Comscore Tracker

5 Alasan Joaquin Phoenix "Walk Out" dari Wawancara Joker

Keluar dari sesi wawancara akibat pertanyaan kontroversial

Joker menjadi salah satu proyek terbaru Warner Bros yang sangat diantisipasi oleh para penggemar komik, melihat bahwa film ini akan berada di luar ruang lingkup DC Extended Universe (DCEU) dan menceritakan asal-usul dari badut psikopat itu.

Bicara soal Joker, tentu tak lengkap rasanya tanpa membahas sang pemeran utama, Joaquin Phoenix. Diketahui bahwa aktor berusia 44 tahun ini telah mendulang beragam pujian atas perannya sebagai sang Clown Prince of Crime dalam film ini.

Namun saat melakukan sesi wawancara untuk mempromosikan Joker, Phoenix mendadak meninggalkan ruangan wawancaranya. Adakah alasan tertentu mengapa Phoenix melakukan hal tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Perubahan topik wawancara secara tiba-tiba

5 Alasan Joaquin Phoenix Walk Out dari Wawancara Jokeryoutube.com

Beberapa hari lalu, Joaquin Phoenix diundang untuk melakukan sebuah wawancara dengan Robbie Collin yang mewakili The Telegraph. Pada awalnya, wawancara mereka berjalan lancar. Namun di tengah wawancara tersebut, Phoenix diberikan pertanyaan yang membuatnya sedikit gelisah.

Topik pembicaraan pun mulai bergeser ke ranah yang belum pernah dipikirkan Phoenix, membuatnya terkejut sehingga meninggalkan ruangan tersebut. 

Saat itu Collin mengajukan pertanyaan kepada Phoenix, tentang "apakah karakter Joker-nya — seorang pria yang ditolak oleh masyarakat dan bingung setelah kariernya gagal, dengan penyakit mental yang akhirnya bermanifestasi menjadi sosok yang melakukan kekerasan ekstrem — mungkin akan menginspirasi orang-orang untuk menjadi seperti itu?”

Phoenix jelas tidak tahu bagaimana merespons pertanyaan tersebut, dan segera keluar dari ruangan, meskipun akhirnya kembali setelah masalah itu direkonsiliasi dengan Departemen PR (Public Relation) Warner Bros.

2. Pertanyaan yang tidak bisa "dijawab" oleh Phoenix

5 Alasan Joaquin Phoenix Walk Out dari Wawancara Jokerdailymotion.com

Bisa dibilang bahwa sosok Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix akan lebih kompleks dari beberapa karakter Joker sebelumnya. Tidak seperti sosok Joker "Heath Ledger" yang lebih anarkis, sosok Arthur Fleck yang diperankan oleh Phoenix lebih menggambarkan kondisi nyata dari orang yang memiliki depresi.

Lalu saat diwawancarai oleh Telegraph, Phoenix juga nampaknya tidak mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang merujuk pada potensi dampak psikologis yang bisa ditimbulkan dari filmnya.

Saat diberikan pertanyaan yang menyinggung hal tersebut, dikatakan bahwa Phoenix memberikan "tatapan sinis" pada Collin seperti yang ia perlihatkan dalam film The Master atau You Were Never Really Here, sebelum mengerutkan bibir dan bertanya, "Mengapa? Mengapa kamu? Tidak ... tidak."

Menurut Collin, Phoenix kemudian berdiri, menjabat tangannya, dan pergi dari ruangan tersebut. Sekitar satu jam kemudian, Phoenix kembali untuk melanjutkan wawancaranya. Phoenix menjelaskan bahwa dia "panik" karena pertanyaan itu benar-benar tidak pernah terlintas di benaknya sebelumnya

Phoenix kemudian balik bertanya kepada Collin, dan meminta sebuah "jawaban cerdas" yang bisa dipakai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Setelahnya, Phoenix menyebutkan bahwa Arthur Fleck juga akan mengajukan pertanyaan tanpa jawaban yang mudah seperti yang dilontarkan oleh Collin.

3. Pro dan kontra mengenai film Joker

5 Alasan Joaquin Phoenix Walk Out dari Wawancara Jokerblitz.pt

Setelah Joker melakukan debut di Festival Film Internasional Venice pada tanggal 31 Agustus lalu, para kritikus langsung bergegas untuk menulis ulasan mereka dan segera memberitahukannya kepada publik.

Sebagian besar kritikus memberikan pujian untuk film Joker, terutama dari segi narasi yang dianggap cukup kuat untuk merevolusi film bergenre comic book. Mereka juga menyebutkan bahwa transisi Phoenix dari komedian yang gagal menjadi seorang sosiopat layak diganjar dengan piala Oscar.

Namun tidak semua kritikus memiliki respon positif terhadap Joker. Beberapa kritikus menganggap bahwa sosok Arthur Fleck dinilai terlalu membahayakan, karena dapat memberikan penonton "ide yang salah" untuk melakukan balas dendam yang akan berakhir secara tragis.

Kritikus Vanity Fair, Richard Lawson, bahkan bertanya-tanya apakah Joker telah menjadi propaganda yang tidak bertanggung jawab untuk orang-orang yang menderita penyakit mental. Hal serupa juga diungkapkan oleh Stephanie Zacharek dari Time, yang merasa bahwa Arthur Fleck adalah gambaran dari sosok berbahaya yang dapat melukai orang lain.

Menurutnya, semua penderitaan yang dialami Arthur mengarah ke serangkaian kebrutalan, yang sebagian besar terjadi ketika dia mulai mengenakan pakaian badutnya. Kekerasan yang ia lakukan dianggap bisa membuatnya merasa lebih terkendali, dan mengurangi perasaan sedihnya.

Collin sendiri membuat sebuah tweet setelah menonton Joker di Festival Film Venice. Menurutnya, Joker adalah film yang bagus, tetapi ia khawatir bahwa seseorang akan terbunuh karenanya.

"Joker adalah film yang akan menimbulkan masalah, karena akan mempengaruhi orang yang menontonnya," ujar Collin dalam ulasan lengkapnya tentang Joker yang diterbitkan di The Telegraph.

Baca Juga: Tanpa Joker, 10 Kejutan dari Film "Suicide Squad" Versi James Gunn

4. Dukungan kritikus terhadap "kegilaan" dalam film Joker

5 Alasan Joaquin Phoenix Walk Out dari Wawancara Jokerlrmonline.com

Joker memang mendapatkan banyak pro dan kontra. Namun terlepas dari banyaknya kritik terhadap kekerasan di dalamnya yang bisa menginspirasi orang-orang untuk melakukan hal yang sama, beberapa kritikus justru merasa bahwa kewaspadaan tersebut sangat tidak beralasan.

Salah satunya seperti yang dilontarkan oleh Alex Nichols dari Outline. Ia berpendapat bahwa gagasan terhadap kekerasan di dalam film Joker yang berpotensi mengakibatkan tragedi di dalam kehidupan nyata sepenuhnya bertumpu pada asumsi bahwa media yang menampilkan kekerasan akan melahirkan perilaku kekerasan juga.

Selain Nichols, Stephen Galloway dari The Hollywood Reporter juga menyatakan hal yang serupa. Menurutnya, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa seorang penjahat akan meniru kekejian yang berasal dari sebuah film.

Sutradara Joker sendiri, Todd Phillips, berpendapat bahwa itu semua tergantung pada perspektif penonton sendiri. Sementara itu Phoenix membebaskan semua interpretasi kepada para penontonnya nanti, melihat bahwa kompleksitas dan ambiguitas karakter inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan terbesar mengapa ia mendaftar untuk menjadi Joker.

5. Joker, karakter badut psikopat yang selalu mengundang kontroversi

5 Alasan Joaquin Phoenix Walk Out dari Wawancara Jokersuperherohype.com

Joker memang selalu diasosiasikan sebagai karakter anarkis yang menganut paham nihilisme. Hal ini dapat terlihat dalam The Dark Knight, saat karakter Joker yang diperankan oleh Heath Ledger secara gamblang mengucapkan "Why so serious?" sambil membunuh seorang gangster.

Lalu sebagai Agen of Chaos, ia mengobrak-abrik organisasi kepolisian dan membakar seluruh uang yang ia rampas dengan alasan “It’s not about money. It’s about sending a message.” Heath Ledger memang memerankan karakter ini dengan sangat apik, sampai membuat dirinya diganjar Oscar pada tahun 2009.

Namun sayang, ia tidak bisa menikmati kesuksesannya tersebut karena meninggal beberapa bulan sebelumnya akibat overdosis obat penenang. Selama beberapa tahun terakhir, karakter Joker memang selalu dilibatkan dalam fantasi bunuh diri, aksi pemberontakan, maupun advokasi kekerasan.

Pada tahun 2012 misalnya, seorang pria menyaksikan film The Dark Knight Rises sambil menembaki penonton setelah melemparkan gas air mata, di mana 12 orang tewas dan 70 lainnya terluka akibat insiden tersebut. Tidak heran jika Joaquin mendapatkan pertanyaan tentang pengaruh karakternya terhadap kekerasan yang mungkin akan terjadi.

Tak hanya itu, sang sutradara, Todd Phillips, juga menyebutkan bahwa Joker adalah sebuah film thriller dengan rating R yang menawarkan skenario intensif dan tema yang lebih gelap dari film DC lainnya. Film ini akan mengisahkan sosok Arthur Fleck alias Joker dengan latar tahun 1980-an, dan berfokus pada kisah orisinal Joker.

Terlepas dari pro dan kontra terhadapnya, Joker sendiri siap menyapa Indonesia pada tanggal 2 Oktober mendatang. Bagaimana, apakah kamu semakin gak sabar untuk menontonnya?

Baca Juga: Selain Joker, 5 Film Terbaik Venice Film Festival Ini Wajib Ditonton

Shandy Pradana Photo Verified Writer Shandy Pradana

"I don't care that they stole my idea. I care that they don't have any of their own." - Tesla // I am a 20% historian, 30% humanist and 50% absurdist // For further reading: linktr.ee/pradshy

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya