Comscore Tracker

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langka

Seseorang mengalami waktu tidur yang berlebihan

Pada Juli 2020 lalu, sempat viral seorang bayi laki-laki berusia 18 bulan mengembuskan napas terakhirnya setelah terdiagnosis sindrom sleeping beauty selama 1 tahun. Kondisi apakah ini?

Sindrom sleeping beauty atau sindrom putri tidur juga dikenal sebagai Kleine-Levin syndrome (KLS), adalah kelainan langka fungsi otak yang ditandai dengan episode hipersomnia (rasa kantuk berlebihan di siang hari) berulang, hiperfagia (rasa lapar berlebihan), gangguan kognitif (kemampuan berpikir), dan hiperseksualitas (kelainan seksual).

Sindrom ini lebih dominan terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, serta lebih dominan pada remaja dibandingkan anak-anak ataupun dewasa. Durasi serangan berkisar dari beberapa hari hingga beberapa minggu dan frekuensinya bisa 1 hingga 12 kali dalam setahun.

Penasaran mengetahui sindrom langka ini lebih lanjut? Simak fakta-fakta medisnya berikut ini, ya!

1. Sindrom ini membentuk terjadinya episode hipersomnia berulang

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langkasleepopolis.com

Hipersomnia merupakan kondisi ketika seseorang merasa mengantuk secara berlebihan seharian atau mengalami kesulitan untuk terjaga selama siang hari, sehingga waktu tidurnya berlebihan. Ini adalah salah satu karakteristik dari seseorang dengan sindrom putri tidur, dan sangat mungkin terjadi secara berulang.

Episode berulang dapat diselingi oleh tidur normal. Episode terjadinya bisa berlangsung dari 2 hari hingga beberapa minggu. Interval antar episode berkisar 15 hari hingga 72 bulan (rata-rata 3,5 bulan).

Sindrom ini dikategorikan dalam tiga bentuk, yaitu ringan, sedang, dan berat.

Kategori ringan mempunyai episode dengan durasi singkat, yang mana serangan berlangsung selama 1 minggu dan mengalami gejala 2 hingga 3 kali per tahun.

Pada kategori sedang, episodenya lebih sering, sekitar 1 per tahun, berlangsung 7 hingga 10 hari dan mengalami lebih sedikit episode per tahun, tetapi durasinya berlangsung lebih lama. Durasi lama lebih cenderung terjadi pada orang dewasa dibandingkan remaja maupun anak-anak.

Sementara itu, pada kategori berat, terjadi banyak episode per tahun, yaitu sebanyak 40 hingga 80.

2. Ketidaknormalan mental bisa hadir setiap episode

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langkapexels.com/Andrew Neel

Ketidaknormalan mental mungkin terjadi lebih dulu setiap episode dan memungkinkan untuk bertahan selama berminggu-minggu setelahnya. Kecemasan, kebingungan mental, delusi, dan halusinasi merupakan gejala kejiwaan yang biasa terjadi pada orang-orang dengan sindrom sleeping beauty. Namun, permasalahan psikiatris ini seringnya ringan dan singkat.

Perubahan perilaku juga dapat terjadi, seperti berbicara kekanakan, antisosial, agresif baik secara verbal maupun fisik khususnya ketika dicegah untuk tidur. Hal inilah yang menyebabkan keluarga dan teman-teman menghindari menentang ataupun berinteraksi dengan pasien selama episode terjadi. Ini lebih sering terjadi pada perempuan. 

Orang dengan sindrom putri tidur cenderung menjadi diam dan memilih menghabiskan waktu yang lama di kamar, baik tidur atau berbaring dalam suasana gelap.

Baca Juga: Tanpa Sadar, Kamu Bisa Alami Sindrom Ini Setidaknya Sekali dalam Hidup

3. Lebih dominan terjadi pada remaja laki-laki, tetapi jangka panjang bila terjadi pada perempuan

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langkafreepik.com/gpointstudio

Sindrom ini lebih dominan terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, yaitu 3:1, dan lebih dominan pada usia remaja (rata-rata 15 tahun) ketimbang dewasa maupun anak-anak.

Beberapa kasus episode mulai terjadi pada anak-anak di bawah 9 tahun dan pada orang dewasa lebih dari usia 35 tahun. Pada perempuan lebih dominan pada usia yang lebih tua dari pada laki-laki.

Di samping itu, dari berbagai laporan kasus, apabila terjadi pada perempuan lebih cenderung jangka panjang dibandingkan laki-laki. Mungkin hal ini disebabkan oleh gangguan psikiatris yang cenderung lebih terjadi pada perempuan.

4. Penyebab pastinya belum diketahui

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langkapexels.com/John-Mark Smith

Belum diketahui secara pasti apa penyebab sindrom ini. Namun, dari beberapa penelitian, ada berbagai hipotesis apa faktor penyebab munculnya episode awal sindrom ini. Di antaranya adalah kemungkinan kondisi autoimun, infeksi pernapasan, konsumsi alkohol, trauma, kurang tidur, dan stres mental.

Penyebab lainnya termasuk faktor menstruasi, laktasi (menyusui), infeksi pernapasan, konsumsi alkohol, trauma, kurang tidur, dan stres mental.

Selain itu juga diperkirakan adanya faktor genetik. Hal ini dikarenakan adanya kasus keluarga yang mengidap sindrom ini lebih dari satu anggota keluarga. Sehingga dianggap genetik sebagai faktor infeksi pengembangan sindrom ini yang mungkin menyebabkan beberapa orang cenderung mengalami sindrom ini.

5. Banyak penderita melaporkan kelainan kognitif, seperti kesulitan berbicara, membaca, dan gangguan ingatan

5 Fakta Penting Sindrom Sleeping Beauty, Kelainan Tidur Langkawww.learninglinks.org.au

Selama episode terjadi, banyak pengidap yang mengeluh mengalami kelainan kognitif seperti kesulitan berbicara, membaca, dan gangguan ingatan. Setelah kembali normal, pengidap sulit mengingat rincian peristiwa selama episode sebelumnya. Hampir semua pengidap juga mengalami kesulitan dengan konsentrasi. Turunnya rentang perhatian meningkatkan kesalahan karena tugas menjadi lebih sulit.

Selain itu juga mengalami kesulitan multitasking dan bahkan melakukan tugas rutin. Penalaran logis juga berkurang, dengan penurunan IQ nonverbal dibandingkan dengan kontrol. Juga terjadinya penurunan kinerja di sekolah dan bekerja pada remaja yang tidak masuk sekolah beberapa hari selama mengalami episode.

Dari berbagai fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa sindrom sleeping beauty ini merupakan kelainan neurologis dan diwarnai dengan gangguan psikiatris yang sangat memengaruhi kualitas hidup pengidapnya. Mari jalani hari-hari dengan hal-hal produktif yang dapat menjaga kesehatan fisik dan mental kita!

Baca Juga: Mengenal Broken Heart Syndrome: Sindrom Mematikan Akibat Patah Hati

Sarah Ferwinda Photo Writer Sarah Ferwinda

Who passionate about writing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya