Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

#ReviewFilm ketika dongeng mengerikan jadi kenyataan

Film horor dengan tema retro tampaknya semakin laris saja nih. Setelah "It" (2017) kali ini ada lagi adaptasi buku horor anak-anak legendaris "Scary Stories to Tell in the Dark" yang sedang tayang di bioskop Tanah Air.

Dipiloti oleh André Øvredalini dan diproduseri oleh Guillermo del Toro, inilah 5 kelebihan dan kekurangan film mengerikan ini.

Peringatan: Artikel ini mengandung SPOILER! Jika tak ingin terkena, harap berhati-hati saat membaca.

Pertama, yuk bahas kelebihan film "Scary Stories to Tell in the Dark"

1. Adaptasi yang bagus & dikembangkan menjadi plot menarik untuk menunjang cerita dari bukunya

Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

Film ini diadaptasi bebas dari novel horor anak legendaris berjudul serupa karangan Alvin Schwartz. Penggemar genre ini mungkin pernah dengar soal buku yang dilengkapi gambar-gambar mencekam karya ilustator Stephen Gammell tersebut.

Untuk diadaptasi ke layar lebar, buku ini dimasukkan lagi ke dalam sebuah skenario baru yang semakin menghidupkan kisah di setiap babnya. Dan hasilnya adalah sebuah cerita yang lebih berisi dan menghibur.

Dikisahkan ada urban legend yang beredar sejak abad ke-19 soal keluarga Bellows. Terutama tentang putri mereka, Sarah Bellows. Konon, ketika Sarah masih hidup ia sering menceritakan aneka kisah mengerikan sehingga anak-anak yang mendengarnya ketakutan lalu hilang atau tewas. Ia sendiri akhirnya dikurung dan tewas secara tak wajar.

Dendam kesumatnya dipercaya masih menghantui kota tempat Stella, Augie, dan Chuck tinggal. Ditemani Ramon, keempatnya merangsek rumah keluarga Bellows dan menemukan buku berisi kisah-kisah seram yang selama ini hanya dianggap legenda belaka.

Tanpa disangka, setiap kisah yang tertulis dalam buku tersebut jadi nyata. Yang paling parah, buku ini menulis sendiri cerita-cerita horor soal akhir nasib para pembacanya. Bayangkan death note tapi penulisnya gaib! Petualangan para tokoh ABG ini melawan kutukan menakutkan itu pun dimulai.

2. Visual ciamik & jump scare yang efektif bikin jantungan

Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

Untuk sebuah film horor, efek spesial dan musik jadi nyawa yang sulit dipisahkan. Dua aspek tersebut tersaji dengan baik dalam film garapan André Øvredalini yang satu ini.

Meskipun cenderung menggunakan pakem klasik dalam hal musik dan efek, tetapi semuanya terasa efektif. Termasuk dengan beberapa jump scare yang bertebaran di sepanjang durasi film. Gak berlebihan, gak kekurangan, dan terasa pas.

Begitu apiknya, akan ada beberapa bagian yang bikin tensi suasana begitu tinggi sampai-sampai kamu bisa merasa terintimidasi saat menatap layar. Atau keburu tercekat, pengin menjerit duluan dibanding sang tokoh yang ada dalam film.

Oh iya, penyajian film yang ber-setting di era Presiden Richard Nixon juga tereksekusi dengan manis. Dapet banget tuh aura horor retro yang sekarang memang lagi ngetren menyusul kesuksesan franchise laris seperti "IT" (2017), "The Conjuring" (2013), dan "Stranger Things" (2016-2019).

Baca Juga: Review Film Bumi Manusia: Pribumi Pertama yang Lawan Pengadilan Eropa

3. Mengandung pesan sosial & kehidupan yang bisa dijadikan pelajaran bagi para penonton

Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

Meskipun film horor ini ditujukan buat semua umur (alias pasar utamanya anak-anak dan remaja), namun tetap dibekali nilai-nilai yang cukup menggugah batin orang dewasa. Mungkin hantu atau monster yang muncul gak seberapa seram buat penonton dewasa, tetapi makna terpendamnya lumayan bikin saya termenung.

Misalnya begini, film "Scary Stories to Tell in the Dark" ber-setting di tahun 1968, saat Amerika Serikat tengah berperang dengan Vietnam. Serangkaian adegan di sana seolah menanamkan pesan bahwa, sejak dahulu, setiap hari selalu saja ada anak-anak yang mati dan jadi korban karena keputusan semena-mena orang dewasa. Baik itu akibat kutukan buku tersebut atau bukan.

Film ini juga nantinya seakan mengajak penonton membuka mata agar tidak mudah percaya hoaks atau menghakimi seseorang. Gak nyangka 'kan?

Sang Produser sekaligus penyumbang skenario, Guillermo del Toro (sutradara "Pan's Labyrinth" (2006) dan "Shape of Water" (2017)) memang dikenal dengan karya-karyanya yang berhasil mengawinkan antara elemen horor dan drama tragedi.

Tapi ada pula kekurangan dalam Scary Stories to Tell in the Dark

4. Terkadang alur cerita terasa buru-buru pindah ke babak berikutnya tanpa ada buffer yang cukup

Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

Meskipun tulang punggung ceritanya mantap dan solid, namun saya merasa ada beberapa bagian di mana perkembangan cerita terasa terlalu diburu-buru. Ada juga bagian-bagian yang tampaknya dibikin jadi jalan pintas biar lekas sampai ke babak berikutnya.

Hal ini terasa sekali ketika ada beberapa bagian yang dijabarkan dengan manis, tapi semenit kemudian seolah ala kadarnya saja. Namun, secara garis besar hal ini sebenarnya gak terlalu mengganggu kok.

5. Ending yang bikin semua kengerian sepanjang film terasa sia-sia

Mencekam, 5 Plus & Minus Film Scary Stories to Tell in the Dark

(SPOILER ALERT!)

Satu yang bikin saya kecewa dengan film ini. Setelah 1 jam dan 40 menit lebih 'dipanggang' dengan kengerian dan tragedi tadi, saya seolah 'disiram' dengan seember air berupa ending yang bikin melempem.

Yang membedakan film ini dari aneka horor anak-anak bertema serupa adalah konsekuensi yang dialami para pemeran. Jika film seperti "IT" (2017) atau serial "Stranger Things" (2016-2019) mengizinkan para jagoan utamanya selamat, anak-anak dalam "Scary Stories to Tell in the Dark" gak seberuntung itu.

Konsekuensi ini jadi salah satu komponen yang bagus untuk menanamkan rasa takut dalam benak penonton. Sayangnya bagian ending yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan hal ini bisa diputarbalikkan spontan membuat simpati saya sedikit luntur. Tapi bagi orang lain bisa jadi justru memberikan harapan dan rasa senang!

Intinya, Scary Stories to Tell in the Dark merupakan horor yang menghibur dan IDN Times memberi skor 3,5/5 untuk karya terbaru André Øvredalini ini. Jangan lupa nonton di bioskop favoritmu!

Baca Juga: Review Film Perburuan: Antara Pemberontakan dan Penantian Kemerdekaan

Topic:

  • Triadanti
  • Edwin Fajerial

Just For You