Comscore Tracker

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182

Awalnya berkembang di limfosit, kemudian menyebar

Lama tidak terdengar, pemain bas band pop punk Blink-182, Mark Hoppus, muncul dengan kabar kurang menyenangkan. Lewat siaran langsung Twitch, ia menguraikan diagnosis kankernya, yaitu kanker limfoma.

"Kanker (saya) tidak berhubungan dengan tulang, itu berhubungan dengan darah. Darah saya mencoba membunuh saya. Klasifikasi saya adalah limfoma sel B besar menyebar (dengan) stadium IV-A. Saya berada di tahap IV, yang adalah (tahap) tertinggi," ungkapnya, dilansir The Hollywood Reporter.

Mari mengenal lebih dekat tentang kanker limfoma, mulai dari penyebab, gejala, cara diagnosis, hingga penanganannya.

1. Apa itu kanker limfoma?

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi kanker limfoma (news.cancerconnect.com)

Dilansir WebMD, kanker limfoma dimulai dari limfosit, yaitu sel-sel sistem kekebalan yang bertugas melawan infeksi. Sel-sel ini berada di kelenjar getah bening, sumsum tulang, limpa, timus, serta bagian tubuh lainnya.

Seseorang dikatakan mengidap kanker limfoma ketika limfositnya berubah dan tumbuh di luar kendali. Kanker limfoma cepat bermetastasis atau menyebar ke berbagai jaringan dan organ tubuh. Paling sering menyebar ke paru-paru, sumsum tulang, dan hati, dikutip Medical News Today.

2. Dibagi menjadi dua, yaitu limfoma non-Hodgkin dan Hodgkin

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi sel kanker (lifespan.io)

Kanker limfoma dibagi menjadi dua, yaitu non-Hodgkin dan Hodgkin. Yang paling umum adalah limfoma non-Hodgkin yang menyumbang 95 persen dari keseluruhan kasus. Kanker ini berkembang dari limfosit B dan T (sel) di kelenjar getah bening atau jaringan di seluruh tubuh.

Sementara itu, limfoma Hodgkin merupakan kanker sistem kekebalan. Dokter bisa mengidentifikasi jenis ini jika ada sel Reed-Sternberg, yakni limfosit B besar yang tidak normal. Limfoma Hodgkin hanya menyumbang 0,5 persen dari total kasus.

3. Seperti apa gejala kanker limfoma?

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi pembengkakan kelenjar getah bening (pbmchealth.org)

Gejala kanker limfoma yang paling dikenali adalah pembengkakan kelenjar getah bening, yang biasanya muncul di leher, ketiak, perut, dan selangkangan. Perlu diingat, tidak semua pasien kanker limfoma mengalami gejala ini.

Sering kali, pembengkakan ini tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, sakit akan terasa jika kelenjar membesar dan menekan organ, tulang, serta struktur tubuh lainnya. Pembengkakan ini tidak hilang dan nyeri akan menyertai jika terjadi infeksi.

Gejala lainnya adalah demam berkelanjutan, penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, kelelahan terus-menerus, kekurangan energi, menggigil, berkeringat di malam hari, gatal yang tidak wajar, serta nyeri pada kelenjar getah bening setelah mengonsumsi minuman beralkohol.

Terkadang, kanker limfoma non-Hodgkin memiliki gejala tambahan seperti nyeri atau bengkak di perut, batuk terus-menerus, sesak napas, dan nyeri, kelemahan, atau kelumpuhan jika kelenjar getah bening yang membesar menekan saraf atau sumsum tulang belakang.

Baca Juga: Kanker Payudara Ada di Urutan Teratas dengan Jumlah Kasus Terbanyak

4. Apa penyebab kanker limfoma?

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi laki-laki tua (unsplash.com/Jonathan Rados)

Belum diketahui secara pasti apa penyebab kanker limfoma. Yang jelas, kanker terjadi ketika limfosit mengembangkan mutasi genetik. Mutasi menyebabkan sel berkembang biak dengan cepat dan tak terkendali, dilansir Mayo Clinic.

Dari segi faktor risiko, seseorang lebih mungkin terkena kanker limfoma jika:

  • Berjenis kelamin laki-laki. Limfoma lebih mungkin terjadi pada laki-laki daripada perempuan.
  • Berusia 60 tahun atau lebih untuk limfoma non-Hodgkin.
  • Berusia antara 15-40 tahun atau di atas 55 tahun untuk limfoma Hodgkin.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misal karena HIV/AIDS, dilahirkan dengan penyakit kekebalan, atau telah menjalani transplantasi organ.
  • Mengidap penyakit seperti lupus, artritis reumatoid, penyakit seliak, atau sindrom Sjögren.
  • Memiliki kerabat dekat yang mengidap kanker limfoma.
  • Terinfeksi virus tertentu seperti hepatitis C, Epstein-Barr, atau limfoma sel T manusia (HTLV-1).
  • Pernah mendapat pengobatan kanker dengan radiasi.
  • Terpapar benzena atau bahan kimia untuk membunuh serangga dan gulma.

5. Bagaimana cara dokter mendiagnosis kanker limfoma?

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi pengambilan sampel sumsum tulang (together.stjude.org)

Bagaimana cara dokter mengetahui pasiennya terkena kanker limfoma atau tidak? Mengutip Mayo Clinic, prosedur untuk mendiagnosis kanker limfoma antara lain:

  • Pemeriksaan fisik, di mana dokter akan memeriksa apakah ada pembengkakan kelenjar getah bening. Termasuk di leher, ketiak, selangkangan, limpa, atau hati.
  • Melakukan prosedur biopsi di mana kelenjar getah bening diangkat semua atau sebagian lalu diuji di laboratorium.
  • Tes darah dilakukan untuk menghitung jumlah sel kanker dalam sampel darah. Dengan ini, dokter mendapat petunjuk untuk menentukan diagnosis.
  • Dengan prosedur aspirasi dan biopsi sumsum tulang. Caranya adalah memasukkan jarum ke tulang pinggul untuk mengambil sampel sumsum tulang. Lalu, sampel dianalisis untuk mencari sel limfoma.
  • Melakukan imaging test, seperti computerized tomography (CT) scan, magnetic resonance imaging (MRI), positron emission tomography (PET), serta sinar-X untuk perut, dada, dan panggul.

6. Apa pengobatan yang tepat untuk kanker limfoma?

Mengenal Kanker Limfoma yang Diderita Mark Hoppus, Bassis Blink-182ilustrasi kemoterapi (newscientist.com)

Sebenarnya, pengobatan tergantung pada stadium dan jenis kanker limfoma. Ada beberapa pilihan pengobatan untuk kanker limfoma, seperti:

  • Terapi antibodi, di mana antibodi sintetis dimasukkan ke dalam aliran darah untuk melawan kanker.
  • Radioimunoterapi, yaitu memberikan radioaktif dosis tinggi ke sel B kanker dan sel T untuk menghancurkannya.
  • Terapi biologi, yakni pengobatan yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang kanker. Caranya dengan memasukkan mikroorganisme hidup ke dalam tubuh.
  • Terapi radiasi yang memakai dosis radiasi terkonsentrasi untuk membunuh sel kanker. Tujuannya untuk menargetkan dan menghancurkan kanker.
  • Steroid bisa disuntikkan untuk mengobati kanker limfoma, tentunya dengan rekomendasi dokter.
  • Transplantasi sel induk untuk memulihkan sumsum tulang yang rusak setelah terapi radiasi atau kemoterapi dosis tinggi.
  • Pembedahan untuk mengangkat limpa atau organ lain setelah limfoma menyebar. Namun, umumnya pembedahan dilakukan untuk biopsi.
  • Kemoterapi, menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan sel kanker yang tumbuh cepat. Biasanya, kemoterapi diberikan lewat pembuluh darah, namun bisa juga diminum dalam bentuk pil.

Nah, itulah sekilas seputar kanker limfoma mulai dari definisi, penyebab, gejala, cara diagnosis, hingga pengobatan. Semoga kita terhindar dari penyakit ini, ya!

Baca Juga: Kanker Kolorektal, Kanker Terbanyak Ketiga di Indonesia

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya