Comscore Tracker

6 Cara Mengatasi Keluar Darah Saat Berhubungan Intim

Hubungi dokter apabila menemui gejala di bawah ini!

Apa kamu pernah berdarah saat atau tiap berhubungan badan? Setelah selesai berhubungan intim, kamu melihat ada darah di seprai. Pada saat kejadian tersebut, kamu tidak sedang mengalami menstruasi.

Mungkin beberapa dari kamu mengalami kasus ini dan bingung apakah ini normal atau tidak. Meski kejadian ini menjadi hal yang menakutkan bagi perempuan, tetapi hal ini umum terjadi.

Sebenarnya, pendarahan selama atau setelah berhubungan seks bisa terjadi karena berbagai alasan. Akan tetapi, dalam beberapa kasus pendarahan tersebut bisa diakibatkan karena infeksi atau tanda kanker serviks. Untuk lebih jelasnya, berikut pembahasan lebih lanjut mengenai cara mengatasi keluar darah saat berhubungan.

Penyebab keluar darah setelah berhubungan

6 Cara Mengatasi Keluar Darah Saat Berhubungan Intimilustrasi vagina (unsplash.com/@charlesdeluvio)

Dilansir Medical News Today, sebelum kamu mengetahui cara mengatasi keluar darah saat berhubungan atau pendarahan postcoital, ada baiknya kamu mempelajari terlebih dahulu penyebabnya. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Cedera

Penyebab keluar darah setelah berhubungan seksual paling umum adalah cedera. Saat berhubungan, terjadi gesekan yang dapat menyebabkan robekan kecil atau luka pada jaringan genital yang sensitif.

Selain itu, melahirkan juga dapat membuat jaringan vagina merenggang dan robek. Hal ini juga bisa menyebabkan seseorang yang telah melahirkan menjadi rentan dengan cedera pada organ intim.

Saat pertama kali melakukan hubungan sek, selaput dara pada vagina akan merenggang dan pecah. Hal inilah yang membuat darah keluar pada organ intim. Kamu tidak perlu khawatir karena pendarahan ini akan berlangsung 1–2 hari saja.

2. Vagina kering

Penyebab lainnya dari pendarahan postcoital adalah kekeringan pada vagina. Perlu diketahui, jaringan penghasil lendir pada vagina sangat rentan. Sehingga, kasus ini bisa saja terjadi. Adapun penyebab kekeringan pada vagina antara lain:

  • Sindrom Genitourinari menopause (GSM) atau atrofi vagina. Sebuah kondisi berkurangnya pelumas, ketebalan, serta elastisitas pada jaringan organ intim perempuan.
  • Kerusakan pada jaringan ovarium. Kondisi yang menyebabkan pengangkatan ovarium dan menghancurkan sumber estrogen pada tubuh perempuan.
  • Melahirkan dan menyusui. Kadar estrogen pada tubuh akan menurun setelah melahirkan dan berkaitan pada produksi ASI.
  • Douching dan obat-obatan. Adapun beberapa obat yang menyebabkan kekeringan vagina seperti obat antiestrogen, obat flu, obat penenang, dan obat antidepresan.
  • Berhubungan tidak melakukan pemanasan. Perlu diketahui, pemanasan atau foreplay saat berhubungan sangat penting. Hal ini membantu vagina mengeluarkan pelumas alami yang mencegah kekeringan dan gesekan saat berhubungan intim.

3. Polip dan fibroid

Polip dan fibroid adalah pertumbuhan kecil nonkanker pada lapisan serviks atau rahim. Adapun penyakit ini biasanya menyerang pada perempuan yang sedang menstruasi. Polip dan fibroid ini dapat menyebabkan rasa sakit dan pendarahan.

4. Kanker

Pendarahan postcoital adalah gejala umum kanker serviks dan kanker rahim. Adapun kanker yang pada sistem reproduksi atau saluran urogenital dapat mengubah kadar hormon dan jaringan vagina. Hal inilah yang menyebabkan organ intim menjadi lebih rentan mengalami kerusakan. 

Baca Juga: Perawatan Ratus Vagina: Ketahui Manfaat dan Risikonya

Diagnosa

6 Cara Mengatasi Keluar Darah Saat Berhubungan Intimilustrasi gatal area vagina (freepik.com/jcomp)

Sebenarnya, tidak ada suatu aturan nasional maupun internasional yang digunakan oleh dokter untuk mendiagnosis perdarahan setelah berhubungan intim. Dokter akan mengajukan pertanyaan mengenai riwayat kesehatan, keluarga, dan pemeriksaan. 

Adapun tes tambahan yang digunakan untuk mendiagnosis pendarahan postcoital ini adalah sebagai berikut:

  • Tes kultur untuk infeksi
  • Kolposkopi 
  • Biopsi endometrium
  • Tes darah
  • Tes kehamilan
  • Biopsi pertumbuhan dan masa abnormal.

Kapan harus ke dokter?

Ada beberapa orang yang mengalami pendarahan postcoital yang parah. Kondisi ini adalah pendarahan terjadi secara terus menerus setelah berhubungan seksual. Berikut ini beberapa gejala yang harus kamu waspadai dan konsultasikan ke dokter, di antaranya:

  • Vagina terasa terbakar atau gatal
  • Sakit perut yang hebat
  • Keputihan tidak normal
  • Terasa terbakar atau sakit saat buang kecil dan berhubungan seksual
  • Nyeri punggung bawah
  • Gejala kandung kemih atau usus
  • Kulit menjadi pucat tidak normal.

Cara mengatasi keluar darah saat berhubungan

6 Cara Mengatasi Keluar Darah Saat Berhubungan Intimilustrasi krim pelembab (pexels.com/Ron Lach)

Dilansir Greatiest, ada beberapa treatment atau cara mengatasi keluar darah saat berhubungan yang bisa kamu lakukan, di antaranya sebagai berikut:

1. Pelembap vagina

Apabila kamu memiliki permasalahan kekeringan pada vagina, maka pelembap vagina dapat membantu kamu untuk meredakannya. Kamu bisa menemukan produk ini di apotek terdekat. Pelembap tersebut dapat mengembalikan cairan dan pH pada organ intim. Umumnya, pelembap vagina tersedia dalam bentuk cairan, krim, dan gel yang lebih mudah diserap.

Adapun pelembap ini merupakan solusi jangka pendek yang efektif untuk mengurangi gesekan saat berhubungan seksual. Jangan gunakan pelembap berbahan dasar minyak. Gunakanlah pelembap berbahan dasar air atau silikon.

2. Terapi estrogen

Dokter akan menyarankan terapi estrogen, bagi kamu memiliki kadar hormon yang tidak stabil. Ada beberapa terapi yang digunakan, seperti krim topikal, supositoria, cincin yang dimasukkan ke vagina, serta pil. Bagi perempuan yang telah memasuki fase menopause, diskusikan dengan dokter untuk terapi estrogen ini.

3. Perawatan lainnya

Adapun cara mengatasi keluar darah saat berhubungan seksual yang bisa kamu lakukan, di antaranya:

  • Mengonsumsi antibiotik untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Seperti gonore, sifilis, dan klamidia.
  • Operasi pengangkatan, cryotherapy, atau elektrokauter untuk kasus Ektropion serviks.
  • Operasi atau terapi pada penderita kanker serviks dan kanker rahim.
  • Perawatan lengkap seperti penambahan nutrisi, suplemen, dan akupunktur.

Itulah dari beberapa cara mengatasi keluar darah saat berhubungan seksual yang bisa kamu lakukan. Pendarahan pada vagina setelah berhubungan merupakan hal normal terjadi. Akan tetapi, bila pendarahan masih terus berlanjut, segera temui dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Baca Juga: 4 Penyebab Vagina Basah, Gak Selalu karena Terangsang

Topic:

  • Nadia Agatha Pramesthi

Berita Terkini Lainnya