Comscore Tracker

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airborne

WHO telah mengakui COVID-19 dapat menular lewat udara

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (9/7/2020) memberikan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa COVID-19 dapat menular melalui udara atau istilahnya airborne. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa penyakit tersebut cepat menyebar ke seluruh dunia. 

Oleh karena itu di hari yang sama, WHO merilis panduan baru mengenai penularan COVID-19 melalui situs resminya. Ada beberapa pembaruan yang perlu kamu ketahui. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Transmisi melalui kontak dan droplet

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airbornegreatist.com

Penularan utama COVID-19 tetaplah melalui kontak dengan pasien. Baik kontak langsung, tidak langsung, atau berada di dekat mereka. WHO mengatakan bahwa hal ini terjadi karena pasien COVID-19 mengeluarkan droplet dari saluran pernapasannya ketika berbicara, batuk, bersin, atau menyanyi. 

Cairan dari pernapasan tersebut bisa dibagi menjadi dua macam, yakni respiratory droplet (berukuran lebih dari lima hingga sepuluh mikrometer) dan droplet nuclei atau aerosol (berukuran kurang dari lima mikrometer). 

Respiratory droplet dapat mengenai orang lain yang berada dalam radius satu meter dengan pasien. Ketika cairan itu mengenai mata, hidung, dan mulut, maka besar kemungkinan mereka untuk tertular. Sementara itu, droplet nuclei atau aerosol ditularkan melalui udara. Ikuti penjelasannya di poin kedua!

2. Transmisi lewat udara (airborne)

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airbornemedscape.com

Kita sering mendengar istilah "airborne", namun apa artinya? WHO mengatakan bahwa transmisi airborne terjadi ketika virus disebarkan melalui droplet nuclei atau aerosol yang tetap bisa menular ketika dilepaskan ke udara. Selain itu, droplet nuclei bisa menggantung di udara dalam jarak dan waktu yang lama. 

Sebelumnya, WHO mengatakan bahwa transmisi ini dimungkinkan ketika kita berada di lingkungan rumah sakit. Sebab ada sejumlah prosedur medis yang menghasilkan aerosol. Namun lingkup tersebut kini membesar. 

Mengutip laporan WHO, ada beberapa studi yang dilakukan di rumah sakit untuk mengamati keberadaan virus di udara. Ternyata walaupun tidak ada prosedur medis yang melibatkan aerosol, RNA SARS-CoV-2 tetap ditemukan di udara. Namun ada pula studi yang menentangnya. 

Lebih lanjut, terdapat pula bukti bahwa aerosol juga diproduksi ketika kita berbicara dan batuk. Oleh karena itu, walaupun studi mengenai sifat airborne dari COVID-19 masih terbatas, ada baiknya untuk tetap menerapkan pencegahan berbasis airborne

Penularan airborne ini utamanya terjadi di ruangan yang tertutup, ramai, dan tidak ada ventilasi yang memadai. Contohnya ruangan gym, restoran, dan lain sebagainya. 

Baca Juga: Jadi Kalung Antivirus Corona, Apakah Eucalyptus Ampuh Cegah COVID-19?

3. Transmisi melalui droplet yang ada di permukaan benda

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airbornebombardier.com

Droplet dari pasien COVID-19 juga bisa menempel di benda mati. Melalui tes RT-PCR, RNA virus corona atau SARS-CoV-2 bisa bertahan selama berjam-jam hingga berhari-hari bergantung pada jenis benda, kelembapan, dan suhu di sekitarnya. 

Jadi, ketika tangan kita tak sengaja memegang benda yang terinfeksi, kemudian menyentuh mulut, hidung, dan mata, kita bisa tertular COVID-19. Menurut penelitian dari National Institute of Health (NIH) Amerika Serikat berikut ini durasi ketahanan SARS-CoV-2 di beberapa benda:

  • Cardboard atau kardus: maksimal 24 jam;
  • Tembaga: maksimal empat jam;
  • Stainless steel: tiga hari;
  • Plastik: tiga hari.

Namun perlu diketahui bahwa tingkat keaktifan virus di permukaan benda bisa menurun seiring berjalannya waktu. 

4. Cara transmisi lainnya yang masih belum bisa dipastikan

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airborneinsider.com

Selain melalui kontak, udara, dan permukaan benda yang terinfeksi droplet, ada sejumlah kemungkinan transmisi lainnya. Namun WHO belum bisa memastikan hal ini karena belum ada bukti yang pasti. Berikut ini di antaranya:

  • Melalui urine dan kotoran pasien: ditemukan RNA virus pada keduanya namun belum bisa dipastikan apakah virus bisa menyebar melalui urine dan kotoran;
  • Melalui darah: virus dapat mereplikasi dirinya di dalam darah. Namun masih tidak ada bukti yang akurat mengenai penularan tersebut. WHO mengatakan kemungkinannya cukup rendah;
  • Dari ibu ke janin atau bayi: tak ada bukti bahwa ibu hamil yang terkena COVID-19 bisa menularkan ke janin atau bayinya. Begitu pula untuk transmisi melalui ASI. Tidak ada bukti yang jelas mengenainya;
  • Dari hewan ke manusia: SARS-CoV-2 diduga ditularkan melalui kelelawar, namun hipotesis ini belum bisa dibenarkan karena tidak ada bukti. Namun COVID-19 terbukti bisa menular dari manusia ke hewan.

5. Kapan pasien COVID-19 bisa menularkan virusnya?

Update WHO: 4 Cara Penularan Baru COVID-19, Salah Satunya Airbornechinadaily.com.cn

Mengetahui kapan orang yang terinfeksi dapat menularkan virusnya juga tak kalah penting, lho. WHO baru-baru ini menerbitkan publikasi yang membahas persoalan tersebut. 

Mereka mengatakan RNA SARS-CoV-2 mulai terdeteksi pada pasien dalam kurun waktu satu hingga tiga hari sebelum gejala muncul. Kemudian jumlah virus memuncak ketika mereka merasakan gejala, seperti batuk, demam, dan sesak napas. Setelah kondisi mulai pulih, jumlah virus di dalam tubuh pun ikut berkurang. 

Sebagai tambahan, WHO memberikan data durasi SARS-CoV-2 bertahan di tubuh pasien dengan kondisi yang berbeda-beda menurut tes PCR:

  • Pada orang asimtomatik: satu hingga dua minggu;
  • Pada pasien gejala ringan: tiga minggu;
  • Pada pasien gejala sedang hingga berat: lebih dari tiga minggu. 

Perlu digarisbawahi pula bahwa penularan COVID-19 bisa terjadi dari orang yang bergejala maupun yang tak bergejala atau asimtomatik. Inilah yang perlu kita waspadai. 

Maka dari itu, jangan lalai dalam melakukan upaya pencegahan mulai dari sekarang. Pakai maskermu ke mana-mana, cuci tangan, serta hindari tempat publik dan tempat ramai sebisa mungkin. 

Baca Juga: 239 Ahli di Seluruh Dunia Klaim COVID-19 Airborne, Menular lewat Udara

Topic:

  • Izza Namira
  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya