Comscore Tracker

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati Film

Sineas Indonesia mulai tertarik dengan aspek rasio vertikal

Dalam sebuah film, aspek rasio tidak hanya menampilkan visual secara lebar dan tinggi layar. Jauh dari itu, bentuk layar sering digunakan para pembuat film tentang bagaimana memproyeksikan perasaan dari film yang mereka buat. 

Seperti halnya film Xavier Dolan's Mommy yang menggunakan rasio ‘perfect square’ untuk membuat penonton merasa dekat dengan karakter mereka dan lebih terlibat dalam keintiman di dalam film tersebut.

Seiring kemajuan teknologi, pengalaman menonton juga berubah. Sejak maraknya pembuatan film vertikal di media sosial, beberapa sineas Indonesia mencoba beradaptasi dengan teknologi baru dan membuat film pendek untuk media sosial menggunakan aspek rasio vertikal. Lalu, apa istimewanya pembuatan film vertikal? Yuk simak di bawah ini! 

1. Masyarakat saat ini cenderung menghabiskan banyak waktu di handphone

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati FilmCEO of Wahana Kreator Nusantara, Producer, Writer & Director, Salman Aristo, saat menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’ yang digelar secara virtual melalui platform TikTok, Sabtu (25/9/2021). (Tangkapan Layar TikTok @sundanceffasia/Marwan Fitranansya)

Salman Aristo, selaku CEO of Wahana Kreator Nusantara, Producer, Writer & Director, mengatakan bahwa aspek rasio vertikal dalam sebuah film berpengaruh terhadap pengalaman penonton serta memberi ‘warna’ baru dalam menikmati berbagai karya dari para sineas.

“Aspek rasio vertikal lahir dari kebutuhan. Terlebih saat ini masyarakat Indonesia banyak menghabiskan waktunya di handphone, termasuk menonton film. Karena itu, aspek rasio sudah mulai bergeser yang biasanya horizontal, sekarang sudah banyak menggunakan aspek rasio vertikal agar memberikan pengalaman yang baru bagi penonton dalam menikmati sebuah film,” ujar Salman Aristo saat menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’ yang digelar secara virtual melalui platform TikTok, Sabtu (25/9/2021).

Baca Juga: 3 Sineas Indonesia Bagi Pengalaman buat Film Pendek

2. Penulis skenario akan menyesuaikan dan beradaptasi dengan kebutuhan mediumnya

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati FilmIlustrasi menulis (pexels.com/@picjumbo-com-55570)

Salman pun menambahkan bahwa daya tangkap atau ‘jaring cerita’ dari filmmaker berubah ketika memakai aspek rasio tertentu, terlebih menggunakan aspek rasio vertikal. Karena itu, seorang penulis skenario juga akan menyesuaikan dan beradaptasi dengan kebutuhan mediumnya.

“Media sosial mengubah banyak hal, termasuk dalam sektor perfilman. Dengan masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di gadget, pada akhirnya mereka bisa menikmati tayangan film dalam genggamannya,” jelasnya.

3. Film menggunakan aspek rasio vertikal memberikan pengalaman baru

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati FilmUnsplash

Pada kesempatan yang sama, Jason Iskandar selaku Scripwriter & Director--yang juga menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’--mengungkapkan bahwa film menggunakan aspek rasio vertikal bisa menyenangkan dan memberikan pengalaman baru.

“Karena menonton film menggunakan aspek rasio vertikal di handphone akan lebih memenuhi layarnya,” tambah Jason yang juga merupakan sutradara film X&Y dan tengah viral di TikTok.

Seperti diketahui, film X&Y mengangkat cerita romansa tentang Omar, merepresentasikan sumbu Y, yang memendam rasa kepada Winda, si sumbu X yang ternyata mempunyai langkah ke arah yang berbeda.

Film tersebut dibintangi Jourdy Pranata yang berperan sebagai Omar, dan Arawinda Kirana sebagai Winda yang beberapa waktu lalu terpilih sebagai Aktris Pendatang Baru Terpilih di Piala Maya 2021.

"Kolaborasi bersama TikTok ini memberikan suatu tantangan sekaligus kesempatan bagi kami dari industri film untuk mengeksplorasi suatu cerita film ke dalam format dengan aspek rasio yang lebih ramping, yang tentunya memberikan pengalaman unik dan berbeda dibanding menonton film dalam format horizontal," ungkap Jason. 

4. Engagement rate dan video completion dari video vertikal lebih tinggi daripada video horizontal

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati FilmHead of Content and Operations TikTok Indonesia, Angga Anugrah Putra, saat menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’ yang digelar secara virtual melalui platform TikTok, Sabtu (25/9/2021). (Tangkapan Layar TikTok @sundanceffasia/Marwan Fitrannansya)

Sementara itu, Head of Content and Operations TikTok Indonesia, Angga Anugrah Putra,  mengatakan sebagai destinasi video singkat yang penuh kreativitas, TikTok berharap film X&Y bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk mengeksplorasi fitur-fitur di TikTok untuk story telling sekaligus memberikan wadah bagi para kreator berbakat untuk membangun karier mereka di dunia entertainment di Indonesia. 

"Beberapa riset mengatakan jika engagement rate dan video completion dari video vertikal lebih tinggi daripada video horizontal. Penggunaan ponsel pintar yang semakin meningkat juga membuat masyarakat terbiasa dan lebih nyaman melihat format video dalam bentuk vertikal," kata Angga yang juga menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’.

5. Autentifikasi penting dalam membuat konten

Penggunaan Aspek Rasio Vertikal Jadi Cara Baru Nikmati FilmJason Iskandar saat menjadi pembicara dalam panel discussion Sundance Film Festival 2021 Asia bertajuk ‘The Rise of Vertical Cinema’. (Tangkapan Layar TikTok @sundanceffasia/Marwan Fitranansya)

Selain itu, Jason juga memberikan tips bagi para konten kreator agar mampu menghasilkan konten-konten yang menarik dan tentunya produktif. Ia menjelaskan bahwa 5 detik pertama di media sosial sangat krusial. Jadi, perlu diperhatikan dengan baik agar mampu menarik engagement yang lebih banyak. 

“Secara video di general, video autentik adalah video yang paling dicari kalau di media sosial. Yang terpenting adalah autentifikasi. Ketika kita terlalu berpikir panjang itu pasti gak akan works. Spontanitas itu yang lebih disuka di TikTok. Nah, kalau film, karakter dan bagaimana memperkenalkan tokoh tersebut. Secepat mungkin kita bisa melihat karakternya, memahami masalahnya, relate dengan karakter,” pungkasnya. (WEB)

Baca Juga: 10 Finalis Short Film Competition oleh Sundance Film Festival: Asia

Topic:

  • Marwan Fitranansya

Berita Terkini Lainnya