Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jam

Untuk mengurangi risiko kecacatan permanen dan kematian

Pekan lalu, komedian senior Tukul Arwana dilarikan ke rumah sakit akibat pendarahan otak dan langsung menjalani operasi setelahnya. Kabar terakhir, laki-laki berusia 57 tahun tersebut masih harus menjalani masa pemulihan sekitar 14 hari pascaoperasi.

Pendarahan otak merupakan jenis stroke, yaitu kondisi darurat medis yang sebetulnya bisa dicegah. Jika stroke terjadi, maka harus segera dibawa ke rumah sakit secepat mungkin untuk meminimalkan risiko kecacatan permanen dan kematian, seperti yang diutarakan oleh Kementerian Kesehatan RI di situs resminya.

Berangkat dari isu tersebut, program Health Talk pada Jumat (24/9/2021) mengangkat tema "Kenali Bahaya Stroke, Cegah dari Sekarang, dan Kenali Penanganannya" yang disiarkan secara langsung di Instagram @idntimes. Narasumber yang dihadirkan adalah dr. Yohanna Kusuma, Sp.S, Cert, Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG, Head of Hyperacute Stroke Team dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON)/FK Unair.

1. Sebanyak 80 persen dari keseluruhan kasus adalah stroke penyumbatan

Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jamilustrasi dua jenis stroke (uclahealth.org)

Sebelum beranjak lebih jauh, dr. Yohanna menjelaskan tentang dua jenis stroke, yaitu stroke penyumbatan (stroke iskemik) dan stroke perdarahan (stroke hemoragik). Yang dominan adalah stroke penyumbatan, menyumbang sekitar 80 persen kasus, sedangkan stroke perdarahan hanya 20 persen.

Stroke penyumbatan ditandai dengan darah yang kental, sementara pada stroke perdarahan pembuluh darahnya yang bermasalah, seperti terlalu tipis sehingga gampang pecah (fragile) atau memang ada kelainan di pembuluh darahnya.

Dijelaskan lebih lanjut dalam buku berjudul Hemorrhagic Stroke yang diterbitkan pada tahun 2020, stroke hemoragik terjadi karena adanya perdarahan dalam otak akibat pecahnya pembuluh darah. Stroke jenis ini dikaitkan dengan morbiditas yang parah dan mortalitas (kematian) yang tinggi.

Sementara itu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), stroke iskemik terjadi ketika aliran darah yang memasok darah kaya oksigen ke otak tersumbat. Gumpalan darah inilah yang menyebabkan penyumbatan lalu mengarah ke stroke iskemik.

2. Harus dibawa ke rumah sakit kurang dari 4,5 jam

Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jamilustrasi pasien stroke (bangkokinternationalhospital.com)

Dalam penanganan stroke, dikenal istilah golden period atau periode emas, di mana pasien harus dibawa ke rumah sakit kurang dari 4,5 jam. Berdasarkan studi yang diterbitkan di The Indonesian Journal of Public Health pada tahun 2020, kecacatan bisa dicegah dan diminimalkan jika pasien memanfaatkan masa emas stroke iskemik.

Ini adalah penelitian deskriptif yang dilakukan pada 39 pasien pasca stroke iskemik usia produktif yang menjalani terapi lanjutan di Klinik Neurologi RSUD Sidoarjo pada tahun 2016. Hasilnya, 62 persen pasien stroke iskemik memanfaatkan periode emas. Sementara itu, yang terlambat masuk rumah sakit setelah serangan stroke dikarenakan ketidaktahuan akan tanda dan gejala stroke.

"Masih bisa diselamatkan asal di bawah 4,5 jam. Lebih cepat, lebih baik. Jadi, pemulihannya bisa lebih maksimal. Karena kalau misalnya sampai ke daerah yang kita sebut irreversible, gak bisa balik lagi (seperti sediakala)," jelas dr. Yohanna.

Dilansir INTEGRIS Health, pasien stroke memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan terhindar dari kerusakan otak jangka panjang jika mereka tiba di rumah sakit dan menerima perawatan dengan obat penghancur gumpalan yang disebut tissue plasminogen activator (TPA) dalam satu jam pertama.

Dikatakan juga kalau waktu yang hilang berarti otak yang hilang. Itulah mengapa mengenali tanda-tanda stroke sangat penting karena dapat menyelamatkan nyawa seseorang dan membantu mereka menghindari kerusakan otak.

3. Untuk mengenali gejala stroke, gunakan metode FAST

Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jamilustrasi metode FAST (mass.gov)

Ada cara mudah mengenali gejala stroke, yaitu dengan metode FAST. Menurut dr. Yohanna, FAST adalah singkatan dari face, arm, speech, dan time.

"F dari face, yaitu ada asymmetrical, misal bibirnya agak sedikit droop (terkulai) atau mencong. Kemudian arm, kayak lengan atau anggota gerak kaki terjadi kelumpuhan atau kelemahan. S dari speech, jadi bicaranya pelo atau malah nggak bisa ngomong sama sekali. Kalau T itu time, semakin cepat dibawa ke rumah sakit, semakin bagus," terangnya.

Ia menegaskan bahwa stroke tidak selalu lumpuh total tiba-tiba, melainkan bisa melemah pelan-pelan. Terkadang, ia menemui pasien yang mengeluhkan gejala kesemutan di bagian muka atau sekitar bibir, tetapi menghilang tidak lama kemudian, yang disebut transient ischemic attack (TIA).

"Atau kadang ada juga pasien saya yang tiba-tiba lupa. Waktu itu dia lagi karaoke sama istrinya. Tiba-tiba dia nggak ingat apa pun. Nggak tahunya dia stroke," tutur dr. Yohanna.

Dokter kandidat PhD yang tengah berada di Australia ini menjelaskan bahwa pembeda stroke dengan penyakit lainnya adalah sifatnya yang datang tiba-tiba. Jika misalnya seseorang sering sakit kepala sebelumnya, kemungkinan itu bukan stroke.

Baca Juga: 7 Fakta Fibrilasi Atrium, Detak Jantung Tak Teratur Penyebab Stroke

4. Seiring bertambahnya usia, risiko stroke meningkat 4 persen

Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jamilustrasi pasien stroke (flintrehab.com)

Anggapan bahwa stroke hanya diderita orang berusia tua tampaknya harus ditepis jauh-jauh. Sebab, menurut dr. Yohanna, stroke bisa menyerang semua usia. Ia mengatakan bahwa risiko terkena stroke meningkat sekitar 4 persen ketika usia bertambah.

"Makin meningkat usia, risikonya semakin tinggi. Kalau pada orang tua, pembuluh darahnya fragile (rapuh), bisa menyebabkan stroke perdarahan atau pecah (sewaktu-waktu)," ujar dr. Yohanna.

Salah satu penyebab lapisan pembuluh darah semakin tipis adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Jadi, pengidap hipertensi perlu rutin minum obat, rajin kontrol, dan menjaga tensinya di kisaran 120/80 mmHg.

5. Apa langkah pencegahan yang bisa dilakukan?

Pasien Stroke Harus Dibawa ke Rumah Sakit dalam 4,5 Jamilustrasi menolak makan junk food (alarabiya.net)

Masih belum terlambat, kita masih bisa mencegah stroke dari sekarang. Menurut dr. Yohanna, yang paling utama adalah menjaga pola makan, seperti banyak mengonsumsi buah dan sayur serta membatasi daging.

"Bukan saya bilang gak boleh sama sekali, kurangi aja. Misalnya seminggu sekali, itu masih acceptable. Jangan banyak makan goreng-gorengan atau yang mengandung trans fat seperti junk food," sarannya.

Langkah selanjutnya adalah melakukan medical check-up, misalnya dengan tes darah. Yang dilihat bukan hanya dari total kolesterol, tetapi semua komponen seperti LDL (kolesterol jahat), trigliserida, dan HDL (kolesterol baik).

Dokter Yohanna juga menceritakan bahwa di rumah sakit tempat ia bekerja terdapat alat untuk melihat plak di pembuluh darah leher, yang bisa terlihat melalui ultrasonografi (USG). Dari sana, bisa terlihat plaknya masih baru atau sudah lama serta aliran darahnya masih lancar atau tidak.

Opsi lainnya adalah dengan magnetic resonance imaging (MRI) untuk melihat struktur pembuluh darahnya ada sumbatan atau tidak. Semisal ada sumbatan, tidak langsung ditangani dengan tindakan operasi. Jika sumbatan masih kecil, bisa diatasi dengan obat-obatan, pola makan yang baik, dan olahraga.

Langkah pencegahan ini berlaku untuk semua kalangan usia, baik yang muda maupun yang tua. Ia juga mengingatkan untuk rutin mengonsumsi obat bagi mereka yang memiliki hipertensi dan diabetes agar tetap terkontrol. Tak lupa, menghindari stres, tidur yang cukup, dan jangan sering-sering begadang.

Baca Juga: Beda dengan Stroke, Ini 7 Fakta tentang Aneurisme yang Perlu Kamu Tahu

Topik:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya