Comscore Tracker

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosis

Ditularkan oleh kencing tikus

Indonesia kembali berduka. Masih di tengah masa pandemik COVID-19, masyarakat dikagetkan dengan Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 lalu. Belum selesai, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria dalam sebuah wawancara pada 18 Januari 2020 lalu di Balai Kota meminta warga Jakarta untuk siap-siap akan kemungkinan terjadinya banjir.

Di Jakarta sudah memasuki musim hujan, kita harus bersiap-siap bahwa di Jakarta ini berdasarkan data ke depan akan ada peningkatan intensitas daripada curah hujan yang berpotensi menyebabkan banjir, ujar Riza.

Walaupun banjir bukanlah hal asing bagi warga Jakarta, tetapi tetap saja ini dikhawatirkan karena dampaknya. Salah satu hal yang perlu diwaspadai juga termasuk penyakit yang kerap menyertai banjir seperti leptospirosis. Yuk, kenali penyakit ini supaya kamu bisa lebih waspada!

1. Apa penyebab leptospirosis?

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosisfreepik.com/wirestock

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Menurut keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), leptospirosis adalah penyakit yang menginfeksi hewan dan manusia. 

Seseorang bisa terinfeksi lewat:

  • Minum air yang terkontaminasi
  • Luka yang tidak sembuh atau luka yang bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi
  • Mata, hidung, atau mulut yang bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi
  • Kontak dengan darah atau binatang yang terinfeksi, tetapi ini jarang terjadi
  • Infeksi jarang terjadi antara manusia, tetapi terkadang bisa terjadi saat berhubungan seksual atau menyusui

Beberapa hewan yang turut berkontribusi dalam penyebaran atau penularan penyakit ini adalah hewan pengerat seperti tikus, serta hewan ternak seperti sapi, kuda, babi, dan anjing.

Leptospirosis lebih umum terjadi di area tropis. Menurut laporan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan penyakit ini memengaruhi 10 atau lebih dari 100.000 orang setiap tahunnya.

Di iklim sedang, mungkin memengaruhi antara 0,1 dan 1 per 100.000 orang. Dalam kondisi epidemi, penyakit ini dapat memengaruhi 100 atau lebih dari setiap 100.000 orang. Orang yang bepergian ke daerah tropis memiliki risiko paparan yang lebih tinggi.

2. Gejala leptospirosis yang harus diwaspadai

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosisunsplash.com

Berdasarkan laporan dalam jurnal Current Topics in Microbiology and Immunology, waktu dari masuknya bakteri ke dalam tubuh sampai menimbulkan gejala (masa inkubasi) adalah sekitar 7 sampai 12 hari.

Masa inkubasi ini dapat lebih cepat, dalam 3 hari ataupun lebih lama dalam 1 bulan, semua tergantung daya tahan tubuh pasien dan juga tingkat infeksius bakteri. 

Melansir Medical News Today, pada kasus leptospirosis ringan, gejalanya adalah:

  • Demam dan menggigil
  • Batuk
  • Diare, muntah, atau keduanya
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot, terutama punggung bawah dan betis
  • Ruam
  • Mata merah dan iritasi
  • Penyakit kuning (jaundice)

Kebanyakan orang bisa pulih dalam waktu seminggu tanpa pengobatan, tetapi sekitar 10 persen akan mengembangkan leptospirosis parah.

Pada leptospirosis parah, tanda dan gejalanya akan muncul beberapa hari setelah gejala leptospirosis ringan hilang. Gejalanya bergantung pada organ mana yang terdampak. Ini dapat menyebabkan gagal ginjal atau gagal hati, gangguan pernapasan (respiratory distress), dan meningitis. Ini bisa berakibat fatal.

Bila leptospirosis memengaruhi jantung, hati, dan ginjal, pasien akan mengalami gejala berikut ini:

  • Kelelahan
  • Detak jantung tidak teratur, sering kali cepat
  • Nyeri otot
  • Mual
  • Mimisan
  • Sakit di dada
  • Terengah-engah
  • Nafsu makan yang buruk
  • Pembengkakan di tangan, kaki, atau pergelangan kaki
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Jaundice, terlihat pada bagian putih mata, lidah, dan kulit yang menguning

Bila tidak mendapat perawatan, bisa terjadi gagal gijal yang dapat mengancam nyawa.

Apabila leptospirosis memengaruhi otak atau sumsum tulang belakang, meningitis, ensefalitis, atau keduanya bisa berkembang.

Meningitis adalah infeksi pada selaput yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan ensefalitis mengacu pada infeksi jaringan otak. Kedua kondisi tersebut memiliki tanda dan gejala yang serupa, yakni:

  • Kebingungan atau disorientasi
  • Kantuk
  • Kejang
  • Demam tinggi
  • Mual
  • Fotofobia atau sensitif terhadap cahaya
  • Masalah dengan gerakan fisik
  • Leher kaku
  • Tak mampu bicara
  • Muntah
  • Perilaku agresif atau tidak biasa

Meningitis atau ensefalitis yang tidak ditangani dapat menyebabkan kerusakan otak yang serius dan mungkin mengancam nyawa.

Bila leptospirosis menyerang paru-paru, pasien tidak akan bisa bernapas. Tanda dan gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi
  • Terengah-engah
  • Batuk darah

Dalam kasus yang parah, mungkin ada begitu banyak darah sehingga orang tersebut mati lemas.

Baca Juga: 10 Penyakit Ini Bisa Ditularkan Hewan ke Manusia, Lebih Waspada ya!

3. Selain banjir, terdapat beberapa orang yang berisiko terinfeksi leptospirosis

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosisunsplash.com/Jonathan Ford

Berdasarkan laporan dalam Journal American Medical Association (JAMA), terdapat beberapa kondisi atau profesi yang berisiko terinfeksi leptospirosis, di antaranya:

  • Individu yang rumah dan tempat tinggalnya memiliki sanitasi (kebersihan) yang buruk
  • Individu yang berenang di danau atau sungai
  • Pekerja pertambangan
  • Petani
  • Peternak dan pekerja di pemotongan hewan
  • Anggota militer

Hal ini dikaitkan dengan peningkatan risiko terpaparnya dengan cairan yang kemungkinan terinfeksi dengan bakteri leptospirosis.
 
Menurut sebuah laporan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases tahun 2015, leptospirosis lebih mungkin muncul di:

  • Asia Selatan dan Asia Tenggara
  • Australia
  • Karibia dan Amerika Tengah
  • Andes dan daerah tropis Amerika Selatan
  • Afrika Sub-Sahara dan Afrika Timur

Tempat wisata di mana leptospirosis kadang-kadang terjadi termasuk Selandia Baru, Australia, Hawaii, dan Barbados.

Banjir juga meningkatkan risiko terjadinya wabah. Bila perubahan iklim menyebabkan lebih banyak kasus banjir di seluruh dunia, kemunculan leptospirosis mungkin akan lebih banyak.

4. Penyakit leptospirosis bisa dicegah

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosisunsplash.com/Piyush Priyank

Mencegah lebih baik mengobati. Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terinfeksi leptospirosis, di antaranya:

  • Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan rumah
  • Hindari tertelannya air sungai atau danau saat berenang
  • Mengenakan sepatu pelindung ataupun baju pelindung saat bekerja atau berada di genangan air
  • Hindari bermain di genangan banjir
  • Segera membersihkan diri setelah berkontak dengan air banjir ataupun genangan air kotor setelah bekerja

5. Pengobatan leptospirosis

DKI Jakarta Siaga Banjir, Waspadai Bahaya Penyakit Leptospirosisfreepik.com/tirachardz

Untuk kasus ringan, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik seperti doxycycline or penicillin. Pasien dengan kasus parah kemungkinan besar butuh rawat inap. Pasien akan menerima antibiotik secara intravena.

Tergantung organ mana yang terdampak leptospirosis, pasien mungkin butuh ventilator untuk bantuan bernapas. Bila memengaruhi ginjal, mungkin dialisis atau cuci darah akan diperlukan.

Cairan intravena juga akan diberikan untuk mendukung hidrasi dan nutrisi penting untuk pasien.

Perawatan di rumah sakit mungkin bervariasi dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Ini umumnya tergantung respons pasien terhadap terapi antibiotik dan seberapa parah infeksi merusak organ.

Bila leptospirosis dialami oleh ibu hamil, maka janin bisa terdampak. Siapa pun yang mengalami infeksi saat hamil akan memerlukan perawatan di rumah sakit agar bisa terus dipantau.

Itulah fakta-fakta tentang penyebab, gejala, faktor risiko, pencegahan, dan pengobatan leptospirosis, penyakit yang mengintai saat banjir melanda. Lakukan langkah-langkah pencegahan yang disebutkan tadi agar kita terhindar dari penyakit ini.

Baca Juga: 7 Serangan Hewan Ini Bisa Memengaruhi Kondisi Psikologis, Hati-hati!

Sheila Adiwinata Photo Writer Sheila Adiwinata

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya