Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Serius

#MovieOn Coba cek, adakah teman yang bisa dinikahin?

Sejak tayang perdana Rabu (28/03) lalu, film ‘Teman Tapi Menikah’ sudah meraih hampir 300 ribu penonton. Kisah yang diangkat dari perjalanan cinta Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini sebelumnya sudah dituliskan dalam bentuk novel berjudul sama.

Sebelum bukunya rilis, tagar #temantapimenikah sudah lebih dulu viral di sosial media. Ayu dan Ditto juga muncul dengan vlog keseharian keluarga kecil mereka yang inspiratif. Gak heran kalau rilisnya film ini sudah ditunggu-tunggu oleh para penggemar Keluarga Belo.

Berikut adalah sedikit ulasan untuk film ‘Teman Tapi Menikah’, simak yuk!

1. Semua cinta berawal dari teman

Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Seriusinstagram.com/film.temantapimenikah

Jatuh cinta pada sahabat sendiri dan memendam rasa selama bertahun-tahun. Premis sederhana yang dialami juga oleh banyak orang. Makanya ada yang bilang bahwa jodoh gak jauh-jauh, bisa jadi malah orang terdekat.

Seperti Ditto (Adipati Dolken) yang menyimpan rasa pada Ayu (Vanesha Prescilla) sampai 12 tahun lamanya. Mengenal Ayu sejak masih SD lewat aktingnya di TV, Ditto akhirnya bertemu sang gadis pujaan di sekolah. Dari SMP hingga SMA mereka sekelas dan banyak habiskan waktu bersama.

Ditto akhirnya memberanikan diri nyatakan cinta pada Ayu, di saat sahabatnya itu sudah dilamar lelaki lain. Tapi hati gak bisa bohong, seperti judulnya maka mereka pun bersatu lewat pernikahan.

Semua cinta memang awalnya dari pertemanan. Entah lewat dikenalin teman, teman melakukan kegiatan bersama, bahkan mungkin teman makan teman. Meski yang terakhir agak ngeri juga sih.

2. Adegan pembuka epic dan setting yang memukau

Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Seriusinstagram.com/film.temantapimenikah

Digarap oleh sutradara peraih Piala Citra, Rako Prijanto, ‘Teman Tapi Menikah’ menyuguhkan sebuah tontonan fun yang kekinian abis. Latar tempatnya apik, sesuai dengan setting waktu perjalanan Ayu-Ditto yang dimulai pada awal tahun 2000-an.

Hanya ada sedikit kejanggalan, soal keberadaan ponsel pintar dan aplikasi WhatsApp saat mereka masih SMA. Kalau dirunut sesuai waktunya, Ayu-Ditto bersekolah SMA sekitar tahun 2005-2008. Di mana waktu itu belum ada smartphone yang beredar luas di Indonesia, dan jelas belum ada WhatsApp.

Selebihnya, untuk urusan setting digarap dengan baik. Latar-latar tempatnya unik dan instagramable, sepulang nonton dijamin penasaran di mana lokasi kafe dan rumah Ayu sebenarnya. Ditambah soundtrack yang easy listening sepanjang film, ‘Teman Tapi Menikah’ benar-benar tontonan yang seru dan menyenangkan.

Oh ya, jangan sampai telat datang ke bioskop. Catat jam tayangnya baik-baik. Kenapa? Adegan pembukanya epic! Kamu dijamin terpukau dengan sesuatu yang sebenarnya sederhana, tapi dieksekusi dengan cerdas.

3. Pengalaman gak bisa bohong, Adipati Dolken membuktikannya dengan baik

Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Seriusinstagram.com/film.temantapimenikah

Belakangan sebelum tayang, ‘Teman Tapi Menikah’ santer dibicarakan masyarakat karena diperankan oleh pendatang baru yang sedang naik daun, Vanesha Prescilla. Hanya berjarak 2 bulan dari ‘Dilan 1990’, sosok Milea yang ikonik ini harus tampil lagi sebagi Ayu.

Vanesha dipasangkan dengan Adipati Dolken, aktor ganteng yang sudah bintangi lebih dari 20 judul film. Cerita diambil dari sudut pandang Ditto, sehingga porsinya terasa lebih besar ketimbang Vanesha. Aktingnya sebagai Ditto pun terasa 'Ditto' banget. Tengil, jahil, dan kocaknya Ditto dibawakan dengan apik.

Tanpa perlu membandingkan dengan film sebelumnya, Vanesha cukup sukses membawakan sosok Ayu meski masih ada sedikit kekurangan di sana-sini. Gaya tengil dan tomboy-nya terasa natural. Sayang akting sedihnya masih terlihat kaku. Apalagi saat adegan menangis, ini sangat terasa dibuat-buat.

Selebihnya, chemistry Adipati dan Vanesha nyaris tanpa cela. Mungkin pengaruh kedekatan mereka di kehidupan nyata yang sudah terjalin lama. Adegan demi adegan terasa mulus dan natural.

Nilai plusnya lagi, porsi yang diberikan untuk para pemeran pendukung gak sekadar ‘lewat’. Keberadaan Beby Tsabina, Refal Hady, Denira Wiraguna, dan Rendy Jhon Pratama ikut membangun keutuhan cerita. Mereka hadir sebagai pemicu konflik di antara Ditto dan Ayu.

4. Absennya peran antagonis dan beberapa bagian seperti terlalu buru-buru

Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Seriusinstagram.com/film.temantapimenikah

Review ini ditulis tanpa membaca buku ‘Teman Tapi Menikah’ lebih dulu. Saya yakin cerita aslinya lebih panjang dan detail, lalu harus dipadatkan menjadi sangat ringkas untuk versi film. Bayangkan saja, kisah penantian 12 tahun diringkas menjadi 102 menit saja. Hasilnya, beberapa bagian terasa agak buru-buru.

Soal plot cerita secara keseluruhan, dari judul memang sudah tertebak bahwa Ditto dan Ayu pada akhirnya menikah. Tantangannya adalah bagaimana mengisahkan perjalanan panjang mereka hingga berlabuh pada keputusan ini.

Karena absennya peran antagonis, saya merasa film ini berjalan terlalu mulus. Konflik yang terjadi adalah perang batin dalam diri masing-masing tokoh. Ditto yang ada rasa pada Ayu tapi menahan untuk bilang, dan mengalihkannya dengan gonta-ganti pacar. Sementara Ayu berusaha setia dengan kekasihnya, untuk menepis rasa ketergantungan pada Ditto.

Memang gak ada aturan baku bahwa setiap cerita harus menghadirkan sosok antagonis. Tapi bagi kamu yang mengharapkan konflik lebih dalam, ‘Teman Tapi Menikah’ memilih sajian ringan. Betapa gemasnya menahan perasaan pada sahabat sendiri, dan perlu 12 tahun sampai keberanian itu memuncak.

5. Kaya pesan moral dan konflik utama yang terasa nyata

Teman Tapi Menikah: Jangan Main-main Pada Perasaan yang Seriusinstagram.com/film.temantapimenikah

Uniknya film ‘Teman Tapi Menikah’ adalah penonton sudah diberi tahu ending-nya akan seperti apa, ada sosok aslinya di dunia nyata, tapi tetap gemas dengan kisah manis ini. Karena konflik utamanya memang terasa nyata, banyak pertemanan yang berujung di pelaminan.

Bahkan mungkin sepasang teman yang dulunya musuhan, lama gak bertemu, tiba-tiba setelah usia suduh cukup matang dipertemukan kembali. Meski kenangan gak selalu manis, tapi nostalgia selalu terasa puitis.

‘Teman Tapi Menikah’ gak cuma fun, lucu, dan menggemaskan. Banyak pesan moral yang tersaji dari film ini. Tentang bagaimana anak muda mewujudkan ambisinya, cara memotivasi diri sendiri, dan tentu saja soal keberanian menyatakan cinta. Ingat ini: jangan pernah main-main dengan perasaan yang serius. Mungkin cuma teman main, tapi perasaan boleh serius.

Tertarik buat nonton? Gak perlu pacaran sama teman sendiri untuk merasa baper setelah nonton film ini. Tapi mungkin kamu yang masih sendiri akan bertanya-tanya dalam hati, “Adakah teman yang bisa dinikahin?”

Dian Arthasalina Photo Verified Writer Dian Arthasalina

bukan orang penting, kecuali anda mementingkan saya. kadang-kadang ngoceh di instagram @arthasalina

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Indra Zakaria

Berita Terkini Lainnya