 1 dari 9 bayi laki-laki yang lahir dapat mengembangkan ginekomastia dari ASI yang diberikan ibunya. Seiring berjalannya waktu, ketika kadar estrogen pada bayi kembali normal, pembengkakan pun mereda.

Menurut studi dalam jurnal Medical Hypotheses tahun 2008 menjelaskan jika ginekomastia umum terjadi pada laki-laki paruh baya. Kondisi ini sering digambarkan sebagai andropause (seperti menopause pada perempuan) yang ditandai dengan produksi testosteron menurun selama beberapa tahun.

Selanjutnya adalah fase pubertas. Ketika anak laki-laki memasuki fase pubertas, mereka dapat menghasilkan lebih banyak estrogen yang dapat berimbas pada terjadinya ginekomastia.

Sementara itu, kondisi medis tertentu menjadi faktor risiko yang dapat membuat laki-laki mengembangkan ginekomastia. Faktor risiko tersebut termasuk penyakit ginjal atau hati, sindrom Klinefelter, hipertiroidisme, tumor pada testis, pengobatan radiasi pada testis, alkoholisme, dan konsumsi obat-obatan tertentu.

2. Gejalanya tidak hanya pembesaran payudara

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang Membesarcommons.wikimedia.org/David Andrew Copeland

Melansir Healthline, gejala ginekomastia pada laki-laki meliputi payudara membengkak, nyeri payudara, dan keluarnya cairan payudara. Namun, gejala bisa bertambah tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Menurut National Health Service Inggris, tanda-tanda ginekomastia bervariasi, mulai dari perkembangan jaringan ekstra di sekitar puting sampai payudara yang lebih menonjol. Hal ini bisa memengaruhi satu atau kedua payudara.

Gejala ginekomastia terkadang mirip dengan gejala dari kondisi kesehatan lainnya. Menurut artikel di laman Mayo Clinic, kondisi yang menyebabkan gejala serupa dengan ginekomastia di antaranya adalah kanker payudara, abses payudara atau bisul payudara, dan jaringan payudara berlemak.

Baca Juga: 6 Kondisi Payudara Ini Cerminkan Kesehatan Tubuh Perempuan, Yuk Cek

3. Diagnosis ginekomastia

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang Membesarunsplash.com/James Barr

Untuk mengetahui penyebab pembengkakan payudara pada laki-laki, dokter akan melakukan serangkaian prosedur medis untuk diagnosis kondisi tersebut.

Dokter mungkin akan melakukan evaluasi lengkap terkait riwayat kesehatan pasien dan tidak menutup kemungkinan riwayat kesehatan keluarga pasien juga.

Pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan payudara dan alat kelamin dapat dilakukan.
Jika penyebab ginekomastia diduga berasal dari masalah hormon, dokter mungkin menganjurkan tes darah.

Dalam beberapa kasus, prosedur diagnosis dengan mamografi, ultrasound, pemindaian MRI, CT scan, sinar X, atau biopsi juga mungkin diperlukan.

4. Sebagian besar kasus ginekomastia tidak memerlukan pengobatan

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang Membesarcommons.wikimedia.org/David Andrew Copeland

Meskipun sebagian besar kasus ginekomastia mereda dengan sendirinya, tetapi opsi pengobatan dapat dilakukan terlebih jika penyebabnya dari kondisi medis tertentu.

Jika kasus ginekomastia sampai menyebabkan rasa sakit yang hebat, maka prosedur bedah atau operasi dan pemberian obat-obatan berdasarkan petunjuk dokter dapat dilakukan.

Tidak jarang ginekomastia memengaruhi kepercayaan diri dan menyebabkan banyak laki-laki memilih untuk menarik diri dari aktivitas sosial. Opsi konsultasi dengan konselor atau terapis mungkin akan membantu mengatasi perasaan tersebut.

5. Menghindari konsumsi alkohol merupakan salah satu bentuk pencegahan ginekomastia 

Ginekomastia, Kondisi Payudara Laki-laki yang MembesarUnsplash.com/SHTTEFAN

Dilansir Mayo Clinic, ada beberapa faktor yang dapat dilakukan untuk mengendalikan perkembangan ginekomastia, yaitu penerapan pola hidup sehat seperti menghindari konsumsi alkohol dan tidak mengonsumsi obat-obatan tanpa petunjuk dokter.

Ginekomastia dapat terjadi pada laki-laki di segala usia. Jika kamu mencurigai mengembangkan ginekomastia, jangan ragu untuk berkonsultasi pada dokter. Dokter akan melakukan diagnosis untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya, sehingga opsi pengobatan dapat segera dilakukan.

Baca Juga: Benarkah Deodoran dan Antiperspirant dapat Memicu Kanker Payudara?

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya