Comscore Tracker

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepit

Metode ini dilakukan bila cara medis lain tidak berhasil

Pernah mendengar saraf terjepit atau istilah medisnya adalah hernia nukleus pulposus (HNP)? Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja dan umumnya terjadi di bagian tulang belakang.

Pasien perlu melakukan tes seperti CT scan dan MRI untuk memperoleh diagnosis HNP dari dokter. Penanganan utama untuk mengobati pasien yang mempunyai kondisi HNP atau berkaitan dengan tulang belakang adalah dengan fisioterapi serta mengonsumsi obat antinyeri. Akan tetapi, tidak sedikit yang membutuhkan operasi, yang dikenal dengan istilah laminektomi.

1. Apa itu laminektomi?

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepitilustrasi anatomi tulang belakang (unsplash.com/NeONBRAND)

Merangkum dari Mayo Clinic, laminektomi (laminectomy) adalah sebuah metode ketika dokter akan membuang osteofit atau bone spurs dan jaringan lainnya yang berkaitan dengan artritis di tulang belakang. Osteofit adalah tulang ekstra yang menonjol, yang terdapat pada bagian sendi yang disebabkan kerusakan sendi.

Menambahkan dari laman Johns Hopkins Medicine, prosedur laminektomi juga dilakukan untuk mengatasi tekanan di sumsum tulang belakang (spinal cord) yang disebabkan oleh cedera, tumor, dan penyempitan pada ruas tulang belakang atau disebut stenosis spinal. Selain menyebabkan nyeri di bagian punggung, tekanan ini juga dapat menyebabkan nyeri di leher. 

Tujuan dari prosedur laminektomi adalah untuk melepaskan tekanan di spinal cord atau saraf dengan cara mengambil bagian yang disebut lamina di tulang punggung. Perlu diketahui bahwa proses ini hanya menghilangkan rasa sakit dan tekanan pada bagian tubuh sebagai akibat dari penyempitan.

2. Kapan laminektomi perlu dilakukan?

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepitilustrasi menahan air kencing (pixabay.com/bzndenis)

Laminektomi umumnya dilakukan bila cara-cara pengobatan seperti konsumsi obat dan fisioterapi tidak berhasil. Dokter juga akan mempertimbangkan laminektomi bila pasien mengalami masalah seperti tidak bisa menahan buang air kecil (bladder control) dan sulit berjalan karena otot menjadi lemah atau mati rasa.

Menurut artikel dalam publikasi StatPearls, prosedur laminektomi juga digunakan untuk mengobati pasien dengan sindrom cauda equina. Termasuk penyakit langka, sindrom ini terjadi karena sekumpulan saraf yang terletak di bagian bawah tulang belakang tertekan dan perlahan-lahan menyebabkan anggota tubuh bagian bawah tidak bisa digerakkan.

Baca Juga: Apendektomi (Operasi Usus Buntu): Prosedur dan Pemulihan

3. Faktor risiko dan komplikasi terkait laminektomi

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepitilustrasi sakit jantung (pixabay.com/Pexels)

Dilansir Spine-Health, orang-orang dengan riwayat medis seperti osteoporosis, perokok, pernah menjalani operasi di area yang sama, dan mempunyai penyakit jantung perlu berdiskusi dengan dokter sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur laminektomi. Tingkat kesuksesan laminektomi rendah untuk orang-orang yang pernah menjalani operasi tulang belakang di tempat atau area yang sama.

Pasien dengan osteoporosis umumnya memiliki struktur tulang yang lemah atau mudah patah, sehingga risikonya cukup tinggi bila menjalani operasi laminektomi. Kemudian, pasien yang merupakan perokok aktif juga disarankan untuk berhenti merokok sebelum dan sesudah operasi karena risiko infeksi dan menyebabkan efektivitas operasi berkurang. Penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes juga berpotensi menyebabkan komplikasi atau memperlambat proses penyembuhan, khususnya untuk pasien lanjut usia.

4. Kondisi yang harus dipatuhi oleh pasien sebelum dan sesudah menjalani laminektomi

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepitilustrasi pasien yang akan menjalani fisioterapi (freepik.com/senivpetro)

Mengutip Better Health Channel, sebelum menjalani laminektomi dokter akan melakukan tindakan seperti berikut:

  • Menjelaskan kepada pasien prosedur operasi, alasan, faktor risiko, dan tingkat kesuksesan operasi.
  • Dokter anestesi kemudian akan mengevaluasi pasien dan melakukan serangkaian tes darah sebelum operasi dilakukan. Pasien wajib memberi tahu dokter bila mempunyai alergi dan mengonsumsi obat-obatan, misalnya aspirin.
  • Pasien dilarang makan beberapa jam sebelum operasi dilakukan.
  • Pasien diberikan suntikan obat yang akan membuat pasien mengantuk dan untuk mengeringkan sekresi internal.
  • Selama operasi, pasien dalam keadaan tidak sadar dan tidak merasakan sakit.

Sesudah operasi, pasien dianjurkan untuk melakukan hal seperti berikut:

  • Tergantung dari tingkat kesulitan operasi, pasien dapat pulang ke rumah cepat atau mungkin harus menginap di rumah sakit beberapa hari.
  • Dokter akan memberikan obat untuk mengatasi rasa nyeri atau tidak nyaman usai operasi.
  • Dokter akan memberikan instruksi mengenai posisi duduk dan tidur selama proses penyembuhan. Pasien dilarang untuk membungkuk, membawa beban, atau memutar pinggang setelah operasi.
  • Dokter juga akan menyarankan pasien untuk mengikuti fisioterapi. Pasien juga dapat olahraga jalan yang santai.
  • Berhati-hati saat sedang mandi dan mengenakan pakaian agar jahitan operasi tidak lepas.
  • Jangan duduk atau berdiri di posisi yang sama lebih dari 15-20 menit.
  • Hindari rokok dan untuk sementara tidak mengoperasikan kendaraan atau alat berat hingga pulih.

5. Obat dan kondisi lain yang patut diketahui seusai laminektomi

Laminektomi, Prosedur untuk Mengatasi Saraf Terjepitilustrasi seseorang akan meminum obat (pexels.com/RonLach)

Dokter akan memberikan kombinasi obat antiinflamasi, obat yang mengandung narkotik/opioid dan obat relaksan otot. Obat-obatan ini diberikan untuk mengurangi rasa sakit sesudah operasi. Kemudian, obat yang mengandung kortikosteroid juga dapat diberikan untuk mengurangi pembengkakan sesudah operasi.

Pasien dianjurkan untuk segera ke dokter bila mengalami hal seperti berikut:

  • Area di sekitar operasi menjadi bengkak, berwarna kemerahan dan terasa panas.
  • Demam tinggi.
  • Nyeri di dada dan sulit untuk bernapas.
  • Bengkak di bagian kaki.
  • Tidak bisa buang air kecil.
  • Gangguan pada kontrol kandung kemih dan buang air besar.

Risiko dan komplikasi yang dapat terjadi saat dan sesudah laminektomi antara lain reaksi terhadap obat, stroke, sakit punggung kembali lagi, infeksi di area tempat operasi, kerusakan pada saraf spinal, dan operasi tidak berhasil.

Nah, itulah fakta-fakta penting terkait dengan prosedur laminektomi. Perlu diingat bahwa tujuan dari prosedur ini selain untuk membantu pasien dalam mobilitas juga, tetapi juga untuk mencegah kondisi tulang belakang dan saraf memburuk. Laminektomi dilakukan bila fisioterapi, perubahan gaya hidup, dan obat-obatan tidak efektif.

Baca Juga: Prostatektomi: Tujuan, Persiapan, Prosedur, Risiko

MW S Photo Verified Writer MW S

"Less is More" Ludwig Mies Van der Rohe.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya