Comscore Tracker

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko Damono

Karya yang kan selalu dikenang sepanjang masa.

Sapardi Djoko Damono merupakan seorang pujangga yang kerap disapa SDD, sesuai dengan singkatan namanya. Sapardi tutup usia pada usianya yang genap 80 tahun. Pada Minggu (19/07) ia dikabarkan meninggal sekitar pukul 09.17 WIB di Rumah Sakit Eka BSD. Kepergian sang pujannga yang karya-karya telah menyentuh banyak hati ini, meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak orang.

Namun, sejatinya Sapardi tidak benar-benar pergi. Ia tetap tinggal di hati para penggemarnya melalui puisi-puisi yang sejak puluhan tahun lalu sudah ditulisnya. Seperti puisi berikut yang menjadi beberapa karya terbaiknya. 

1. Hujan Bulan Juni

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko DamonoPexels.com/Sitthan Kutty

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Hujan Bulan Juni merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Sapardi dari tahun 1964-1994. Karya yang juga diadaptasi menjadi film pada tahun 2017 ini, sukses menarik perhatian penonton. Tak heran, kumpulan puisi yang pertama kali terbit pada tahun 1994, semakin dicari-cari oleh para pencinta puisi.

2. Hatiku Selembar Daun

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko DamonoPexels.com/Pixabay

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.

Pada puisi ini, Sapardi menggunakan benda tak hidup seperti daun dan sapu sebagai bagian dari keindahan puisi yang ditulisnya. Ia menggambarkan hati seseorang yang seperti selembar daun jatuh di atas rumput. Mengisyaratkan perasaan yang rapuh akan sesuatu menjadikan majas yang digunakannya terdengar indah nan menyedihkan saat dibaca.

Baca Juga: Tutup Usia, Ini Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono yang Melegenda

3. Aku Ingin

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko DamonoPexels.com/OVAN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: 
dengan kata yang tak sempat diucapkan 
kayu kepada api yang menjadikannya abu 

aku ingin mencintaimu dengan sederhana: 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi yang begitu singkat, namun memiliki makna yang dalam dan terdengar sangat romantis. Tentang seseorang yang mencintai pujaan hatinya secara sederhana dan apa adanya.

4. Yang Fana Adalah Waktu

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko DamonoPexels.com/samer daboul

Yang fana adalah waktu. Kita abadi: 
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga 
sampai pada suatu hari 
kita lupa untuk apa 

“Tapi, 
yang fana adalah waktu, bukan?” 
tanyamu. Kita abadi

Puisi ini menjadi kritik dari Sapardi, akan banyaknya orang-orang yang menggunakan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sebelum terlambat, mari gunakan waktu sebaik-baiknya. 

5. Pada Suatu Hari Nanti

5 Kumpulan Puisi Terbaik Karya Sapardi Djoko DamonoPexels.com/Caio

pada suatu hari nanti 
jasadku tak akan ada lagi 
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri 

pada suatu hari nanti 
suaraku tak terdengar lagi 
tapi di antara larik-larik sajak ini 
kau akan tetap kusiasati 

pada suatu hari nanti 
impianku pun tak dikenal lagi 
namun di sela-sela huruf sajak ini 
kau takkan letih-letihnya kucari 

Pada Suatu Hari Nanti, di mana hari ini telah terjadi. Memang benar jasadnya tak lagi ada, suaranya tak lagi terdengar, namun karya-karyanya kan selalu ada di hati.

Selamat jalan, Eyang Sapardi.

Baca Juga: 5 Puisi Sapardi Djoko Damono buat Kamu yang Patah Hati, Bikin Terenyuh

Alfy Suwaima Photo Verified Writer Alfy Suwaima

Perempuan yang suatu hari akan menetap di Adelaide, kota pesisir di Samudra Selatan.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya