Comscore Tracker

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?

Jujur, kadang kelakuan mereka bikin kesal!

Punya teman yang terus mengharapkan pujian, menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, tapi tak bisa menghadapi kritik sekecil apa pun? Itu adalah tanda-tanda dari gangguan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder). Sering bikin kesal, apakah mereka harus kita jauh agar tak terus-terusan emosi?

Perlu diketahui, gangguan narsistik bersifat klinis. Penelitian dalam jurnal Behavioral Medicine tahun 2007 menyebut bahwa orang-orang dengan gangguan kepribadian ini merasa dirinya luar biasa, punya fantasi bahwa dirinya memiliki kekuasaan dan kepentingan tak terbatas, dan selalu ingin dikagumi dan diperlakukan spesial.

Ada dua jenis gangguan kepribadian narsistik yang biasa dikenal, yaitu ekstrover narsistik dan introver narsistik. Artikel ini akan membahas jenis ekstrover narsistik, meski sebetulnya keduanya bisa saling berkaitan.

Tak sekadar toksik secara mental, orang-orang dengan gangguan kepribadian narsistik ternyatanya juga berbahaya secara fisik. Lantas, apakah orang-orang tersebut perlu kita jauhi? Agar kita lebih waspada, simak penjelasan berikut.

1. Manipulatif terhadap segalanya, termasuk memanipulasi kewarasan orang lain

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?unsplash.com/Eric Muhr

Seperti yang sudah disebut sebelumnya, orang-orang narsis gemar membuat beberapa khayalan dan pencitraan diri yang luar biasa, dan karena itulah mereka selalu berusaha membuat keadaan selalu berpihak padanya. Berbagai cara akan dilakukan, termasuk terus-menerus berbohong, berkhianat, bahkan gaslighting atau membalikkan fakta.

Sebuah penelitian berjudul "Voicing the Victims of Narcissistic Partners: A Qualitative Analysis of Responses to Narcissistic Injury and Self-Esteem Regulation"dalam jurnal SAGE Open tahun 2019 menyebut, sebagian efek yang didapat oleh korban orang yang narsistik adalah berupa perasaan tidak berharga, bingung, cemas, stres pasca trauma, hingga keinginan bunuh diri. 

2. Narsistik bisa berbahaya karena dapat menyerang mental dan fisik

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?unsplash.com/Brooke Lark

Masih dari penelitian yang sama, sikap ofensif dari kepribadian narsistik bisa begitu ekstrem. Disebutkan bahwa kemarahan ekstrem yang dilakukan oleh narsistik tipe ekstrover umumnya dipicu karena merasa harga dirinya diprovokasi.

Partisipan penelitian juga mengaku bahwa kekerasan secara psikologis dampaknya lebih signifikan serta bisa disertai ancaman kekerasan fisik, kontrol yang memaksa, dan perlakuan sistematis dalam menampik kenyataan yang diterima seseorang (gaslighting). 

Baca Juga: Suka Mendramatisir Keadaan? Waspadai Gangguan Kepribadian Histrionik

3. Tukang kontrol yang sering melampaui batas

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?unsplash.com/Sebastian Herrmann

Menurut sebuah laporan berjudul "Current Understanding of Narcissism and Narcissistic Personality Disorder" dalam jurnal BJPsych Advances tahun 2018, disebutkan beberapa kriteria gangguan kepribadian narsistik berdasarkan panduan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition: DSM-5). 

DSM adalah klasifikasi mendalam untuk berbagai gangguan kejiwaan yang diakui secara resmi, yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association.

Kepribadian narsistik memiliki fantasi menahun tentang kesuksesan, kekuasaan, daya tarik, keunggulan intelektualitas, dan hubungan asmara yang ideal.

Masih dari penelitian dalam jurnal SAGE Open tahun 2019, ditemukan bahwa baik ekstrover maupun introver narsistik menunjukkan sikap dominasi dan mendendam terhadap orang lain.

Lebih jauh, dikatakan juga bahwa kedua sikap ini kemungkinan didukung oleh naluri eksploitatif dan rasa berhak yang terlampau tinggi, yang mana sebenarnya adalah inti karakter para narsistik. 

4. Selalu ingin jadi fokus perhatian dan egoistik

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?Unsplash/Ilya Pavlov

Perasaan bahwa dirinya penting dan tebal muka pada narsisitik sebetulnya dikarenakan rasa rendah diri yang besar. Demi menutupi rasa rendah diri tersebut, narsistik hidup dalam berbagai delusi, seakan mereka adalah orang yang serba baik dan luar biasa. 

Sayangnya, untuk memperbaiki harga diri mereka, narsistik menggunakan harga diri orang lain sebagai "keset" untuk berdiri. Seorang yang narsistik memulihkan harga dirinya dengan cara merendahkan harga diri korbannya.

Sekilas, narsistik terlihat memiliki harga diri atau penilaian yang baik bagi dirinya sendiri. Faktanya, sebuah penelitian berjudul Narcissism and Self-esteem: A Nomological Network Analysis dalam jurnal PLOS One tahun 2018 mengungkapkan perbedaan mendasar antara seseorang dengan harga diri (self-esteem) yang baik versus narsistik.

Seseorang dengan harga diri yang ideal tidak melihat dunia ini hitam putih. Mereka dengan harga diri yang baik tidak melihat orang lain sebagai pecundang atau lebih rendah hanya karena mereka memandang dirinya secara positif. 

Sebaliknya, narsistik memandang dirinya sangat spesial, sementara orang lain lebih buruk. Terlebih lagi, mereka bersedia memanipulasi dan menginginkan kekuasaan atas orang lain.  

5. Apa yang terlihat bisa sangat berbeda dengan yang sebenarnya

Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?Unsplash/Sasha Freemind

Keinginan untuk selalu mendapat kekaguman atau pujian dari orang lain membuat pengidap gangguan kepribadian narsistik tampil sebagai orang yang baik dan luar biasa di depan orang lain. Sayangnya, tampilan ini hanya berlaku bagi orang asing (bukan orang terdekat). 

Salah satu ciri dari gangguan kepribadian narsistik seperti yang diungkapkan dalam jurnal BJPsych Advances tahun 2018 adalah keinginan untuk dikagumi. Namun, demi tujuan ini, pelaku narsistik akan berpura-pura di depan orang lain.

Sementara itu, penelitian berjudul "Living with Pathological Narcissism: a Qualitative Study" dalam jurnal Borderline Personality Disorder and Emotion Dysregulation tahun 2020 melibatkan orang-orang terdekat dan pernah dengan seorang narsistik. Ditemukan bahwa seorang narsistik sejatinya tidak ingin berempati atau memahami perspektif orang lain.

Untuk tahu seseorang punya gangguan kepribadian narsistik, tentu harus melalui diagnosis dari ahli kejiwaan.

Bila kamu menemukan tanda-tanda di atas pada orang yang kamu kenal, ada baiknya untuk mengajaknya bicara terlebih dulu, lalu mengajaknya berkonsultasi dengan ahli kejiwaan. Namun, bila tak berhasil, mungkin perlahan bisa kamu jauhi agar tidak mengorbankan kewarasan dan keselamatanmu.

Baca Juga: Awas, 5 Faktor Ini Berpotensi Picu Kepribadian Ganda Berkembang!

Novia Aisyah Photo Verified Writer Novia Aisyah

Some Scandinavian thoughts addict

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya