Comscore Tracker

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?

Varian baru muncul ketika ada mutasi pada gen virus

Pada Desember 2020, berbagai media melaporkan varian baru dari virus corona penyebab COVID-19, dan sejak itu beberapa varian telah teridentifikasi dan diteliti.

Dengan adanya varian baru ini banyak orang yang bertanya-tanya apakah infeksi akan makin parah? Apa dampaknya terhadap vaksin? Apakah protokol kesehatan perlu diperketat?

Untuk membantu menjawab pertanyaan tersebut, simak penjelasannya di bawah ini, ya.

1. Mengapa virus COVID-19 berubah?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi mutasi pada virus corona penyebab COVID-19 (osfhealthcare.org)

Dilansir Johns Hopkins Medicine, varian virus muncul ketika ada perubahan, atau mutasi, pada gen virus. Ini merupakan sifat virus RNA, seperti virus corona, untuk berevolusi dan berubah secara bertahap. Pemisahan geografis cenderung menghasilkan varian yang berbeda secara genetik.

Mutasi pada virus, termasuk SARS-CoV-2, virus corona yang menyebabkan COVID-19, bukanlah hal baru yang tak terduga. Pada dasarnya, semua virus RNA bermutasi dari waktu ke waktu, beberapa mengalami mutasi lebih dari yang lainnya. Misalnya, virus flu sering berubah, dan inilah membuat dokter merekomendasikan untuk mendapatkan vaksin flu terbaru setiap tahun.

2. Seberapa cepat virus corona penyebab COVID-19 bermutasi?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi mutasi virus COVID-19 (openaccessgovernment.org)

Menurut laporan berjudul "Insights from SARS-CoV-2 sequences" dalam jurnal Science yang terbit pada Januari 2021 lalu, untuk SARS-CoV-2, para peneliti memperkirakan bahwa satu mutasi terbentuk dalam populasi setiap 11 hari atau lebih. Akan tetapi, proses ini mungkin tidak selalu terjadi dengan kecepatan tetap.

Dilansir National Geographic, pada Desember 2020, varian B.1.1.7 (Alpha) menarik perhatian para ilmuwan ketika 23 mutasinya tampaknya tiba-tiba muncul saat virus "mengamuk" di Kent, Inggris. 

Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa pasien yang sakit kronis memberikan lebih banyak peluang untuk replikasi dan mutasi, menurut laporan "SARS-CoV-2 evolution during treatment of chronic infection" dalam jurnal Nature yang terbit pada Februari 2021 lalu, dan penggunaan terapi seperti plasma konvalesen mungkin mendorong virus untuk berevolusi.

Tidak setiap perubahan atau mutasi selalu menguntungkan virus, tetapi beberapa mutasi yang muncul memungkinkan varian menyebar lebih cepat.

Baca Juga: Fakta Varian Virus Corona C.1.2, Terdeteksi di Afrika Selatan

3. Ada berapa varian baru SARS-CoV-2 yang telah terdeteksi?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi COVID-19 (pexels.com/edward-jenner)

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), varian SARS-CoV-2 diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Variants of Concern (VOC), yaitu varian virus corona yang menyebabkan peningkatan penularan dan peningkatan kematian. Bahkan, varian yang masuk dalam kategori ini juga dikatakan punya kemampuan dalam memengaruhi efektivitas vaksin. Varian yang masuk ke dalam kategori VOC antara lain:

    • B.1.1.7 atau varian Alpha
    • B.1.351 atau varian Beta
    • P.1 atau varian Gamma
    • B.1.617.2 varian Delta
  • Variants of Interest (VOI), yaitu varian yang punya kemampuan genetik yang bisa memengaruhi karakteristik virus, seperti dapat memengaruhi tingkat keparahan gejala, pelepasan kekebalan, penularan, hingga kemampuan menghindari diagnostik maupun pengobatan. WHO juga menyebut bahwa karakteristik VOI diidentifikasi sebagai penyebab penularan di antara komunitas yang paling signifikan atau penyebab klaster baru. Varian yang masuk ke dalam kategori ini antara lain:

    • C.37 atau varian Lambda
    • B.1.621 atau varian Mu

  • Selain itu, ada pula beberapa varian yang tengah dipantau WHO, meliputi:

    • B.1.427 dan B.1.429
    • R.1
    • B.1.466.2 
    • B.1.1.318
    • B.1.1.519
    • C.36.3
    • B.1.214.2
    • B.1.1.523
    • B.1.619
    • B.1.620
    • C.1.2
    • B.1.617.1
    • B.1.526
    • B.1.525

4. Apakah varian baru selalu lebih berbahaya?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi varian virus corona (news-medical.net)

Beberapa mutasi memungkinkan virus corona menyebar lebih cepat dari orang ke orang, dan lebih banyak infeksi bisa menyebabkan lebih banyak orang yang terpapar mengalami sakit parah atau meninggal dunia. Mengutip Johns Hopkins Medicine, ada bukti awal dari Inggris bahwa beberapa varian dapat dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah.

Maka dari penting, sangat penting untuk memperluas jumlah studi sekuensing genetik untuk melacak varian baru.

Varian baru mungkin lebih menguntungkan bagi virus pernapasan ini untuk berkembang, sehingga menyebar lebih mudah. Di sisi lain, mutasi yang membuat virus lebih mematikan mungkin tidak memberi kesempatan untuk menyebar secara efisien.

Bila pasien sakitnya parah atau meninggal dunia dalam waktu cepat karena virus tertentu, peluang virus untuk menginfeksi orang lebih lebih kecil. Namun, lebih banyak infeksi dari varian yang menyebar lebih cepat akan menyebabkan lebih banyak kematian.

5. Apa efek varian baru SARS-CoV-2 terhadap vaksin?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi orang mendapatkan vaksin (pexels.com/gustavo-fring)

Mengutip WHO, berbagai vaksin COVID-19 yang saat ini dalam pengembangan atau telah disetujui diharapkan dapat memberikan setidaknya beberapa perlindungan terhadap varian virus baru, karena vaksin menghasilkan respons imun yang luas yang melibatkan berbagai antibodi dan sel.

Oleh karena itu, perubahan atau mutasi pada virus seharusnya tidak membuat vaksin menjadi tidak efektif sama sekali. Jika salah satu dari vaksin ini terbukti kurang efektif terhadap satu varian atau lebih, komposisi vaksin dapat diubah untuk melindungi dari varian tertentu.

Data mengenai varian baru virus corona terus dikumpulkan dan dianalisis. WHO yang bekerja sama dengan peneliti, pejabat kesehatan, dan ilmuwan terus berupaya memahami bagaimana varian baru memengaruhi perilaku virus, termasuk dampaknya terhadap efektivitas vaksin, jika ada. Ini adalah area di mana bukti masih awal dan berkembang dengan cepat.

Sementara berbagai varian masih dipelajari, kita perlu melakukan segala kemungkinan untuk menghentikan penyebaran virus untuk mencegah mutasi yang dapat mengurangi kemanjuran vaksin yang ada.

Selain itu, produsen dan program yang menggunakan vaksin mungkin harus menyesuaikan dengan evolusi virus penyebab COVID-19. Misalnya, vaksin mungkin perlu mengandung lebih dari satu strain saat pengembangan, penyuntikan booster, dan perubahan vaksin lainnya yang mungkin dibutuhkan.

Uji coba juga harus dirancang dan dipelihara untuk memungkinkan setiap perubahan terhadap efikasi untuk dinilai, dan harus memiliki skala dan keragaman yang cukup untuk memungkinkan interpretasi yang jelas. Studi tentang dampak vaksin saat digunakan juga penting untuk memahami dampaknya.

6. Bisakah kemunculan varian baru dicegah?

Kenapa Virus Penyebab COVID-19 Bermutasi dan Apa Efeknya pada Vaksin?ilustrasi pakai masker sebagai protokol kesehatan untuk mencegah COVID-19 (pexels.com/Anthony Shkraba)

Menghentikan penyebaran virus adalah kunci penting. Langkah-langkah untuk meminimalkan risiko penularan, termasuk sering cuci tangan, pakai masker, jaga jarak fisik, memastikan ventilasi yang baik, serta menghindari kerumunan bisa membantu melawan varian baru dengan cara mengurangi jumlah penularan virus, sehingga mengurangi peluang virus untuk bermutasi.

Meningkatkan produksi vaksin dan meluncurkan vaksin secepat dan seluas mungkin juga penting untuk melindungi orang sebelum mereka terpapar virus dan risiko varian baru. Prioritas harus diberikan untuk memvaksinasi kelompok berisiko tinggi untuk memaksimalkan perlindungan global terhadap varian baru dan meminimalkan risiko penularan.

Selain itu, memastikan akses yang adil ke vaksin COVID-19 menjadi lebih penting untuk mengatasi pandemik yang terus berkembang. Karena, semakin banyak orang yang divaksinasi, WHO memperkirakan sirkulasi virus akan menurun, yang kemudian akan menyebabkan lebih sedikit mutasi.

Itulah penjelasan mengapa SARS-CoV-2, virus corona penyebab COVID-19 bermutasi dan efeknya terhadap vaksinasi. 

Vaksin adalah alat penting dalam menghadapi COVID-19. Jadi, jangan menunda untuk mendapatkannya dan tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Jangan beri peluang virus untuk menyebar sehingga meningkatkan peluang virus bermutasi, ya!

Baca Juga: Booster Sinovac Dongkrak Imun Lawan Virus Corona Varian Delta

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya