Comscore Tracker

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sih

Obrolan eksklusif bersama trio jazz asal ibu kota nih

Malam kedua di Jazz Gunung 2018, sembari merasakan dinginnya Gunung Bromo yang menusuk tulang, perasaan was-was meliputi hati. "Apakah malam ini benar-benar bisa wawancara mereka ya?" Pikiran itu membawa kaki melangkah ke luar venue Jazz Gunung untuk mencari inspirasi yang bisa didapatkan dari ngobrol bersama teman.

Tak lama berada di luar dan bersantai, sebuah pesan telat masuk ke dalam smartphone. "Ayo ikut wawawancara NonaRia." Tak ambil pusing, hang out kecil-kecilan ditutup sementara dulu untuk masuk ke area venue. Panggilan keluar langsung diutamakan karena berpikir tak keburu. "Di mana?" tanyaku kepada rekan kerja. "Di Java Banana." Kaki pun melangkah cepat menuju area yang ditentukan dengan ditambah bumbu kepanikan.

Beruntung ketika sampai di lokasi, sang narasumber belumlah datang. Waktu yang tepat untuk menyiapkan pertanyaan. Dibukalah note yang ada di smartphone dan mulai diketikkan catatan-catatan pertanyaan, seperti kenapa namanya NonaRia, rekomendasi lagu jazz buat teman-teman dan pertanyaan lainnya.

Beberapa menit kemudian ketiga dara yang telah ditunggu-tunggu muncul. Dibalut jaket tebal serta syal, mereka tiba sambil bersenda gurau. "Wah, dingin," komentar wanita berkacamata yang bernama Nesia Medyanti Ardi. Dia diikuti oleh kedua partner-in-crime-nya, Nanin Wardhani yang manis dan berambut ikal serta Yasintha Pattiasina, wanita bertubuh besar dan berambut keriting yang saat itu membawa kolak (ya, kolak).

Tak disangka bahwa nama NonaRia yang diambil dari kata nona riang dan mereka pakai sebagai nama kelompok mereka benar-benar mencerminkan jiwa mereka. Banyak senda gurau mereka lontarkan dalam persiapan menuju wawancara berbalut obrolan ringan.

1. Dengar-dengar NonaRia terbentuk dengan alasan kemiripan muka. Apakah itu benar?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nesia: Itu beneran. Itu kami gak bercanda. Dari nonton ceritanya. Kan musisi semua nih kita, satu lingkungan. Jadi aku sama Nanin lalu sama Yasintha satu lingkungan. Akhirnya digabungin. Sebelum itu kan ada Rieke. Kita tumbuh besar di KJK, Komunitas Jazz Kebayoran. Kita bertiga kurang lebih pernah bermain di situ, terus karena ketemu, sama-sama di lingkungan musisi, ya udah saling kenal ama yang lain-lain.

Orang saling ketukar aku sama Rieke itu. Terus satu lagi itu, “Iye, tapi emang sama lu mirip gitu mirip ya sama Nanin. Kalian kalau bertiga, digabungin itu kayak sama gitu.” Kayak ada similaritas. Terus kita bikin band aja gitu. Hahaha. Pertamanya bercanda, tapi akhirnya jadi serius.

Rieke uda cabut, dia ikut sama suaminya, pindah kota. Daripada sayang kan bandnya, tapi sempat vakum sih, lama.

Yasintha: Gue dipilih karena paling gak mirip. Biar gak ketukar ama Rieke lagi. Hahaha.

Nesia: Tapi sama-sama keriting.

Yasintha: Kalau gini kan bedainnya gampang. Kalau pas sama Nanin, pasti yang itu. Nesia, ini. Yasintha, ini. Sudah pasti gak ketuker itu. 

2. Bagaimana dengan nama NonaRia sendiri?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nesia: Dari nona-nona ceria. Kan ria dari riang gembira. Itu tercetus aja. Kan lagu-lagu yang dibawain, covernya sih lucu-lucu. Covernya lagu-lagu ceria yang lucu gitu. Terus akhirnya, “Eh ini fun banget gitu ya. Musiknya juga fun.”

Apa ya? Karena cewek-cewek semua, ya akhirnya nona aja. Jaman dulu juga kan manggilnya nona. Bung, nona. Tuan, nyonya. Dulu (cover lagu) banyak. Saya Nyanyi Sambil Jemur Kain, Tamasya, Penjaga Sapi, Aksi Kucing.

3. Siapa musisi jazz yang jadi inspirasi kalian?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Yasintha: Banyak itu. Kalau mancanegara, aku dengerin Ella Fitzgerald, terus sama Duke Ellington. Iya, komponis-komponis zaman dahulu. Kalau lokal, waduh, banyak juga ya. Salah satunya guru saya, Tjut Nyak Deviana Daudsjah.

Nesia: Guru kami. Lalu yang legend-legend gitu sih. Bubi Chen, Ismail Marzuki juga gitu-gitu itu. Salah satu inspirasi kita untuk membuat karya.

Yasintha: Pasti kita dengerin lagu-lagu mereka.

4. Sejauh ini lagu yang digarap oleh NonaRia tidak ada yang bertemakan cinta. Bagaimana NonaRia menanggapi lagu-lagu cinta di Indonesia?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nesia: Cinta itu buta. Cieee...

Yasintha: Sebenarnya cinta itu luas banget. Akar dari apa pun, menurut saya cinta-cinta juga. Misal kayak kita bikin lagu Sayur Labu, karena kita cinta sayur labu gitu. Atau hal sesimpel kecintaan kita sama musik yang bikin kita jadi bikin karya gitu jadi tema ini. Cuman kan, biasanya tema yang mainstream sekali itu adalah percintaan yang romantis.

Dari mulai jatuh cinta, putus cinta, pelakor. Yang gitu-gitu kan jaman sekarang. Kenapa orang itu fokusnya cinta? Itu kan karena cinta bikin bahagia. Nah, bahagia itu tidak melulu dari romantisme. Jadi banyak sih yang bisa digali gitu.

5. Memungkinkan gak sih ke depannya NonaRia membuat lagu-lagu bertemakan cinta?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Yasintha: Memungkinkan. Karena kalau kita berkarya, kita gak pernah tahu. Maksudnya namanya orang berkarya gak ada batasannya. Jadi, gak pernah tahu sih. Besok kita pengen, “Oh iya, coba bikin...”

Nesia: Atau siapa tahu besok Yasintha kawin kan, mau nulis lagu cinta.

Yasintha: Ah ya gitu. Tiba-tiba kita jadi cinta tumbuhan...

Nesia: Vegan.... Hahahaha...

6. Nonaria sendiri adalah band-band dengan personil wanita semua. Ada beberapa kasus di mana band berisi wanita mendapatkan perlakuan berbeda. Bagaimana NonaRia sejauh ini melihat kasus tersebut?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Baca Juga: A Touch of Jazz: Konser Kolaborasi Spontan Musisi Jazz AS - Indonesia

Nanin: Kita sih sejauh ini baik-baik aja. Maksudnya, banyak yang menerima kita.

Nesia: Apresiasinya lumayan tinggi.

Yasintha: Itu salah satu motivasi kita dalam berkarya sih karena itu kan emang isu yang suka dimunculkan. Maksudnya kalau band masa cuman cewek-cewek doang. Itu biasanya yang ditongolin entah karena cakep doang atau gara-gara... Yah, ada stigma itu. Tapi, puji Tuhan sih kita gak pernah, belum pernah. Kita memang datang untuk berkarya dan share berbagai musik kita sama orang, gitu.

Nanin: Musik gak ada urusannya sama gender sih.

Yasintha: Itu yang suka diisukan. Ada beberapa orang yang menganggap begitu, tetapi buat kita sih gak ngaruh ya. Sejauh ini kita gak pernah kenapa-kenapa.

Nesia: Maksudnya gak ada yang ngomong a i u e o.

7. Tapi setuju gak sih ada beberapa band yang didengarkan banyak orang lantaran karena paras mereka?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Yasintha: Tergantung motivasi dia. Kita sih gak pernah tahu isi hatinya orang buat saya. Maksudnya apa yang dia tampilkan di panggung, bisa jadi orang berpikiran “Ah cuman gara-gara cakep doang,” tapi bisa jadi dia senang. Itu dia kerjain dengan senang dan dia berkaryanya dengan tulus, kita kan gak tahu dan gak fair juga men-judge, menghakimi seperti itu.

Yang penting ya, kalau buat kami sebagai musisi, pertanggungjawaban kita kepada musiknya itu sendiri dan kepada orang lain, pesannya baik apa gak. Dampaknya ke orang lain baik apa gak. Gitu. Itu tanggung jawab yang besar sih bagi musisi, buat saya, buat kami bertigalah kalau itu. Idealnya untuk semua musisi. 

8. Menuju bahasan lagu Indonesia yang lawas nih. Lagu kesukaan kalian apa sih untuk lagu-lagu Indonesia lawas?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nesia: Aku paling suka Tahu Tempe. [Berdendang] Tahuuu, tempee... Oslan Husein.

Yasintha: Saya lagi suka Barisan Tani dari Orkes Tropicana. Jadi dia cerita tentang jasanya petani yang sering dilupakan. Simpel. Lagunya cuman cerita tentang Pak Tani pagi-pagi pergi. Terus ya cuman membajak sawah. Dia bilang petani itu sebenarnya berjasa banget buat negara ini. Orang Indonesia siapa yang gak makan nasi, gitu kan.

Nanin: Aku apa ya? Terakhir sih lagi ngeliat-liat ada website Irama Nusantara. Itu kita bisa denger-dengerin. Yang paling bisa saya ingat itu Samsa Imun tuh, lagunya bagus-bagus itu. Terus ada juga Nuri M. Satrio. Pokoknya di album Pasar Baru itu. Itu bagus-bagus sih. Yang dari website itu, terus nyoba, nyoba, nyoba.

9. Kalau kalian membandingkan lagu Indonesia lawas dengan zaman sekarang, sejauh apa sih perbedaannya?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender SihIDN Times/Abraham Herdyanto

Nanin: Kalau menurut saya pribadi ya, zaman dulu lebih mementingkan melodi dan lirik, sesuatu yang penting banget. Maksudnya memegang peranan utama dalam musik itu. Kalau sekarang kayaknya banyak...

Nesia: Banyak faktor juga ya kayaknya. Harmoni juga agak ribet, misalkan. Tapi tergantung yang nyanyi siapa. Zaman dulu dikemasnya beda kalau menurutku. Soalnya zaman sekarang musik Indonesia juga banyak yang bagus-bagus menurutku. Cuman dikemasnya dengan gaya yang berbeda aja. Selera masa kini.

Yasintha: Dan kaya banget. Kaya dalam artian dia berkembang secara melodi dan harmoni. Cara penyampaian juga berkembang. Jadi menyampaikannya dengan cara yang berbeda gitu sih.

Nesia: Kayak lagunya HIVI! cuy, yang Pelangi itu. Itu susah banget.

Nanin: HIVI! salah satu yang termasuk yang berbeda sih.

Yasintha: Itu beda banget dan... Beda aja sih. Maksudnya, secara perjalanan musik itu selalu berkembang kalau kita lihat dari semuanya sih. Masyarakatnya berkembang, pola hidupnya berganti, ya musiknya juga berganti.

Nesia: Namanya juga manusia. Sama kayak makanan. Kayak gitu kan. Bisa jadi ada banana nugget, bisa jadi es kepal Milo itu dari mana emangnya coba. Kan berinovasi. Itulah manusia. Jadi semuanya akan berkembang terus. Entah bangunan, arsitektur. Semua. Seni. Budaya. Bahasa. Semua itu berkembang. Musik juga begitu.

10. Tetapi menarik jika melihat dari perkembangan itu malah musik di zaman sekarang kembali ke musik zaman dulu

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Yasintha: Oh iya, trend. Muternya gitu. Karena ya memang kodratnya kayak gitu ya. Akan muter terus. 

11. Berbicara musik zaman dahulu, sedikit kangen dengan lagu anak-anak nih. Apakah NonaRia pernah terpikir untuk membuat album berisikan lagu anak-anak?

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nanin: Soalnya kalau dari album kita yang sekarang pun...

Yasintha: Semuanya netral sih lagunya. Itu bisa dinyanyiin anak-anak, oma-oma.

Nesia: Child friendly.

Nanin: Dan banyak dari anak-anak yang senang sih.

Yasintha: Lumayan banyak anak kecil yang dengerin lagu kita, gitu lho.

Nanin: Ada anak teman saya sendiri. Kalau lagi rewel gitu kan, ibunya muterin lagu kita di handphone, terus dia langsung nari sendiri. Hahahaha. Beneran, itu lucu banget.

Nesia: Jadi kalau khusus buat anak-anak, itu bisa jadi ide bagus juga sih karena kita semua kan pendidik di sini. Maksudnya kita ngajar juga. Ide yang bagus buat mengeluarkan karya untuk anak-anak biar anak-anak sekarang lagu-lagunya banyak yang lebih susah diambil, dikonsumsi.

12. Pertanyaan terakhir. Berikan lagu-lagu rekomendasi Jazz yang wajib didengar oleh teman-teman deh

NonaRia: Musik Gak Ada Urusannya Sama Gender Sihinstagram.com/nonariamusic

Nesia: Aku luar deh. Clark Terry – Mumbles.

https://www.youtube.com/embed/eJuFDvH8wGs

Nanin: Lagi muncul nih. Waltz for Debby. Manis banget melodinya kalau buat saya. Bagus banget.

https://www.youtube.com/embed/dH3GSrCmzC8

Yasintha: Sebentar. Gue banyak banget nih soalnya. Coba dengerin albumnya Nick Mamahit deh. Dia banyak cover lagu Indonesia dan terus dalam format jazz. Banyak kok. Sukanya sih yang Sarinande. Itu gue suka karena buat gue sih, keren. Masa lagu Indonesia jadi gitu dan di tahun segitu.

https://www.youtube.com/embed/t5ioqcedcqo

Itulah wawancara eksklusif IDN Times dengan trio NonaRia yang sangat ramah dan menyenangkan. Bener juga sih musik memang tidak memandang gender. Yuk buat kamu yang punya karya, jangan ragu-ragu untuk menunjukkannya ke publik ya...

Baca Juga: 9 Momen Seru Jazz Gunung 2018, dari Matahari Tenggelam Sampai Terbit

Topic:

  • Abraham Herdyanto
  • Erina Wardoyo

Just For You