Comscore Tracker

Amiodarone: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis, dan Efek Samping

Obat untuk mengobati aritmia tingkat lanjut

Amiodarone adalah obat yang diberikan untuk mengobati kondisi detak jantung tidak teratur yang cenderung fatal. Termasuk fibrilasi ventrikel atau peningkatan denyut jantung yang terus-menerus.

Obat ini tersedia dalam bentuk oral atau tablet serta cairan yang diberikan melalui injeksi. Selain itu, tersedia pula dalam obat generik dan bermerek. Namun penggunaannya harus sesuai dengan resep dokter. 

1. Manfaat Amiodarone

Amiodarone termasuk jenis obat antiaritmia golongan III yang bersifat memperlambat denyut jantung. Amiodarone bekerja langsung pada jaringan jantung dengan memblokir sinyal listrik tertentu yang jadi penyebab detak jantung tidak teratur. Obat ini akan memperlambat detak jantung dengan menahan penyerapan kalium serta menjaga ritme jantung agar teratur dan stabil.

Amiodarone diberikan pada pasien dengan kondisi kesehatan fibrilasi ventrikel atau takikardia. Umumnya obat ini hanya diresepkan ketika tubuh tidak merespons gangguan berat lain serta tidak dapat mencoba alternatif pengobatan lain karena kondisi tertentu. Untuk mendapatkan hasil optimal dilakukan kombinasi pengobatan melalui intravena dan oral. 

2. Peringatan Amiodarone

Amiodarone: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis, dan Efek Sampingilustrasi obat-obatan (Unsplash.com/Pixabay)

Apabila kamu memiliki alergi terhadap amiodarone, yodium, atau kandungan lain yang terdapat di dalamnya sebaiknya konsultasikan kembali kepada dokter. Jika kurang yakin, mak kamu dapat menceritakan semua riwayat alergi yang pernah dialami. Termasuk pula dengan alergi makanan atau alergen lain.

Selain itu, sampaikan juga apabila kamu sedang mengonsumsi obat lain, termasuk vitamin atau obat herbal. Ini penting guna menghindari risiko terjadinya interaksi obat.

Amiodarone memiliki risiko efek samping yang serius. Termasuk masalah paru-paru yang serius, masalah hati, dan memburuknya detak jantung tidak teratur. Pastikan kamu mendapatkan obat ini dengan konsultasi terlebih dahulu dan mendapatkan resep dokter. 

Konsumsi amiodarone dapat menyebabkan kulit menjadi biru keabu-abuan dan sensitif terhadap sinar matahari. Demi menghindari iritasi kulit, pakai tabir surya saat berada di luar ruangan serta jangan terpapar atau menggunakan lampu matahari atau tanning bed

Amiodarone memiliki pengaruh pada pengelihatan, seperti menyebabkan penglihatan kabur, lingkaran cahaya di sekitar objek, atau sensitivitas terhadap cahaya. Lakukan pemeriksaan pengelihatan secara berkala saat mendapatkan pengobatan amiodarone. 

Sampaikan pada dokter sebelum pengobatan apabila kamu pernah mengalami sesak napas, mengi, dan nyeri dada. Sebab, amiodarone dapat menyebabkan cedera paru-paru yang berakibat fatal. Risiko efek samping ini semakin besar jika kamu sudah memiliki penyakit paru-paru.

Obat ini dapat meningkatkan risiko efek samping pada pasien yang memiliki riwayat penyakit tiroid, penyakit liver, penyakit paru-paru, dan penyakit saraf. Pengobatan amiodarone pada individu dengan kondisi tersebut harus dipantau secara terus menerus. 

Amiodarone tidak disarankan bagi ibu hamil atau perempuan yang berencana hamil. Pasalnya, obat ini dapat mengendap di tubuh, bahkan berbulan-bulan setelah tidak lagi mendapatkan pengobatan. 

Sama seperti ibu hamil, amiodarone jugatidak dianjurkan untuk ibu menyusui karena obat ini dapat tersalur pada bayi melalui ASI, dilansir Medlineplus. Komunikasi dengan dokter sangat diperlukan guna mempertimbangkan manfaat dan efek sampingnya. 

Baca Juga: ACE Inhibitor: Manfaat, Peringatan, Interaksi, dan Efek Samping 

3. Interaksi Amiodarone

Amiodarone: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis, dan Efek Sampingilustrasi minum obat (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Amiodarone dapat berinteraksi dengan banyak jenis obat. Ini dapat berpengaruh dengan mengurangi efektivitas obat maupun meningkatkan risiko terjadinya efek samping. Maka dari itu, penting untuk menyampaikan pada dokter obat apa saja yang sedang kamu konsumsi. 

Dilansir Healthline , berikut kelompok obat yang dapat berinteraksi dengan amiodarone:

  • Antibiotik tertentu seperti eritromisin, klaritromisin, flukonazol, levofloksasin dapat membuat detak jantung tidak teratur
  • Antivirus, termasuk: atazanavir, darunavir, fosamprenavir, indinavir, lopinavir dan ritonavir, nelfinavir, ritonavir, saquinavir, tipranavir. Penggunaan keduanya dapat meningkatkan kadar amiodarone dalam tubuh dan berakibat fatal
  • Pengencer darah seperti warfarin mengakibatkan darah semakin meningkat jika dan berakibat fatal jika digunakan sama amiodarone
  • Obat batuk  over the counter dextromethorphan, kombinasi keduanya meningkatkan kandungan obat dextromethorphan dan bersifat toksik
  • Obat depresi trazodone. Penggunaan keduanya dapat meningkatkan kadar amiodarone dalam tubuh
  • Obat GERD cimetidine dapat meningkatkan kadar amiodarone dalam tubuh
  • Obat gagal jantung ivabradine menyebabkan detak jantung dan ritme jantung tidak stabil
  • Obat penyakit jantung tertentu seperti digoxin, antiaritmia, quinidine (procainamide, flecainide) dapat meningkatkan kadar obat dalam jantung dan meningkatkan efek samping serius
  • Obat hepatitis ledipasvir/sofosbuvir (Harvoni) dan sofosbuvir dengan simeprevir dapat menyebabkan bradikardia atau kondisi memperlambat detak jantung
  • Obat darah tinggi jenis beta-blocker (acebutolol, atenolol, bisoprolol, carteolol, esmolol, dan lainnya yang serupa) serta jenis calcium channel blocker (amlodipine, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine dan lainnya) harus dipantau seius oleh dokter
  • Obat kolesterol imvastatin dan atorvastatin dapat meningkatkan kadar obat kolesterol dalam tubuh
  • Obat anestesi lokal lidokain yang menyebabkan detak jantung dan kejang
  • Obat nyeri fentanyl memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, juga mengurangi jumlah darah yang dipompa jantung
  • kejanggalan phenytoin mengurangi kadar amiodarone menurunkan efektifitas obat
  • Obat tuberculosis rifampin dapat menurunkan efektifitas amiodarone

 

4. Dosis Amiodarone

Amiodarone: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis, dan Efek Sampingilustrasi obat-obatan (Unsplash.com/Pixabay)

Pemberian dosis amiodarone dapat disesuaikan pada kondisi serta usia pasien. Namun, ini dapat berbeda pada masing-masing individu. Kombinasi obat di atas bisa menimbulkan interaksi, tetapi jika memang diperlukan, dokter akan mengatur dosis untuk mengurangi potensi timbulnya efek samping. Selain itu, hindari mengubah dosis tanpa sepengetahuan dokter.

Berikut takaran obat yang direkomendasikan, dilansir MIMS:

Kondisi: takikardia ventrikel

Bentuk suntik dosis awal yang diberikan 5 mg/kgBB melalui injeksi cepat. Tambahan dosis 150 mg (atau 2,5 mg/kgBB) dapat diberikan jika fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel tanpa nadi berlanjut.

Kondisi: Aritmia ventrikel

Bentuk tablet diberikan dengan dosis awal 200 mg, tiga kali sehari selama 1 minggu. Pekan berikutnya dosis dikurangi menjadi 200 mg dua kali sehari selama seminggu lagi. Dosis pemeliharaan diberikan ≤ 200 mg setiap hari sesuai kondisi dan respons tubuh pasien.

Bentuk suntik dosis awal 5 mg/kgBB melalui infus selama 20-120 menit, lalu infus dapat diulangi hingga 1.200 mg (kira-kira 15 mg/kgBB) per 24 jam, dengan kecepatan infus disesuaikan berdasarkan respons klinis.

Untuk kasus darurat: 150-300 mg melalui injeksi lambat selama 3 menit, dapat diulang setidaknya 15 menit setelah dosis pertama.

Amiodarone hanya diresepkan pada pasien usia dewasa di atas 18 tahun. Pemberian obat pada lansia di atas 64 tahun atau individu dengan riwayat penyakit tertentu harus disesuaikan kembali dengan kesehatan pasien. 

5. Efek samping Amiodarone

Amiodarone: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis, dan Efek Sampingilustrasi penyakit jantung (cminj.com)

Konsultasikan pada dokter apabila kamu mengalami efek samping ringan yang berlanjut setelah mengonsumsi amiodarone. Gejala yang mungkin timbul yakni mual, muntah, pusing, dan sembelit. Kehilangan nafsu makan, gemetar, kelelahan juga mungkin terjadi. 

Selain reaksi ringan, amiodarone juga dapat menyebabkan efek samping lain. Dilansir WebMD, gejala sedang yang mungkin timbul yakni:

  • Memar atau berdarah
  • Kehilangan koordinasi
  • Kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki
  • Gerakan yang tidak terkontrol
  • Gejala baru atau memburuknya gagal jantung (sesak napas, bengkak pada kaki, kelelahan yang tidak biasa, kenaikan berat badan yang tidak biasa )

Segera dapatkan bantuan medis jika kamu merasa muncul efek samping sedang yang tidak kunjung berhenti. Juga ketika mendapati efek samping sangat serius, termasuk: detak jantung lebih cepat, melambat, atau tidak teratur; pusing parah; pingsan. 

Hubungi dokter apabila kamu menunjukkan tanda-tanda gangguan tiroid, seperti:

  • Intoleransi dingin atau panas
  • Penurunan atau kenaikan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Penipisan rambut selama pengobatan
  • Keringat yang tidak biasa
  • Perasaan gugup, lekas marah, gelisah
  • Benjolan/pertumbuhan di bagian depan leher atau gondokan

Sebagaimana disebutkan pada bagian peringatan, amiodarone dapat meningkatkan sensitivitas kulit dan menyebabkan perubahan warna. Juga gangguan pengelihatan seperti pandangan kabur, muncul lingkaran cahaya pada pandangan, dan sensitif terhadap cahaya. 

Jangan tunda janji temu dengan dokter apabila muncul reaksi alergi serius, seperti ruam, gatal atau bengkak (terlebih pada wajah, lidah, atau tenggorokan), pusing parah, dan kesulitan bernapas.

Amiodarone harus diberikan secara hati-hati. Pastikan untuk mengonsumsinya sesuai resep dan anjuran dokter guna menghindari terjadinya efek samping serius. Hubungi dokter segera apabila merasa tubuh mengalami gangguan yang tidak biasa setelah mengonsumsi amiodarone. 

Baca Juga: Acebutolol: Manfaat, Peringatan, Interaksi, Dosis dan Efek Samping

Topic:

  • Laili Zain Damaika
  • Lea Lyliana
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya