Comscore Tracker

1 dari 3 Anak Indonesia Mengalami Anemia, Apa Bahayanya?

Salah satunya menyebabkan sulit berkonsentrasi

Mengacu pada Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, 1 dari 3 anak Indonesia mengalami anemia, dan sebanyak 50-60 persen kejadian anemia diakibatkan oleh kekurangan zat besi. Ini membuat organ-organ tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Dampaknya, anak sulit berkonsentrasi belajar, merasa lemas, mudah terdistraksi, dan mengantuk. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang keterkaitan kekurangan zat besi pada kemampuan belajar anak, Forum Ngobras bersama Danone Specialized Nutrition mengadakan diskusi virtual bertema "Efek Kekurangan Zat Besi pada Kemampuan Belajar Anak".

Acara yang dihelat pada Senin (25/1/2021) menghadirkan tiga pembicara, yaitu Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia; Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, Ahli Gizi Ibu dan Anak; dan Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si, Ketua HIMPAUDI Pusat. Simak, yuk!

1. Gizi memadai diperlukan pada 5 tahun pertama kehidupan

1 dari 3 Anak Indonesia Mengalami Anemia, Apa Bahayanya?parentmap.com

Dikutip dari riset UNICEF pada tahun 2015, fase tercepat pertumbuhan manusia yang menentukan kemampuan kognitif, emosional, dan pertumbuhan fisik adalah dari fase konsepsi (peristiwa bertemunya sel telur atau ovum dengan sperma) hingga usia 2 tahun. Menurut Prof. Sandra, pada 5 tahun pertama kehidupan, grafik pertumbuhan naik cepat, setelahnya melandai.

"Di masa ini, anak mengalami pertumbuhan dan pematangan organ yang sangat besar. Jika gizi tidak dimaksimalkan, pembentukan sel otak tidak akan optimal," tegas Prof. Sandra.

Oleh karena itu, orang tua harus menyiapkan makanan anak dengan optimal agar capaian pertumbuhan dan perkembangan bisa didapatkan. Fase ini bersifat irreversible, jika terjadi kekurangan gizi, maka kerusakan tidak bisa diperbaiki setelahnya.

Jika gizi dipenuhi di awal kehidupan, efek jangka pendeknya adalah perkembangan otak yang optimal serta terjadi pertumbuhan massa otot dan komposisi tubuh. Efek jangka panjangnya, anak akan memiliki kemampuan kognitif yang baik, imunitas terbentuk, dan terhindar dari penyakit degeneratif.

2. Berikan zat besi yang cukup dari makanan sumber hewani

1 dari 3 Anak Indonesia Mengalami Anemia, Apa Bahayanya?momjunction.com

Prevalensi stunting di Indonesia dulu di atas 30 persen, kini semakin menurun. Sebaliknya, prevalensi anemia justru semakin meningkat. Tidak hanya pada anak-anak, tetapi juga pada remaja dan ibu hamil.

Menurut Prof. Sandra, dari keseluruhan anak yang mengalami anemia, 50-60 persen karena kekurangan zat besi. Sisanya, ada yang karena kekurangan folat dan vitamin B12.

Lebih lanjut, pada satu tahun pertama kehidupan, zat besi didapat dari ASI, lalu menggunakan cadangan tubuhnya. Pada usia 1 tahun ke atas, kebutuhan zat besi tidak bisa dari tubuh, tetapi harus dari makanan sehari-hari.

"Konsumsi makanan sumber hewani pada anak sangat penting untuk mencukupi kebutuhan protein dan zat besi, tapi asupannya sangat kurang. Padahal, zat besi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan optimal," terangnya.

Mengapa zat besi penting? Di dalamnya, ada hemoglobin yang berfungsi untuk mengantarkan oksigen ke paru-paru supaya bisa digunakan oleh bagian tubuh lain. Prof. Sandra menegaskan bahwa pemenuhan zat besi harus didapatkan dari MPASI atau makanan sehari-hari.

Berdasarkan data dari Kemenkes tahun 2015, komposisi makanan anak usia 1-3 tahun adalah 98,5 persen serealia, 0,9 persen susu dan olahannya, 0,5 persen umbi-umbian, 0,1 persen daging dan olahannya, serta 0,1 persen kacang-kacangan.

Baca Juga: Dear Mom, Pilihlah Susu untuk Anak yang Mengandung Beta Kasein A2

3. Kekurangan zat besi membuat konsentrasi belajar dan produktivitas menurun

1 dari 3 Anak Indonesia Mengalami Anemia, Apa Bahayanya?cheneyclinic.com

Anemia terjadi ketika tubuh tidak memiliki sel darah merah yang cukup. Ini karena tubuh membuat sel darah merah yang terlalu sedikit, menghancurkan sel darah merah terlalu banyak, atau kehilangan sel darah merah yang berlebihan.

Tanda dan gejalanya adalah konsentrasi belajar dan produktivitas menurun, malas mengerjakan tugas, sering merasa pusing, bagian bawah mata pucat, kuku atau belakang tangan pucat, hingga 5L (lesu, lemah, letih, lelah, dan lalai).

"Dampak anemia adalah mengganggu performa intelektual dan kognitif serta menyebabkan perlambatan perkembangan psikomotor. Biasanya, mereka memiliki nilai rata-rata tes matematika dan membaca yang lebih rendah," Prof. Sandra memperingatkan.

Tak kalah penting, kerusakan sel-sel otak karena kekurangan zat besi tidak dapat diperbaiki. Jika di masa awal kehidupan tidak bisa memberi suplai yang memadai, sel otak jadi rusak, tidak optimal, dan tidak bisa diperbaiki setelahnya.

4. Zat besi bisa didapatkan dari mana saja?

1 dari 3 Anak Indonesia Mengalami Anemia, Apa Bahayanya?foodnavigator.com

Kebutuhan zat besi harian pada anak usia 1-3 tahun adalah 7 mg dan 10 mg pada anak usia 4-6 tahun. Zat besi dibagi menjadi dua, yaitu heme iron dan non-heme iron.

Heme iron berasal dari pangan hewani seperti daging merah, ikan, dan ayam dan sifatnya lebih mudah diserap tubuh. Sedangkan non-heme iron berasal dari sayuran, susu, dan telur dan sifatnya lebih sulit diserap tubuh.

"Perlu diingat, ada makanan yang membatasi absorpsi atau penyerapan zat besi, seperti tanin yang ada di teh, kopi, dan cokelat. Sebaiknya tidak dikonsumsi di waktu bersamaan karena membuat zat besi berkurang. Sebaiknya dikonsumsi 2 jam sebelum dan sesudah makan," saran Prof. Sandra.

Untuk membantu penyerapan zat besi, konsumsi vitamin C, yang bisa ditemukan di buah dan sayur seperti jeruk, jambu, stroberi, dan kiwi. Bisa juga menggunakan susu pertumbuhan yang telah difortifikasi dengan zat besi dan vitamin C.

Baca Juga: Anemia Defisiensi Besi pada Anak: Pemicu, Diagnosis, dan Pencegahan

Topic:

  • Nena Zakiah
  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya