Comscore Tracker

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian Dependen

Mereka cenderung menghindar dari tanggung jawab

Meski makhluk sosial, manusia juga merupakan individu yang harus punya kemampuan secara independen, baik dalam pekerjaan atau aktivitas lainnya. Saat masih kecil, wajar kalau kita butuh bantuan orang lain. Ketika beranjak dewasa, kita dituntut untuk mendiri, terutama dalam mengambil keputusan dan menghadapi masalah. 

Bukan berarti membutuhkan bantuan orang lain itu salah. Namun, ada orang-orang yang selalu menggantungkan segala urusannya kepada orang lain, membuatnya tak mampu untuk menyelesaikannya sendiri. Kondisi ini merupakan tanda gangguan kepribadian dependen (dependent personality disorder atau DPD).

Berdasarkan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5 (DSM-5) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association, DPD masuk dalam cluster C, bersama dengan gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder atau APD) dan gangguan obsesif kompulsif (OCD).

Apakah kamu merasa terlalu bergantung atau mengandalkan orang lain? Yuk, kenali lebih jauh tentang gangguan kepribadian dependen lewat ulasan di bawah ini.

1. Tidak bisa hidup mandiri

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian DependenOrang dengan gangguan kepribadian dependen selalu membutuhkan bantuan orang lain. pexels.com/Marina Shatskih

Melansir Healthline dan Psychology Today, DPD adalah salah satu gangguan kepribadian yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk melakukan berbagai hal sendirian. Penderitanya memiliki ketergantungan berlebihan terhadap orang lain untuk mendapatkan kenyamanan, kepastian, nasihat, serta dukungan.

Orang-orang dengan DPD sulit untuk berkata "tidak", terutama kepada orang yang dianggap penting dalam hidupnya. Mereka sulit untuk hidup mandiri, sehingga mereka akan bersikap setuju, sekalipun pada hal-hal yang mereka anggap salah. Mereka rela melakukannya daripada harus berpisah atau kehilangan orang-orang yang bisa mereka diandalkan.

Penyebab DPD belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor berikut ini diyakini berperan dalam perkembangan gangguan kepribadian tersebut:

  • Pernah merasa terabaikan atau ditinggalkan seseorang
  • Mendapat pola asuh yang terlalu protektif atau otoriter
  • Mengalami tindakan kekerasan di masa lalu
  • Trauma masa kecil
  • Memiliki hubungan yang penuh kekerasan
  • Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan

2. Cenderung bersikap pesimis dan tidak percaya diri

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian DependenOrang dengan DPD cenderung membiarkan orang lain untuk mengambil inisiatif dan tanggung jawab atas sebagian besar kehidupannya. unsplash.com/Christian Newman

Seseorang dengan DPD biasanya pertama kali menunjukkan tanda-tanda pada awal hingga pertengahan masa dewasa. Dirangkum berbagai sumber, mereka sering bersikal pesimis dan meremehkan kemampuan dirinya sendiri. Kritik dan ketidaksetujuan dianggap sebagai bukti bahwa mereka tidak berharga, membuat hilang kepercayaan diri.

Kondisi ini juga memengaruhi aktivitas sehari-hari yang perlu inisiatif. Tidak bisa memutuskan sesuatu seorang diri membuat mereka cenderung menghindar dari tanggung jawab dan cemas bila dihadapkan pada hal-hal yang butuh pengambilan keputusan.

Sulit bekerja secara mandiri, individu dengan DPD akan minta bantuan atau kepastian dari orang lain sebelum mulai mengerjakan tugas. Hubungan sosial juga bisa menjadi terbatas, hanya pada orang-orang yang menjadi sandaran mereka.

Mereka juga cenderung bersikap pasif serta membiarkan orang lain untuk mengambil inisiatif dan tanggung jawab atas sebagian besar kehidupannya.

Baca Juga: Punya Teman dengan Gangguan Kepribadian Narsistik, Perlukah Dijauhi?

3. Timbul rasa cemas saat sedang sendirian

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian DependenOrang-orang dengan DPD sering merasa cemas saat sendirian. unsplash.com/Mike Palmowski

Orang-orang dengan DPD merasa tidak nyaman atau tidak berdaya saat sendirian, karena merasa takut jika tak bisa mengurus dirinya. 

Ketika suatu hubungan dekat berakhir, misalnya putus cinta, pertemanan, atau ditinggalkan orang terdekat), mereka akan segera mencari hubungan lain untuk mendapatkan kepedulian dan dukungan.

Saat sedang sendiri, orang dengan DPD juga bisa mengalami kecemasan, gugup, serangan panik, ketakutan, dan keputusasaan.

4. Berisiko memunculkan kondisi mental lain jika tidak ditangani

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian DependenPenderita DPD bisa mengalami depresi. pexels.com/Kat Jayne

Dalam diagnosis DPD, butuh pemeriksaan oleh ahli kejiwaan. Menurut sebuah laporan dalam Graduate Journal of Counseling Psychology  tahun 2009, diagnosis gangguan kepribadian ini lebih banyak ditemukan pada perempuan ketimbang laki-laki, meskipun ada penelitian lainnya yang menunjukkan prevalensi yang sama.

Lelaki dikatakan lebih kemungkinannya untuk mengenali dan mengakui sifat atau perilaku ketergantungan terhadap orang lain ini.

Berbagai gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien akan dibandingkan dengan kriteria-kriteria yang memenuhi diagnosis. Setelah diagnosis ditentukan, penderita DPD perlu mendapatkan penanganan. Jika dibiarkan, maka berisiko memunculkan kondisi mental lainnya.

Mengutip Cleveland Clinic dan Healthline, komplikasi yang bisa muncul dari DPD yang tidak ditangani adalah gangguan kecemasan, depresi, fobia tertentu, serta penyalahgunaan zat. 

Penanganan sedini mungkin dapat mencegah perkembangan DPD menjadi komplikasi-komplikasi tersebut.

5. Perawatan dilakukan dengan psikoterapi dan obat-obatan

Selalu Mengandalkan Orang Lain, Kenali Gangguan Kepribadian Dependenpixabay.com/StockSnap

Melansir Cleveland Clinic, perawatan untuk DPD bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan membantu pasien merasa memiliki kemampuan bertindak secara independen, sekaligus tetap menjaga hubungan dengan orang lain. 

Psikoterapi adalah perawatan utama, tujuannya untuk membantu pasien menjadi lebih aktif dan mandiri, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Obat-obatan juga mungkin akan diresepkan oleh dokter untuk mengatasi gejala kecemasan dan depresi yang dialami pasien.

Manusia memang membutuhkan bantuan dari orang lain dalam menjalani kehidupan. Meski begitu, jangan sampai berlebihan hingga kehilangan rasa percaya diri. Berlatihlah untuk memunculkan inisiatif dan mengambil keputusan sendiri dalam mengerjakan berbagai hal agar tidak selalu mengandalkan atau menggantungkan diri kepada orang lain.

Baca Juga: Tak Mau Bergaul karena Minder? Waspada Gangguan Kepribadian Menghindar

Rifa Photo Verified Writer Rifa

.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya