Comscore Tracker

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepat

Isolasi diri sebelum tes dan selama menunggu hasilnya

Penularan COVID-19 di antara anggota keluarga di rumah setelah seseorang terinfeksi dikatakan kejadiannya umum dan terjadi dengan cepat setelah gejala awal muncul. Ini merupakan temuan terbaru dari studi yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).

Laporan berjudul "Transmission of SARS-COV-2 Infections in Households — Tennessee and Wisconsin, April–September 2020" dalam Morbidity and Mortality Weekly Report yang diterbitkan oleh CDC pada hari Jumat lalu (30/10/2020) juga menyebut bahwa seseorang yang terpapar atau dicurigai tertular COVID-19 harus diisolasi sebelum menjalani tes dan terus menjalani isolasi hingga hasil tes keluar. Tujuan utamanya untuk melindungi anggota keluarga lainnya di rumah.

1. Semua penghuni rumah sangat dianjurkan untuk pakai masker

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatpixabay.com/Venita Oberholster

Melansir CNN, tim peneliti juga mengemukakan bahwa isolasi diri secepatnya dapat mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2, virus corona strain baru penyebab COVID-19, di lingkungan rumah.

Hindari keluar rumah, gunakan kamar tidur terpisah, dan bila memungkinkan kamar mandi terpisah. Selain itu, semua orang yang ada rumah sangat dianjurkan untuk memakai masker sepanjang waktu bila berada di ruang umum seperti ruang tamu, ruang keluarga, atau ruang makan.

2. Penularan bisa terjadi dalam hitungan hari

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatfreepik.com/freepik

Tim peneliti dari CDC mengamati 101 keluarga yang terinfeksi COVID-19 di Nashville, Tennessee, dan Marshfield, Wisconsin, Amerika Serikat (AS) antara bulan April hingga September 2020.

Bersama dengan 191 orang lainnya yang tinggal di rumah, orang yang terinfeksi dilatih untuk mengambil spesimen sendiri, yaitu usap (swab) hidung atau usap hidung dan saliva, setiap hari selama 14 hari. Selain itu, tiap orang juga mencatat gejala yang dialami.

Peneliti menemukan bahwa infeksi terjadi cepat. Lebih dari setengah (53 persen) orang yang tinggal dengan seseorang yang positif COVID-19 ikut tertular dalam seminggu. Sekitar 75 persen dari infeksi sekunder ini terjadi dalam 5 hari sejak gejala muncul pada pasien pertama.

"Penularan substansial terjadi entah pasien indeks (kasus pertama yang teridentifikasi dalam sekelompok kasus terkait penyakit menular atau penyakit tertentu yang dapat diturunkan) adalah orang dewasa atau anak-anak," kata peneliti seperti dikutip dari CNN.

Tingkat infeksi dalam rumah tangga adalah sebesar 53 persen, lebih tinggi dari yang terdokumentasi sejauh ini. Hingga saat ini, penelitian terkait melaporkan tingkat infeksi hanya 20-40 persen.

Temuan penting dari penelitian ini adalah, bahwa kurang dari setengah anggota keluarga di rumah dengan infeksi SARS-CoV-2 yang terkonfirmasi melaporkan gejala pada saat infeksi pertama kali terdeteksi.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa banyak yang melaporkan tidak ada gejala apa pun selama 7 hari masa tindak lanjut, menggarisbawahi potensi penularan dari kontak sekunder tanpa gejala dan pentingnya isolasi atau karantina.

Baca Juga: Bisa Serang Saraf, Ini Daftar 7 Gejala COVID-19 Terbaru

3. Pentingnya isolasi diri dari orang lain yang tinggal serumah

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatpexels.com/Two Dreamers

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), berikut ini adalah protokol isolasi mandiri COVID-19:

  • Selalu memakai masker dan membuang masker bekas di tempat yang ditentukan.
  • Jika sakit (gejala demam, flu dan batuk), maka tetap di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar, atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat.
  • Manfaatkan fasilitas telemedicine atau media sosial kesehatan dan hindari transportasi publik. Beri tahu dokter dan perawat tentang keluhan dan gejala, serta riwayat bekerja ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien COVID-19.
  • Selama di rumah, bisa bekerja di rumah. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya dan jaga jarak 1 meter dari anggota keluarga.
  • Tentukan pengecekan suhu harian, amati batuk dan sesak napas. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, mandi, dan tempat tidur.
  • Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan lakukan etika batuk dan bersin.
  • Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan disinfektan. Selalu berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi (±15-30 menit).
  • Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut seperti sesak napas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Bila kesulitan, jangan sungkan untuk minta bantuan orang-orang yang kamu percaya. Misalnya menitipkan anak, minta tolong membelikan obat, atau urusan lainnya.

4. Saat isolasi mandiri, pastikan untuk menyediakan barang-barang ini

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatunsplash.com/Mika Baumeister

Melansir CNN, pastikan untuk memiliki persediaan ini di rumah saat melakukan isolasi mandiri:

  • Termometer untuk memonitor demam beserta isopropil alkohol untuk membersihkannya.
  • Obat pereda demam, misalnya asetaminofen atau sesuai anjuran dokter.
  • Sarung tangan dan masker sekali pakai.
  • Pasokan obat resep dokter yang diperlukan selama 60-90 hari bila sedang dalam pengobatan.
  • Sabun dan hand sanitizer yang mengandung 70 persen alkohol.
  • Tisu untuk menutup mulut saat bersin dan batuk.
  • Pembersih reguler, sarung tangan untuk membersihkan dapur, dan tempat sampah berpenutup.
  • Produk disinfektan yang aman dan telah memiliki izin edar. Bisa juga membuatnya dengan mencampurkan 1/3 cup pemutih dengan 16 cup air. Jangan mencampurkan pemutih dengan amonia atau pembersih lainnya, karena bisa melepaskan gas beracun.

5. Lakukan disinfeksi dengan benar

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatunsplash.com/CDC

Untuk disinfeksi, lakukan dengan mengacu panduan dari Kemenkes berikut ini:

  • Pastikan area yang akan didisinfeksi dalam keadaan tidak ada manusia dan hewan.
  • Pakai alat perlindungan diri (APD) lengkap, yaitu baju pelindung, penutup kepala, masker, kacamata goggle, sarung tangan sekali pakai, dan sepatu bot.
  • Bersihkan terlebih dulu area dan permukaan benda yang kotor dengan detergen atau sabun.
  • Disinfeksi permukaan benda yang tidak datar seperti tiang, pegangan tangan, dan sebagainya dengan lap flanel atau kain microfiber. Lakukan disinfeksi permukaan benda yang datar seperti lantai, meja, kursi, dan sebagainya dengan penyemprot (sprayer). Lakukan disinfeksi benda berpori seperti karpet, permadani, atau tirai dengan cara mencucinya dengan air bersih dan detergen.
  • Setelah selesai, lepaskan APD. Bersihkan APD yang dapat dipakai ulang. Simpan peralatan di tempat yang aman. Buang masker dan sarung tangan sekali pakai ke tempat sampah.
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir.

Sementara itu, area yang harus dibersihkan dan didisinfeksi di rumah atau permukiman adalah: lantai, remote TV dan AC, komputer, toilet, saklar lampu, sandaran tangan kursi, pegangan pintu, dan fasilitas atau benda lainnya yang disentuh banyak orang.

6. Berapa lama harus isolasi mandiri?

CDC: Penularan COVID-19 dalam Keluarga Terjadi dengan Cepatpexels.com/Andrea Piacquadio

Menurut keterangan dari CDC, bila positif COVID-19 tanpa adanya gejala, kita dianjurkan untuk isolasi mandiri selama 10 hari sejak hari terkonfirmasi positif lewat tes PCR.

Bila ada gejala, pasien bisa berada di sekitar orang lain ketika:

  • Sudah 10 hari sejak gejala pertama muncul
  • Sudah 24 jam tanpa demam tanpa mengonsumsi obat penurun demam
  • Gejala COVID-19 lainnya membaik

Beberapa orang dengan infeksi parah mungkin dapat menghasilkan virus yang mampu bereplikasi lebih dari 10 hari, sehingga mungkin perlu durasi isolasi yang lebih lama, serta tindakan pencegahan hingga 20 hari setelah gejala awal. Baiknya kasus seperti ini diawasi oleh tenaga kesehatan.

Hilangnya kemampuan indra penciuman dan pengecap bisa bertahan selama beberapa minggu, bahkan beberapa bulan setelah pulih. Namun, ini bukan berarti kita harus terus mengarantina diri.

Meski begitu, bila memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah atau sakit parah akibat infeksi COVID-19, misalnya dirawat inap dengan bantuan ventilator, sangat mungkin orang tersebut butuh isolasi lebih lama dari 10 hari sejak gejala awal muncul (mungkin bisa sampai 20 hari), menurut pernyataan dari CDC.

Orang-orang dengan gangguan sistem imun yang parah mungkin butuh tes untuk menentukan kapan mereka bisa kembali berbaur. Ini harus dikonsultasikan dengan dokter.

Itulah penjelasan tentang potensi penularan COVID-19 di rumah beserta cara mencegah penularan dirimu atau ada orang di rumah yang terkonfirmasi positif COVID-19. Jangan lengah, tetap jaga diri sebaik mungkin dengan pola hidup bersih dan sehat.

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3M: Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik, dan rajin Mencuci Tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times.

Baca Juga: Apakah Pembengkakan Kelenjar Getah Bening Termasuk Gejala COVID-19?

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya