Comscore Tracker

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannya

Hal yang sifatnya alami ini bikin korban pemerkosaan trauma

Seminggu ke belakang, viral seorang remaja laki-laki asal Probolinggo, Jawa Timur, yang menjadi korban pemerkosaan seorang biduanita atau penyanyi dangdut perempuan. Ia yang masih di bawah umur ini mengaku dicekoki minuman keras dan diperkosa selama tiga hari oleh pelaku. 

Bukannya berempati, mendengar kasus ini, banyak warganet justru menyalahkan korban atau victim blaming. Komentar yang dilontarkan pun tajam. Mereka menyerang korban yang dinilai "mau-mau saja", mengatakan bahwa ia adalah orang yang beruntung, dan meragukan status "pemerkosaan" karena remaja laki-laki itu dianggap menikmati tindakan pelaku. 

Pernyataan terakhir itu banyak diamini oleh warganet. Banyak warga +62 yang menganggap kasus pemerkosaan ini bukan didasarkan oleh paksaan karena korban bisa ereksi. Menurutnya, dalam kondisi tersebut, korban artinya menikmati tindakan pelaku.

Padahal anggapan itu salah besar. Berikut ini penjelasannya secara ilmiah.

1. Organ intim laki-laki dipenuhi oleh ujung saraf sehingga sensitif terhadap sentuhan

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi laki-laki ereksi (emedihealth.com)

Untuk memahami fenomena ini secara lebih dalam, kita harus mengetahui seperti apa anatomi organ seksual laki-laki. Area itu merupakan salah satu bagian paling sensitif di sekujur tubuhnya. Sebab, terdapat banyak ujung saraf di permukaan penis. 

Sensitivitas penis umumnya memuncak saat laki-laki sedang dalam masa pubertas atau di usia remaja. Bahkan, dilansir Living Well, remaja laki-laki bisa sensitif terhadap sentuhan di sekujur tubuhnya. 

Kondisi tersebut membuat mereka sering mengalami gairah seksual yang tidak disengaja atau tidak diinginkan. Misalnya ketika area organ intim tak sengaja tersentuh, mengalami getaran saat berada di kendaraan, saat periksa alat kelamin ke dokter, atau bahkan ketika memangku kucing.

2. Kenapa korban pemerkosaan tetap bisa ereksi walau menolak tindakan itu?

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi laki-laki sedih (pexels.com/download a pic donate a buck)

Dari poin pertama, kita bisa menyimpulkan bahwa penis yang ereksi atau tegang terkadang tidak bisa dikontrol. Lalu pertanyaannya, kenapa korban pemerkosaan bisa mengalami ereksi jika dirinya menolak tindakan pelaku?

Secara psikologis, korban mungkin menolak tindakan pelaku. Namun, ketika tubuh terus-menerus diberi rangsangan, penis akan ereksi walaupun korban tak menginginkannya. Sebab, ketika disentuh, hormon akan "memerintahkan" darah mengalir ke area tersebut, sehingga penis menjadi "tegang" secara tidak disengaja.

Menurut studi dari Criminal Law and Philosophy tahun 2019 yang berjudul "Can a Woman Rape a Man and Why Does It Matter?", dijelaskan bahwa laki-laki kemungkinan besar tetap "tegang", menunjukkan tanda bahwa mereka bergairah, dan bahkan ejakulasi saat mengalami pemerkosaan. Mekanismenya sama seperti perempuan yang mengalami lubrikasi saat menjadi korban pemerkosaan. 

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, ini merupakan reaksi normal tubuh yang sulit untuk dikontrol, terlebih saat seseorang mengalami pemaksaan, tidak berdaya, dan dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan. Hal ini terasa membingungkan dan menakutkan bagi korban. Tubuhnya disentuh tanpa izin tetapi respons fisik yang dikeluarkan tak sesuai dengan kata hati. 

3. Rasa takut juga bisa membuat laki-laki ereksi dan ejakulasi

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi laki-laki merasa takut (pexels.com/RODNAE Production)

Selain rangsangan yang diberikan oleh pelaku, laki-laki juga bisa mengalami ereksi saat mereka ketakutan. Kondisi inilah yang sering terjadi pada korban pemerkosaan. Sebuah laporan dalam Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law berjudul "Male Victims of Sexual Assault: Phenomenology, Psychology, Physiology" menjelaskan kenapa ini bisa terjadi. 

Laki-laki bisa mengalami ejakulasi secara spontan ketika mereka merasa takut, cemas, dan berada di bawah tekanan yang hebat. Tubuhnya juga akan menunjukkan tanda-tanda gairah seperti terangsang, ereksi, jantung berdebar-debar, dan lainnya. Apalagi ketika mereka diancam dan dalam kondisi tak bisa melawan. 

Baca Juga: 5 Penyakit Menular Seksual yang Menyerang dalam Diam, Tanpa Gejala

4. Stereotipe dan toxic masculinity menjegal laki-laki saat mengalami pemerkosaan

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi laki-laki putus asa (pexels.com/Pixabay)

Dua hal yang paling menyulitkan laki-laki saat mengalami pemerkosaan adalah stereotip dan toxic masculinity. Ada beberapa label yang lekat pada kaum adam yang dinilai bertentangan dengan kasus pemerkosaan, di antaranya:

  • Laki-laki dianggap selalu mau melakukan seks. Masyarakat merasa bahwa kaum adam tidak akan pernah menolak hal ini, sehingga korban dipandang beruntung dan harus berterima kasih kepada perempuan yang memerkosanya;
  • Laki-laki dipandang sebagai makhluk yang kuat, sehingga masyarakat menganggap bahwa pemerkosaan tidak mungkin terjadi padanya. Status "pemerkosaan" pun diragukan;
  • Seks adalah sesuatu yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Hal ini tentu salah karena kedua pihak seharusnya memiliki peran yang sama;
  • Laki-laki dianggap tidak kehilangan apa-apa saat diperkosa, berbeda dengan perempuan. Padahal, siapa pun yang menjadi korban pemerkosaan pasti akan mengalami trauma yang bisa merenggut seluruh hidupnya di masa depan.

Pemikiran-pemikiran tersebut kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menginvalidasi kejadian pemerkosaan yang dialami laki-laki. Padahal, semua korban tindak kejahatan seksual itu sama-sama menderita, merasakan sakit, dan kehilangan kehidupannya. Terlepas dari apa gender mereka. 

5. Menjawab pertanyaan warganet, kenapa korban tidak langsung lapor setelah diperkosa?

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi laki-laki mengalami pemaksaan (pexels.com/Keira Burton)

Berikutnya, dalam kasus pemerkosaan remaja laki-laki di Probolinggo ini, korban baru melapor tiga hari setelah waktu kejadian. Hal ini digunakan oleh warganet untuk, lagi-lagi, menyerang korban. Padahal, mereka tak tahu apa saja yang dialaminya. 

Korban kekerasan seksual tidak selalu bersedia untuk speak up atau melapor. Bahkan, pemerkosaan yang kamu lihat di berita, itu belum semuanya. Masih banyak kasus lain yang tidak terekspos karena korban tidak mau melapor. Kenapa ini terjadi?

Pemerkosaan merupakan kejadian yang sangat traumatis untuk korban. Menurut publikasi dari Pennsylvania Coalition Against Rape, mereka akan merasa malu, sendiri, takut dihakimi oleh orang-orang sekitar, disalahkan oleh orang lain, ditanya "pakai baju apa" untuk invalidasi pemerkosaan, atau bahkan diancam oleh pelaku. 

Mereka juga butuh waktu tak sebentar untuk menenangkan diri dari trauma yang dialaminya. Itulah kenapa korban pemerkosaan tidak selalu speak up atau baru melapor setelah lewat beberapa hari, bulan, atau tahun. 

6. Ereksi dan ejakulasi yang dialami korban tidak berarti mereka menikmati pemerkosaan

Laki-laki Korban Pemerkosaan Tetap Bisa 'Tegang'? Ini Penjelasannyailustrasi pemerkosaan terhadap laki-laki (pexels.com/RODNAE Production)

Ereksi atau bahkan ejakulasi ini sering disalahpahami oleh pelaku dan masyarakat. Keduanya sama sekali tak berarti bahwa korban menikmati tindakan pemerkosaan. Padahal, sama sekali tidak. Pemerkosaan dalam bentuk apa pun itu tidak pernah menyenangkan untuk korban, tak peduli apa gender mereka. 

Korban pemerkosaan bahkan tak jarang menyalahkan respons tubuhnya yang tidak sesuai ekspektasi. Kombinasi antara rasa sakit, bingung, dan gairah yang tak diinginkan akan membuat korban malu dan bahkan jijik terhadap dirinya sendiri.

Maka dari itu, tindakan victim blaming atau menyalahkan orang yang diperkosa tidak boleh dinormalisasi dan dibiarkan. Hal ini bukan hanya menyakiti korban, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat kita tidak memiliki empati terhadap sesama. 

Mulai sekarang, yuk, coba tempatkan diri di "sepatu" orang lain. Pemerkosaan terhadap laki-laki itu nyata dan benar-benar terjadi di luar sana, meskipun jarang diberitakan. Jangan gunakan pengalaman menyakitkan ini untuk menghina dan menyalahkan korban. Kita sebagai masyarakat seharusnya melindungi mereka dan membantu proses hukum agar pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal. 

Baca Juga: Seperti Apa Rasanya Aborsi? Begini Gambarannya secara Medis

Topic:

  • Izza Namira
  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya