Comscore Tracker

6 Film Ini Dipengaruhi oleh Aliran Romantisisme Lho, Apa Saja?

Rekomendasi untuk kalian yang menyukai seni dan filsafat

Bukan sebuah rahasia lagi jika sinema telah dipengaruhi oleh beberapa gerakan filosofis dan artistik. Beberapa sutradara pun terus mencoba untuk menyikapi konsep-konsep seperti alam, keilahian, dan kematian dalam film-film mereka, yang secara langsung telah merujuk ke aliran romantisisme.

Gerakan romantisisme sendiri menyebar di Eropa Barat menjelang akhir abad ke-18, terutama di Jerman. Sementara banyak film yang mengambil inspirasi dari ide-ide romantis, beberapa film di bawah ini menunjukkan pengaruh estetika dan ideologis yang menarik dari berbagai sumber romantisisme.

Berikut 6 film terbaik yang dipengaruhi oleh aliran romantisisme.

1. Baraka

https://www.youtube.com/embed/ZSfFHxyYJJA

Dalam ulasannya tentang film dokumenter ini, Roger Ebert menyebut bahwa "jika seorang pria hanya bisa mengirim satu film ke luar angkasa, maka Baraka akan menjadi pilihan yang sangat tepat." Hampir sama seperti semangat aliran romantisisme, film ini berhasil mengubah sebuah seni menjadi sebuah instrumen kontemplasi.

Gaya pembuatan film ini mengutamakan bahasa visual daripada bahasa verbal, dan didedikasikan untuk melihat "dunia" di sekitar kita. Sepanjang film, kita akan disuguhkan dengan berbagai ritual, tradisi, dan kebiasaan dari suku-suku yang menarik perhatian.

Seperti yang dipercayai oleh Hegel, agama dan seni adalah bagian mendasar dari apa yang membentuk manusia, dan itulah yang ingin ditunjukkan Baraka kepada kita. Hal inilah yang ingin ditekankan oleh para filsuf romantis pada masanya.

Pesan terakhir dari film ini, seperti kebanyakan film-film di dalam daftar ini, adalah kontraposisi antara manusia dan alam yang menunjukkan hasrat manusia untuk mendominasi alam (dalam hal ini, dengan industri). 

Baraka tidak hanya mencakup rangkaian tradisi manusia yang indah, tetapi juga potret dari praktik industri yang tercela.

2. Princess Mononoke

https://www.youtube.com/embed/4OiMOHRDs14

Pasti timbul pertanyaan, mengapa sebuah film animasi Jepang bisa masuk ke dalam daftar ini, mengingat film-film lainnya dipengaruhi oleh gerakan barat yang dominan? Perlu kalian ketahui jika ada alasan kuat untuk mengaitkan karya animasi Hayao Miyazaki ini dengan gerakan romantisisme.

Princess Mononoke sendiri menceritakan kisah Ashitaka, seorang pangeran muda dari sebuah desa Emishi, dan pencariannya untuk menemukan sebuah obat kutukan yang diberikan kepadanya oleh dewa yang berubah menjadi iblis.

Sebenarnya kita tidak perlu kaget lagi dengan filmografi Miyazaki yang unik. Dari makhluk-makhluk simpatik di My Neighbor Totoro hingga "sungai jiwa" di Spirited Away, filmografi Miyazaki telah menunjukkan pada kita bahwa ada sesuatu yang misterius di sekitar kita.

Dalam film ini, tujuannya adalah untuk menunjukkan keilahian permanen yang ada di dalam alam. Sosok dewa adalah binatang yang berinteraksi di hutan; ketika hutan dipengaruhi oleh industri buatan manusia, para dewa akan membenci dan mengutuknya.

Konsepsi tentang sifat ilahi ini dibagikan, dengan satu atau lain cara, oleh setiap filsuf idealis Jerman. Film ini adalah subjek di mana filsuf romantis Jerman bertemu dengan karya novelis terkenal, seperti Mary Shelley dengan Frankenstein-nya. Intinya, di saat manusia ingin melampaui kekuatan Tuhan, mereka akan menghadapi konsekuensinya.

3. Aguirre, Wrath of God

https://www.youtube.com/embed/eJDuicFyJPg

Sangat sedikit film yang berusaha menciptakan pengalaman sinematik seperti yang akan kita dapatkan ketika kita menonton Aguirre, Wrath of God. Drama bersejarah ini berlatar di Sungai Amazon, menceritakan sebuah eksplorasi oleh sekelompok penakluk Spanyol yang mencari kota emas El Dorado.

Apa yang kita saksikan dalam film ini adalah kisah tentang kegilaan, yang akan ditebus dengan hukum alam sendiri. Film ini mengaburkan garis yang memisahkan seni dari kenyataan dengan menggabungkan keduanya. Evolusi keadaan mental yang kita saksikan di dalam karakter mencerminkan apa yang dialami para pemain dan kru di dunia nyata.

Tokoh utamanya, Aguirre, yang diperankan oleh Klaus Kinski sangat luar biasa, bahkan menjadi stereotip seorang pahlawan romantis. Kehidupan pahlawan romantis itu tragis, karena mereka dipaksa untuk menerima tatanan superior yang tidak bisa mereka kendalikan. Itulah sebabnya mereka begitu ulet. 

Intinya, tidak ada film yang dapat menunjukkan dialog antara pahlawan dan alam sebaik yang digambarkan oleh karya drama epik ini.

Baca Juga: Dibintangi Chris Evans, 5 Fakta Film Knives Out yang Misterius

4. Pan's Labyrinth

https://www.youtube.com/embed/AcHasH-nLhU

Sering digadang-gadang sebagai salah satu film terbaik di tahun 2000-an, Pan's Labyrinth menceritakan kisah yang menakjubkan, gelap, sekaligus imajinatif. Film ini sendiri berlatar di Spanyol selama era Francoist.

Dalam film ini, kita akan mengikuti kisah Ofelia yang berjuang untuk hidup dengan ayah tirinya, Vidal, seorang petinggi militer yang kejam. Satu-satunya teman Ofelia adalah buku-bukunya. Tidak lama setelah pindah ke rumah barunya, Ofelia mengetahui kalau rumah itu tidak seperti yang dia kira.

Memang bukan hal yang mengejutkan kalau Pan's Labyrinth merujuk ke aliran romantisisme, mengingat kalau Del Toro adalah seorang penggila seni. Dalam film ini, dia mengambil inspirasi dari salah satu pelukis Spanyol yang paling dicintai, yaitu Francisco de Goya.

Adegan di mana Pale Man melahap para peri pada awalnya terinspirasi oleh lukisan Goya yang paling terkenal, Saturnus Devouring His Son. Interpretasi yang diterima secara umum dari lukisan ini adalah bahwa jalannya waktu tak dapat dihentikan, yang menjadi inspirasi adegan di mana Ofelia harus kembali ke dunia "nyata" sebelum jam pasir berhenti.

Inspirasi lainnya mungkin adalah faun. Karakterisasi makhluk mitologis ini lebih dekat ke iblis daripada ke faun atau satyr, karena relatif mirip dengan iblis yang digambarkan dalam lukisan Goya, Witches 'Sabbath. Lukisan ini sering diartikan sebagai ketegangan antara penalaran dan gairah, antara kenyataan dan imajinasi.

Pan's Labyrinth menggambarkan hal ini di dalam ceritanya, di mana Ofelia hidup dalam ranah fantastik yang tidak diketahui; berlawanan dengan Vidal yang menganut realitas empiris (realitas perang, politik, dan kekakuan moral).

5. Stalker

https://www.youtube.com/embed/YuOnfQd-aTw

Semua orang pasti setuju kalau Stalker adalah film Andrei Tarkovsky yang paling terkenal. Dari sinematografinya yang indah hingga ide-ide rumit yang disajikan di dalamnya, film ini telah menarik banyak perhatian dari para kritikus hingga akademisi.

Dengan mengingat fakta kalau Tarkovsky adalah seorang auteur yang karyanya mencerminkan latar belakang filosofis yang luas, kita tidak dapat langsung mengklaim kalau magnum opus di tahun 1979-nya adalah semata-mata film "romantis."

Walau begitu, bisa dikatakan kalau seluruh film menggambarkan hubungan dialektik antara manusia dan alam. Tokoh penulis dan profesor misalnya, yang menggambarkan dua dimensi berbeda dari peradaban manusia.

Sang profesor mewakili posisi yang berlawanan dengan kaum romantik. Dia ingin mendominasi "zone," tetapi malah menghancurkannya, memecah kesatuan manusia dan sosok absolut yang tak terpisahkan. Sang penulis, di sisi lain, tampaknya tertarik oleh zone karena alasan yang lebih murni, yakni untuk menemukan inspirasi.

Jalan melalui zone adalah jalan yang membedakan kehidupan dengan kematian, atau keterbatasan keberadaan kita versus kelesuan kematian yang tak terbatas. Stalker memiliki banyak interpretasi, dan kita dapat menganalisisnya dari sudut yang berbeda. Romantisisme hanyalah salah satu "sudut" yang sesuai dengan tema artikel ini.

6. The Tree of Life

https://www.youtube.com/embed/RrAz1YLh8nY

The Tree of Life pasti muncul di dalam artikel ini, mengingat kaitannya dengan filosofis-artistik-abstrak. Film ini, bersama dengan Voyage of Time, adalah sebuah proyek yang, dalam skala kecil, terus menggali keprihatinan Malick tentang eksistensi manusia.

Banyak kritikus yang menyebut The Tree of Life sebagai salah satu film terbaik di dekade ini, dan seiring berjalannya waktu orang-orang akan terus membicarakannya. Film ini memiliki kekuatan untuk melampaui ide-ide yang tidak dapat dipikirkan secara tertulis, dan itulah kekuatan yang membuat penonton untuk merasakannya sendiri. 

Apa tujuan hidup? Bagaimana awal dari alam semesta terkait dengan siapa diri kita sebenarnya? Bagaimana kosmos dapat menentukan bagaimana kita bertindak? Semua pertanyaan ini adalah hal-hal yang bahkan harus dijawab oleh filsafat, tetapi entah bagaimana dapat kita rasakan di dalam film ini.

Seperti kata Schlegel, "manusia akan bebas ketika mereka berhasil membuat Tuhan melalui seni," hal itulah yang ingin dilakukan Malick dalam The Tree of Life. Ada dua jalan yang berbeda di dalam film ini, jalan alam dan jalan karunia, walau pada akhirnya keduanya dipersatukan dan saling melengkapi satu sama lain. 

Schleiermacher mengungkap hal tersebut di dalam tulisannya, di mana pengalaman religius yang autentik adalah merasakan ketidakterbatasan alam semesta, yang selalu dikaitkan dengan alasan dan kebebasan moral kita. Dalam The Tree of Life, kita akan melihat hal ini melalui kehidupan Jack (Sean Penn).

Terlebih lagi, baik dalam The Tree of Life atau Voyage of Time, Malick mengeksplorasi gagasan bahwa kehidupan individu tidak dapat dipisahkan dengan seluruh kosmos, menjelaskan teologi romantisisme itu sendiri. Kedua film ini menunjukkan kalau kita mengalami keilahian setiap hari selama kita masih hidup, bukan di akhirat nanti.

Nah, itu tadi 6 film terbaik yang dipengaruhi oleh aliran romantisisme. Bagaimana, tertarik untuk menonton semuanya?

Baca Juga: Bertabur Bintang, Ini 7 Film Indonesia yang Tayang Desember 2019

Shandy Pradana Photo Community Writer Shandy Pradana

"Verba volant, scripta manent." Rock n' Roll enthusiast. Cinephile.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You