Comscore Tracker

[REVIEW] Godzilla Singular Point—Lagu Misterius Pertanda Kiamat

Gak kalah menarik dari seri dan film Godzilla lainnya!

Para penggemar film maupun anime pastinya sudah gak asing lagi dengan Godzilla. Monster fiksi dari Jepang ini memang populer banget dan telah muncul di banyak film, anime, buku, maupun game. Digambarkan sebagai sosok monster prasejarah yang mengerikan, popularitas Godzilla yang terus meroket membuatnya dikenal sebagai salah satu karakter paling ikonik dalam industri film. 

Tak hanya muncul dalam film saja, penulis menemukan salah satu anime yang juga mengangkat Godzilla sebagai antagonis utamanya. Anime yang berjudul Godzilla Singular Point ini telah dirilis perdana di Jepang pada 25 Maret 2021 dan media streaming Netflix pada 1 April 2021. Untuk porsi penayangan, anime ini memiliki total tiga belas episode. Gak jauh-jauh dari topik, Godzilla Singular Point menceritakan situasi genting yang harus dihadapi oleh dunia tatkala Godzilla bangkit. Yang belum nonton penasaran, gak, nih? Sebelum itu, yuk, kita cek ulasan Godzilla Singular Point dulu agar kamu makin semangat menonton.

1. Lagu misterius pembawa petaka bagi umat manusia

[REVIEW] Godzilla Singular Point—Lagu Misterius Pertanda KiamatYun menemukan radio misterius di rumah terbengkalai. (dok. Studio Bones/Godzilla Singular Point)

Di Kota Nigashio, Prefektur Chiba, keadaan awalnya sangat damai. Siapa sangka jika kota yang berada di pinggir pesisir ini akan jadi tempat berawalnya malapetaka bagi dunia. Di kota ini, Yun Arikawa adalah progammer genius yang bekerja untuk Otaki Factory. Berkat kegeniusannya, Yun bahkan berhasil mengembangkan software cerdas bernama Naratake yang dapat digunakan untuk membantu manusia, khususnya untuk pengoptimalan informasi. Oleh bosnya, ia diminta untuk menyelidiki sinyal aneh yang muncul di sebuah rumah tua yang sudah terbengkalai. Sinyal elektromagnetik muncul dari radio yang tersimpan di rumah tersebut pun membunyikan lagu misterius dan membuat lampu-lampu jadi berkedip tak keruan. Di sisi lainnya, seorang mahasiswa pascasarjana bernama Mei Kamino juga diminta untuk memeriksa sinyal serupa di Misakioku, bekas gedung administrasi di distrik Tsuguno. Situasinya pun sama dengan yang didapatkan oleh Yun, lagu India yang misterius tiba-tiba dimainkan di sana secara berulang. 

Setelah penemuan sinyal yang dialami Yun dan Mei, berbagai keanehan pun mulai menghampiri kota tersebut. Seekor makhluk terbang mirip pteranodon muncul entah dari mana dan membuat ilmuwan-ilmuwan Jepang dan seluruh dunia bertanya-tanya. Seiring waktu, burung burung purba ini mulai disebut dengan Radon dan jumlah yang terlihat jadi semakin banyak. Tak hanya Radon, berbagai makhluk prasejarah lainnya, mulai dari Manda, Anguirus, Kumonga, hingga Salunga pun mulai meresahkan para penduduk dan menginvasi belahan dunia lainnya. Situasi pun jadi semakin genting tatkala makhluk-makhluk ini mulai menyebarkan asap merah misterius dan menggiring Godzilla ke pusat Kota Tokyo.

Menyadari ancaman luar biasa dan banyaknya teka-teki yang belum terpecahkan mengenai kemunculan makhluk-makhluk prasejarah ini, Yun dan Mei bekerja sama untuk mencari tahu akar masalah dan berharap bisa menyelesaikan kehancuran ini sebelum terlambat. Mei menggunakan program Naratake buatan Yun untuk saling bertukar informasi dan bepergian ke belahan dunia lainnya untuk mencari jawaban. 

Awalnya penulis sudah tertarik dengan anime ini karena premis yang disajikan berupa kehancuran dunia memang dibuat begitu menarik sekaligus mencekam. Kemunculan makhluk prasejarah, seperti Radon, Manda, Anguirus, Kumonga, Salunga hingga Godzilla, secara bertahap seolah memberikan pertanda akan ada ancaman yang besar di ujung cerita anime ini. Pembawaan cerita pun terbilang urut. Dari awal hingga akhir, semua misteri yang membuat penonton bertanya-tanya akan terjawab seiring anime ini berlangsung. Beberapa kekurangan menurut penulis mungkin hanya terletak di beberapa penyampaian istilah yang agak kurang familier di telinga penonton.

2. Plot armor yang kurang realistis untuk para karakternya

[REVIEW] Godzilla Singular Point—Lagu Misterius Pertanda KiamatYun berhadapan melawan Radon. (dok. Studio Bones/Godzilla Singular Point)

Dari segi alur cerita, anime Godzilla Singular Point memang memiliki kualitas cerita yang sudah menarik dari awal hingga akhir. Namun, untuk anime yang mengambil cerita ketika dunia perlahan dihancurkan oleh makhluk prasejarah, akan agak aneh jika tidak ada karakter yang benar-benar terluka serius ketika berhadapan dengan monster-monster di anime ini. Bentuk perlindungan pada karakter tertentu ini—atau biasa dikenal sebagai plot armor—membuat adegan dalam anime jadi kurang realistis. Ketegangan yang diciptakan ketika Godzilla dan monster lainnya menginvasi dunia juga kurang terasa. Alih-alih merasa terancam, situasi yang digambarkan dalam anime ini bisa dibilang hanya sebatas heboh saja. 

Namun, penulis suka dengan kerja sama antara karakter Yun dan Mei. Mereka berdua diceritakan tidak mengenal satu sama lainnya, tetapi dengan cepat merespons ancaman dan berupaya mencari akar permasalahan dengan bekerja sama. Tidak peduli sejauh apa pun jarak antara mereka, keduanya memberikan kerja sama paling baik dan cerdik dalam menghentikan krisis.

Baca Juga: [REVIEW] Sonny Boy—Proses Pendewasaan Diri di Dunia Asing

3. Animasi keren dengan CGI yang gak berlebihan

[REVIEW] Godzilla Singular Point—Lagu Misterius Pertanda KiamatGodzilla (dok. Studio Bones/Godzilla Singular Point)

Dengan banyaknya gerakan-gerakan rumit yang dibuat oleh beberapa makhluk di anime ini, penggunaan CGI pun tidak bisa dielakkan. Jika kadang penggunaan CGI yang berlebihan dalam anime akan memengaruhi kualitas animasinya, beda dengan anime yang juga biasa disebut Godzilla S.P ini. Penggunaan CGI dengan porsi yang pas membuat pergerakan dalam animasi jadi semakin baik dan mulus. 

Menariknya, anime Godzilla Singular Point adalah proyek kolaborasi antara Studio Bones dan Studio Orange. Studio Bones yang juga menggarap anime My Hero Academia, Fullmetal Alchemist, Noragami, dan Soul Eater memang memiliki desain yang khas dan menarik. Sementara itu, Studio Orange bertanggung jawab dalam pengerjaan 3DCG dalam anime ini. Dengan kolaborasi dua studio top yang ahli dalam desain dan CGI, tak heran jika dari segi grafis, Godzilla Singular Point sukses memikat penulis sendiri dan mungkin penonton lainnya.

4. Lagu yang ikonik dan terngiang-ngiang sepanjang anime berlangsung

https://www.youtube.com/embed/KcaOxAHHFrY

Masih ingat ketika penulis menyebutkan lagu India misterius yang selalu diputar tatkala sinyal aneh mulai muncul dalam alur cerita? Yup, lagu ini berjudul "Alapu Upala" dan dinyanyikan oleh Annete Philip. Karena terus-terusan muncul, lagu ini pun begitu terngiang-ngiang bagi penulis. Setelah ditelusuri liriknya, lagu ini memang memiliki lirik yang cocok untuk menjadi pesan kematian yang mengisyaratkan datangnya bencana dahsyat, yaitu kemunculan Godzilla. 

Selain lagu "Alapu Upala" sebagai salah satu insert song, pembuka anime Godzilla Singular Point dinyanyikan oleh BiSH dengan lagu yang energik berjudul "In Case...". Sementara, untuk lagu ending, lagu "Aoi" dinyanyikan oleh Polkadot Stingray memiliki summer vibe yang ceria sehingga ketegangan setelah menonton jadi sedikit bisa diredakan. 

Musik dalam anime Godzilla Singular Point digarap oleh Kan Sawada yang juga dikenal menggarap musik untuk anime Doraemon dan Yowamushi Pedal. Secara khusus, Kan Sawada berhasil membuat ketegangan dalam anime ini terasa lebih mencekam dengan audio instrumen yang ia hadirkan. Kadang, musik yang mengiringi anime ini di beberapa adegan dibuat menegangkan. Dengan tempo yang diperlambat dan dipercepat, musik terdengar cukup epik sehingga penulis juga dapat merasakan alur cerita dengan maksimal.

5. Versi anime Godzilla digarap sempurna oleh Atsushi Takahashi

[REVIEW] Godzilla Singular Point—Lagu Misterius Pertanda KiamatLina, BB, dan Mei (dok. Studio Bones/Godzilla Singular Point)

Mengingat Godzilla sendiri adalah salah satu karakter Tokusatsu paling berpengaruh di Jepang dan dunia, penggarapan anime ini menjadi tantangan tersendiri bagi sang sutradara, Atsushi Takahashi. Di luar dugaan, pertimbangan Takahashi dalam segi desain anime ini juga begitu banyak, mulai dari desain warna, animasi, hingga desain karakter Godzilla pun tak lepas dari sorotannya. Menariknya, Takahashi juga memiliki pandangannya tersendiri terhadap karakter Godzilla. Alih-alih membuat monster yang jahat dan membuat kehancuran tanpa sengaja, Takahashi menggambarkan mereka sebagai makhluk hidup yang sebisa mungkin menghindari kehancuran. Ini sedikit menjawab rasa penasaran penulis akan plot armor yang kurang realistis tadi. Dengan penyutradaraan yang terbilang detail dari Takahashi, penulis rasa sutradara kelahiran 1972 ini berhasil menggarap Godzilla Singular Point dan menjadikannya tak kalah menarik dari film maupun seri Godzilla lainnya.

"Saya pikir ada banyak orang yang tahu tentang Godzilla, tetapi hanya sedikit yang telah menonton film Godzilla Jepang, apalagi semuanya. Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang telah melihat semuanya. Jika kamu salah satu dari orang-orang yang mengatakan bahwa kamu menontonnya, kamu adalah minoritas yang kutu buku. Saya harap menonton Godzilla S.P memberi Anda motivasi untuk duduk dan menonton film-film Godzilla sebelumnya."

Atsushi Takahashi

Penulis paling terkesan dengan alur cerita, musik, dan desain dari anime ini. Lengkap dengan penyutradaraan dari Takahashi, akan sangat disayangkan jika anime ini terlewatkan oleh radar para penggemar anime lainnya. Untuk semua aspek, penulis memberikan skor akhir 4,5/5 untuk anime Godzilla Singular Point. Bagi kamu yang tertarik untuk menonton, Godzilla Singular Point bisa ditonton melalui media streaming Netflix, nih. Penggemar Godzilla maupun anime, yuk, merapat dan tonton anime ini, ya!

https://www.youtube.com/embed/wUhyxRbLWbk

Baca Juga: [REVIEW] Fena: Pirate Princess—Petualangan Tuan Putri Mencari Eden

Trisnaynt Photo Verified Writer Trisnaynt

Just go with the flow

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya