Comscore Tracker

Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatan

Herpes adalah kondisi seumur hidup

Herpes adalah hasil dari infeksi virus herpes simpleks atau herpes simplex virus (HSV). Ini menyebabkan kulit kering, lepuh, atau luka terbuka yang berair di samping gejala lainnya.

Ada dua tipe HSV, yaitu:

  • Virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) menyebabkan herpes oral, yang biasanya memengaruhi mulut dan kulit di sekitarnya, tetapi juga dapat memengaruhi daerah genital.
  • Virus herpes simpleks tipe 2 (HSV-2) biasanya menyebabkan herpes genital, biasanya ditularkan secara seksual.

Kedua jenis tersebut dapat membuat luka muncul di dan sekitar vulva, vagina, leher rahim, anus, penis, skrotum, pantat, paha bagian dalam, bibir, mulut, tenggorokan, dan secara jarang di mata.

HSV adalah virus yang umum. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 67 persen orang yang berusia di bawah usia 50 secara global memiliki infeksi HSV-1, dan 13 persen orang yang berusia di bawah 50 tahun memiliki infeksi HSV-2.

1. Perbedaan antara herpes genital dan herpes oral

Karena ada dua jenis virus herpes simpleks yang dapat hidup di banyak bagian tubuh, banyak orang yang bingung menamakan infeksi ini dengan apa. Namun, dilansir Planned Parenthood, sebenarnya ini cukup sederhana:

  • Saat kamu terinfeksi HSV-1 atau HSV-2 pada atau di sekitar alat kelamin (vulva, vagina, serviks, anus, penis, skrotum, pantat, paha bagian dalam), itu disebut herpes genital.
  • Ketika kamu mendapatkan HSV-1 atau HSV-2 di dalam atau di sekitar bibir, mulut, dan tenggorokan, itu disebut herpes oral. Luka herpes oral kadang-kadang disebut cold sore atau lepuh demam.

HSV-1 biasanya menyebabkan herpes oral, dan HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genital (setiap strain lebih suka tinggal di daerah favorit mereka). Akan tetapi, sangat mungkin bagi kedua jenis HSV untuk menginfeksi kedua area tersebut. Misalnya, kamu bisa mendapatkan HSV-1 pada alat kelamin jika seseorang dengan herpes oral di bibirnya memberi kamu seks oral. Kamu pun bisa mendapatkan HSV-2 di mulut jika kamu memberikan seks oral kepada seseorang dengan HSV-2 di alat kelaminnya.

2. Penularan

Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatanilustrasi outbreak herpes oral (researchgate.net/Periodontology 2000 80(1):28-48)

Herpes mudah menyebar dari kontak kulit ke kulit dengan seseorang yang memiliki virus. Kamu bisa mendapatkannya ketika alat kelamin dan/atau mulut menyentuh alat kelamin dan/atau mulutnya—biasanya selama seks oral, anal, dan vaginal.

Herpes dapat ditularkan bahkan jika penis atau lidah tidak masuk sepenuhnya ke dalam vagina, anus, atau mulut. Tidak perlu sampai laki-laki ejakulasi untuk menyebarkan herpes. Yang dibutuhkan hanya sentuhan dari kulit ke kulit yang cepat. Kamu juga bisa mendapatkan herpes dari mencium seseorang yang memiliki herpes oral.

Area kulit lain bisa terinfeksi apabila ada cara virus masuk, seperti melalui luka, luka bakar, ruam, atau luka lainnya. Kamu tidak harus berhubungan seks untuk mendapatkan herpes. Kadang-kadang herpes dapat ditularkan melalui cara non-seksual, seperti jika orang tua dengan sakit pilek memberi kecupan di bibir. Kebanyakan orang dengan herpes oral mendapatkannya ketika mereka masih anak-anak. Seorang ibu dapat menularkan herpes genital ke bayinya selama persalinan pervaginam, tetapi ini sangat jarang.

Kamu dapat menyebarkan herpes ke bagian lain dari tubuh jika menyentuh luka herpes dan kemudian menyentuh mulut, alat kelamin, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Kamu juga dapat menularkan herpes ke orang lain dengan cara ini.

Herpes paling menular ketika luka terbuka dan basah, karena cairan dari lepuh herpes mudah menyebarkan virus. Akan tetapi, herpes juga bisa mengalami tahap shedding, yang mana virus bisa ditularkan ke orang lain ketika tidak ada luka dan kulit terlihat sangat normal.

Kebanyakan orang mendapatkan herpes dari seseorang yang tidak memiliki luka. Virus mungkin hidup di tubuh selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala apa pun, jadi sangat sulit untuk mengetahui dengan pasti kapan dan bagaimana seseorang mendapatkannya. Itulah mengapa begitu banyak orang menderita herpes.

Karena virus mati dengan cepat di luar tubuh, kamu tidak bisa tertular herpes dari berpelukan, berpegangan tangan, batuk, bersin, atau duduk di kursi toilet.

3. Tahapan infeksi

Seperti dijelaskan dalam American Academy of Family Physicians, setelah terinfeksi virus, kamu akan melalui berbagai tahap infeksi:

Tahap primer

Tahap ini dimulai 2 hingga 8 hari setelah terinfeksi. Biasanya, infeksi menyebabkan kelompok lepuh kecil yang menyakitkan. Cairan dalam lepuh mungkin jernih atau keruh. Area di bawah lepuh akan berwarna merah. Lepuh pecah dan menjadi luka terbuka. Lepuh mungkin tidak terlihat, atau mungkin menyakitkan. Selama tahap ini mungkin kamu akan merasa sakit saat buang air kecil.

Sementara kebanyakan orang memiliki tahap infeksi primer yang menyakitkan, beberapa tidak memiliki gejala apa pun. Mereka bahkan mungkin tidak tahu bahwa mereka terinfeksi.

Tahap laten

Selama tahap ini, tidak ada lecet, luka, atau gejala lainnya. Virus berjalan dari kulit ke saraf di dekat tulang belakang.

Tahap shedding

Pada tahap shedding, virus mulai berkembang biak di ujung saraf. Jika ujung saraf ini berada di area tubuh yang membuat atau bersentuhan dengan cairan tubuh, virus bisa masuk ke cairan tubuh tersebut. Ini bisa termasuk air liur, air mani, atau cairan vagina. Tidak ada gejala selama tahap ini, tetapi virus dapat menyebar selama waktu ini. Ini berarti herpes sangat menular selama tahap ini.

Kekambuhan

Banyak orang mengalami lecet dan luka yang muncul kembali setelah serangan herpes pertama hilang. Ini disebut kekambuhan. Biasanya, gejalanya tidak separah saat serangan pertama.

Stres, sakit, atau lelah dapat mulai kambuh. Berada di bawah sinar matahari atau mengalami periode menstruasi juga dapat menyebabkan kekambuhan. Biasanya seseorang tahu dirinya mengalami kekambuhan jika merasa gatal, sensasi kesemutan, atau nyeri di tempat pertama kali terinfeksi.

4. Gejala

Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatanilustrasi luka atau lepuh pada infeksi virus herpes simpleks (msdmanuals.com/Demmler G: Congenital and perinatal infections. In Atlas of Infectious Diseases: Pediatric Infectious Diseases. Edited by CM Wilfert. Philadelphia, Current Medicine, 1998)

Orang yang mengalami gejala herpes mungkin pertama kali mengalami kesemutan, gatal, atau terbakar, kemudian melihat luka atau lecet yang terbentuk di sekitar mulut atau alat kelamin. Gejala cenderung berkembang 2–20 hari setelah terpapar virus.

Gejala herpes oral

Herpes oral menyebabkan lepuh yang berkembang di dalam atau di sekitar bibir dan mulut. Terkadang, lepuh terbentuk di tempat lain di wajah atau lidah, dan lebih jarang di area kulit lainnya. Luka biasanya berlangsung 2–3 minggu sebelum sembuh.

Gejala herpes kelamin

Luka ini cenderung berkembang di penis, di sekitar atau di dalam vagina, di bokong, atau di anus, meskipun bisa terbentuk di area kulit lainnya.

Herpes juga bisa menyebabkan rasa sakit saat buang air kecil, dan perubahan keputihan.

Pertama kali seseorang mengalami luka, mereka mungkin bertahan 2–6 minggu sebelum sembuh. Setelahnya, gejala mungkin sering kambuh. Seiring waktu, outbreak (periode gejala) bisa terjadi lebih jarang dan gejalanya biasanya menjadi kurang parah.

Segera setelah wabah awal ini, gejala mungkin sering kambuh. Seiring waktu, wabah dapat terjadi lebih jarang dan gejalanya biasanya menjadi kurang parah.

Gejala episode awal

Ini terjadi ketika seseorang pertama kali mengembangkan infeksi. Di samping luka atau lepuh, herpes mungkin dapat menyebabkan:

  • Rasa sakit dan gatal.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Demam.
  • Kelelahan dan merasa tidak enak badan.

Dalam kebanyakan kasus, lesi sembuh tanpa jaringan parut atau bekas luka jangka panjang.

Gejala yang berulang

Gejala yang muncul kembali mirip dengan gejala awal. Namun, gejala cenderung kurang parah dan bertahan untuk periode yang lebih pendek.

Penelitian dalam jurnal Therapeutics and Clinical Risk Management tahun 2008 menunjukkan bahwa sekitar 33 persen orang dengan herpes oral dan 50 persen orang dengan herpes genital mengalami gejala berulang.

Menurut American Sexual Health Association, selama setiap kekambuhan, gejala herpes oral cenderung berlangsung selama 8–10 hari, 

Gejala kekambuhan herpes genital juga berlangsung selama 8–10 hari, dan akan ada lebih sedikit luka daripada pada fase awal. Seseorang dapat menularkan herpes genital 2–5 hari selama kekambuhan.

Baca Juga: Herpes Mata: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan

5. Diagnosis

Karena seseorang mungkin tidak memiliki gejala bahkan jika menderita herpes, mungkin sulit untuk mengetahui kapan harus menemui dokter untuk diagnosis dan pengobatan.

Para ahli merekomendasikan untuk menemui dokter jika melihat ada lesi atau lepuh di sekitar alat kelamin. Infeksi menular seksual lain, seperti sifilis, bisa menimbulkan gejala serupa tetapi memerlukan perawatan yang berbeda. American Sexual Health Association juga merekomendasikan untuk menemui dokter untuk mendapatkan kultur lesi atau lesi herpes di bibir.

Ada berbagai tes yang tersedia untuk herpes. Beberapa tes dapat dilakukan jika terdapat gejala. Tes darah tersedia untuk orang yang mungkin tidak memiliki gejala atau jika tandanya sudah sembuh. Namun, tidak semua tes akurat, dan banyak penyedia layanan kesehatan tidak tahu pasti tentang jenis tes yang harus dilakukan.

6. Pengobatan

Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatanilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Dilansir Medical News Today, ada beberapa pilihan pengobatan untuk herpes oral dan genital:

Obat-obatan

Tidak ada obat yang dapat menghilangkan virus herpes. Namun, dokter mungkin meresepkan obat antivirus, seperti asiklovir, untuk mencegah virus berkembang biak. Sementara itu, perawatan herpes yang dijual bebas, sering kali krim, dapat membantu mengatasi sensasi kesemutan, gatal, dan nyeri.

Untuk mengurangi durasi outbreak secara signifikan, mulailah pengobatan dalam waktu 24 jam sejak gejala awal, misalnya, segera setelah kesemutan dimulai.

Jika menggunakan obat antivirus, gejala dapat sembuh 1–2 hari lebih cepat daripada jika tidak menggunakan pengobatan. Obat juga dapat mengurangi keparahan gejala.

Jika seseorang memiliki kurang dari enam kekambuhan herpes genital per tahun, dokter mungkin meresepkan obat antivirus pada setiap kekambuhan. Jika mengalami kekambuhan lebih sering, dokter mungkin menyarankan untuk mengonsumsi antivirus selama 6–12 bulan setiap kali. Menggunakan obat ini setiap hari untuk waktu yang lebih lama dapat secara signifikan mengurangi risiko menularkan herpes ke pasangan, meskipun masih mungkin menularkan.

Pengobatan rumahan

Jangan mengobati herpes dengan pengobatan rumahan tanpa berbicara dengan dokter terlebih dulu. Tidak ada penelitian yang mendukung efektivitas pengobatan rumahan dalam mengobati gejala herpes. Akan tetapi, ada beberapa cara yang dapat membantu meringankan ketidaknyamanan akibat gejala herpes:

  • Minum obat pereda nyeri, seperti asetaminofen atau ibuprofen.
  • Mandi di air asin ringan atau terapi air hangat sitz bath.
  • Menyemprotkan air dari botol atau bidet ke lepuh untuk mengurangi rasa sakit saat buang air kecil.
  • Mengoleskan gel lidah buaya ke luka.
  • Mengoleskan petroleum jelly ke daerah yang terkena.
  • Mengenakan pakaian longgar untuk menghindari iritasi.
    Menahan diri dari aktivitas seksual, bahkan dengan perlindungan, sampai gejalanya hilang.
  • Mengoleskan krim atau losion ke uretra sebelum buang air kecil, seperti yang mengandung lidokain.
  • Menggunakan ice pack dapat membantu. Namun, jangan pernah mengoleskan es langsung ke kulit—bungkus dengan kain terlebih dahulu.

Herpes bisa menyakitkan, tetapi umumnya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius seperti penyakit menular seksual lainnya.

Tanpa pengobatan, kamu mungkin terus mengalami outbreak, atau menjadi jarang. Beberapa orang secara alami berhenti mengalami outbreak setelah beberapa saat. Herpes biasanya tidak memburuk dari waktu ke waktu.

7. Herpes pada ibu hamil

Penting untuk menghindari herpes selama kehamilan. Jika pasangan menderita herpes dan kamu tidak memilikinya, pastikan untuk selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Pasangan dapat menularkan infeksi bahkan jika ia tidak sedang mengalami luka. Jika ada luka yang terlihat, hindari berhubungan seks sepenuhnya sampai luka sembuh.

Apabila kamu hamil dan memiliki herpes genital, atau jika pernah berhubungan seks dengan seseorang yang mengidapnya, beri tahu dokter. Dokter akan memberikan obat antivirus untuk mulai diminum menjelang akhir kehamilan. Ini akan memperkecil kemungkinan kamu mengalami outbreak pada atau menjelang hari persalinan.

Jika memiliki infeksi herpes genital aktif pada atau menjelang waktu melahirkan, kamu dapat menularkannya kepada bayi. Ketika bayi melewati jalan lahir, ia mungkin bersentuhan dengan luka dan terinfeksi virus. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otak, kebutaan, atau bahkan kematian pada bayi baru lahir.

Jika kamu memiliki wabah herpes genital pada saat melahirkan, dokter kemungkinan besar akan melahirkan bayi melalui operasi sesar, sehingga bayi tidak akan melalui jalan lahir dan terpapar virus. Ini mengurangi risiko menularkan herpes pada bayi.

8. Pencegahan

Herpes: Jenis, Gejala, Penularan, dan Pengobatanilustrasi safe sex atau seks aman, kondom (pexels.com/Deon Black)

Langkah-langkah di bawah ini bisa mengurangi risiko mengembangkan atau menularkan herpes:

  • Gunakan kondom saat berhubungan seks.
  • Tidak berhubungan seks saat gejala muncul.
  • Tidak berciuman dan melakukan oral seks ketika ada luka di sekitar mulut.
  • Cuci tangan secara menyeluruh, terutama setelah menyentuh area yang terkena, selama mengalami luka.

Stres, kelelahan, penyakit, gesekan kulit, dan berjemur dapat memicu kekambuhan gejala pada beberapa orang.

Mengidentifikasi dan menghindari pemicu di atas ini dapat membantu mengurangi timbulnya outbreak.

Herpes adalah kondisi seumur hidup. Infeksi herpes dapat menyebabkan outbreak, tetapi ada juga saat-saat tidak mengalami gejala. Tanda utama herpes adalah luka yang muncul pada kulit yang terinfeksi. Beberapa orang memilih untuk tidak mengobati herpes, terutama jika gejalanya ringan, sementara yang lain menggunakan obat antivirus untuk mengurangi keparahan dan frekuensi outbreak.

Baca Juga: Bisakah Herpes Menular di Kolam Renang? Begini Penjelasannya 

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya