Comscore Tracker

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi Satu

Sajikan kenangan lama dengan cara kocak dan hangat

Pada Senin siang di bulan Mei aku menuju ke kota kabupaten dari rumahku yang cukup tersembunyi di pedalaman Jawa Timur. Jaraknya sekitar satu jam ditempuh dengan kendaraan bermotor. Satu tujuanku, menonton film Srimulat: Hil yang Mustahal di bioskop.

Film ini membuat aku penasaran bahkan sejak mendengar judulnya saja. Kesannya sangat Srimulat dan tampak begitu mengundang untuk bernostalgia. Sesuai perkiraan, film biopik ini memang sukses membawa penonton jalan-jalan ke masa lalu dengan mengharu biru. Kocak banget pula. Kurang lebih, begini letak keseruannya.

1. Kental dengan nuansa retro

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuPemain film 'Srimulat: Hil yang Mustahal' dengan outfit gaya retro (instagram.com/filmsrimulat)

Di sepanjang film, mataku dimanjakan dengan pemandangan Solo dan Jakarta era tahun 80-an. Segala bangunan dan kendaraan kelihatan antik bernilai sejarah tinggi. Kapan lagi bisa menyaksikan bus jadul yang legendaris kelihatan santai wira-wiri di jalanan, kan? Atau sepeda ontel? Atau lagi, kapan lagi menemukan poster iklan dan pertunjukan yang dilukis tangan tampak digelar rapi di dinding gedung?

Menyesuaikan latar tahun 80-an, para pemain film Srimulat: Hil yang Mustahal pun tampil dengan fashion style khas era tersebut. Gayanya retro abis dengan warna-warna bold dan item hits seperti celana jeans, baju garis-garis, dan baju-baju motif. Tatanan rambut mereka juga mencerminkan potret orang-orang pada masanya.

2. Lawakan Srimulat gak ada matinya

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuCuplikan film 'Srimulat: Hil yang Mustahal' (instagram.com/filmsrimulat)

Dalam percakapan sehari-hari, ada kalanya terdengar kalimat seperti, "Kamu Srimulat banget, deh!" untuk menanggapi candaan seseorang. Bukan tanpa alasan, guyonan para pelawak Srimulat memang se-legend itu.

Awalnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana lawakan Srimulat akan ditampilkan dalam film ini. Apakah saat mereka manggung? Atau bagaimana? Rupanya, secara keseluruhan film ini adalah lawakan Srimulat itu sendiri. Salah satunya adalah lawakan yang melibatkan gestur tubuh dan mimik wajah seakan-akan tengah menderita, yang belakangan baru aku tahu istilahnya disebut slapstick. Lawakan seperti ini bisa dijumpai pada adegan Ana (Naimma Aljufri) yang kakinya terinjak, Babeh Makmur (Rano Karno) yang matanya tercolok gelas, dan masih banyak lagi.

Lawakan yang juga khas Srimulat adalah mengulang-ulang adegan konyol. Di antaranya terlihat ketika Timbul (Dimas Anggara) berkali-kali salah menyebut nama lonceng pemberian Ki Sapari (Whani Darmawan), atau ketika mereka berdua berulang kali gagal memakai kain ikat sebagai blangkon di kepala. Selain itu, sesi horor ala Srimulat yang kocak juga tak ketinggalan bikin pecah tawa seisi bioskop.

Baca Juga: 10 Potret Kompak Pemain Srimulat: Hil yang Mustahal di Balik Layar

3. Seru dengan kehadiran cameo

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuKomedian Tarzan dan aktor Ibnu Jamil bertemu di film 'Srimulat: Hil yang Mustahal' (instagram.com/ibnujamilo)

Di tengah-tengah film, aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku ketika Tarzan yang asli bertemu dengan Tarsan yang diperankan Ibnu Jamil. Apalagi momen pertemuan mereka pun tak kalah epik dan konyol dengan lawakan khas Srimulat.

Sementara di awal aku sudah dibuat terkejut dengan kehadiran Rano Karno sebagai pemeran pendukung, Babeh Makmur. Selain itu, di film ini Gepeng yang diperankan Bio One juga sempat bertemu dengan Kris Tatang anak Gepeng yang asli, lho. Kehadiran para cameo tersebut tak ayal menambah semarak suasana.

4. Tersirat pesan tentang cita-cita dan kesuksesan

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuCuplikan film 'Srimulat: Hil yang Mustahal' (instagram.com/filmsrimulat)

Film Srimulat: Hil yang Mustahal gak melulu mengajak penonton tertawa. Mataku beberapa kali terasa berkaca-kaca dengan gestur atau dialog yang menampar.

Misalnya ketika Gepeng (Bio One) terduduk pasrah di pintu rumah gedhek-nya. Ia diam menyimak bapaknya yang menyatakan fakta bahwa mereka orang miskin, dan sebaiknya tak perlu banyak tingkah apalagi berharap muluk-muluk untuk tampil di atas panggung. Namun ia kemudian berhasil membuktikan bahwa orang miskin juga punya kesempatan untuk bersinar.

Sementara ungkapan, "Dadi seniman kui kudu midak lemah," (jadi seniman itu harus nginjak tanah) dari Pak Teguh (Rukman Rosadi) menjadi pengingat agar seseorang tidak lupa diri ketika sudah berada di atas. Dan tentunya tagline ikonik Toto Asmuni (T. Rifnu Wikana), "Ra ono hil sing mustahal!" (tak ada hal yang mustahil) yang menginspirasi judul film ini juga cukup kuat menjadi pelecut semangat menggapai cita-cita.

5. Ada kisah tentang keluarga dan persahabatan

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuFilm 'Srimulat: Hil yang Mustahal' (instagram.com/filmsrimulat)

Menceritakan perjalanan karier grup lawak Srimulat yang legendaris, film ini sarat dengan nilai-nilai kekeluargaan dan persahabatan. Rasanya sangat emosional ketika menyaksikan kekompakan mereka diuji.

Misalnya ketika duo sahabat Gepeng (Bio One) dan Basuki (Elang El Gibran) hampir berpisah jalan. Atau ketika Kabul alias Tessy (Erick Estrada) teringat anak perempuannya di kampung. Begitu pula ketika Toto Asmuni (T. Rifnu Wikana) rindu istrinya dan mendendangkan tembang Jawa yang mendayu-dayu.

6. Detail kecil yang bikin baper

Srimulat: Hil yang Mustahal, Tawa dan Haru jadi SatuTukang sate di film 'Srimulat: Hil yang Mustahal' (instagram.com/fajarnugrs)

Bicara tentang adegan Toto Asmuni (T. Rifnu Wikana) ketika rindu sang istri, di situ terdapat tempat penyimpanan berupa kotak kaleng seng Butterfly warna oranye. Pikiranku langsung terbang ke rumah, di mana kotak yang mirip seperti itu juga ada dan masih digunakan sebagai wadah benang meski flap penutupnya sudah hilang. Itu adalah kotak peninggalan ibu yang penuh kenangan. Orang lain di luar sana yang berasal dari generasi 80an atau 90an sepertiku mungkin bisa merasakan euforia yang sama ketika melihat kotak oranye tersebut.

Detail kecil lain yang juga cukup mengandung 'bawang' adalah gerobak tukang sate. Fajar Nugros sang sutradara mengungkap dulu dirinya waktu kecil kerap mendapati pedagang sate ayam madura keliling menggunakan gerobak model kapal. Gerobak yang sama ada di film Srimulat ini. Konon sebelum jembatan Suramadu ada, para pedagang menyeberang dari Pulau Madura ke Pulau Jawa dengan gerobak kapal itu. Terdapat lonceng yang berbunyi krincing di gerobak dan bikin ngeri anak-anak pada malam-malam saat pedagang sate itu lewat.

Sebetulnya ingatanku tentang Srimulat tidak begitu banyak. Tapi aku ingat betul dulu tetangga sekompleks biasa berkumpul buat nonton Srimulat bareng-bareng karena belum banyak yang punya TV di rumah. Film Srimulat: Hil yang Mustahal sedikit banyak membangkitkan kenanganku waktu kecil itu. Ini baru babak pertama, gak sabar pengin nonton film Srimulat babak kedua! Kamu juga, kan?

Baca Juga: Film Srimulat: Hil yang Mustahal, Lawakan Khasnya Mengocok Perut

Henny Alifah Photo Verified Writer Henny Alifah

anak kucing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Merry Wulan
  • Stella Azasya

Berita Terkini Lainnya