5 Problematika Anak Muda pada Su Gyeom di The Dream Life of Mr. Kim

- Kim Su Gyeom ingin sukses instan tanpa proses matang, mengalami kegagalan bisnis dan kerugian finansial.
- Terlalu percaya pada orang lain tanpa verifikasi informasi, membuatnya terjebak dalam keputusan salah yang merugikan dirinya dan keluarganya.
- Emosional dan tidak stabil dalam mengambil keputusan, ingin hidup mandiri tapi juga takut mengecewakan keluarga.
Dalam drakor The Dream Life of Mr. Kim, sosok Kim Su Gyeom (Cha Kang Yoon) hadir sebagai potret anak muda urban yang bersemangat, kreatif, dan penuh ide, tetapi juga rentan terjebak dalam berbagai dilema hidup. Ia bukan hanya putra dari Kim Nak Su (Ryu Seung Ryong), tetapi juga representasi generasi muda yang ingin sukses dengan caranya sendiri. Namun, keinginan itu tidak selalu berjalan mulus. Banyak keputusan yang membawanya pada masalah dan konflik, baik dengan keluarga maupun dirinya sendiri.
Melalui perjalanan Kim Su Gyeom, penonton diajak melihat berbagai dinamika khas anak muda yang masih belajar memahami arah hidupnya. Ada mimpi yang besar, ada keberanian untuk mencoba, tetapi ada pula kerapuhan yang membuatnya terjatuh. Berikut lima problematika anak muda yang paling menonjol dalam diri Kim Su Gyeom sepanjang cerita The Dream Life of Mr. Kim.
1. Selalu ingin cepat sukses tanpa proses yang matang

Kim Su Gyeom adalah tipe anak muda yang ingin melihat hasil instan. Begitu memiliki ide bisnis, ia langsung terjun tanpa melakukan riset mendalam atau mempertimbangkan risiko jangka panjang.
Faktor tersebut yang membuatnya mudah terjerumus dalam penipuan dan kerugian finansial. Keinginan untuk segera sukses membuatnya mengabaikan tahapan penting yang seharusnya dijalani, sehingga ia harus belajar lewat kegagalan pahit.
2. Terlalu percaya pada orang lain tanpa memverifikasi informasi

Salah satu problematika besar Kim Su Gyeom adalah sifatnya yang mudah percaya. Ia sering menerima informasi atau ajakan bisnis tanpa memastikan kredibilitasnya terlebih dahulu.
Sikap tersebut muncul karena ia ingin terlihat mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri, padahal fondasi keputusannya masih rapuh. Kepercayaan yang berlebihan ini berujung pada keputusan salah yang bukan hanya merugikan dirinya, tetapi juga keluarganya.
3. Emosinya mudah terpancing saat keputusannya diragukan

Sebagai anak muda yang ingin membuktikan diri, Kim Su Gyeom kerap tersinggung jika ayahnya atau orang lain mempertanyakan pilihannya. Ia ingin diakui sebagai seseorang yang mampu berdiri sendiri, sehingga kritik sekecil apa pun membuatnya defensif.
Masalahnya, reaksi emosional ini sering mengaburkan logika dan membuatnya mengambil langkah yang semakin impulsif. Inilah dilema yang sering dialami anak muda yang sedang mencari identitas.
4. Tidak stabil dalam mengambil keputusan

Perjalanan Kim Su Gyeom menunjukkan bahwa ia masih mudah goyah. Setiap ada peluang baru, ia cepat berubah arah, tetapi juga cepat menyerah ketika hal tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Ketidakstabilan tersebut membuat langkah hidupnya tidak terarah dan memperburuk hubungan dengan keluarganya, terutama ayahnya yang berharap ia bisa lebih bijak. Sikap ingin mencoba berbagai hal sebenarnya positif, namun tanpa kestabilan emosi dan perencanaan yang matang, peluang itu berubah menjadi risiko.
5. Takut mengecewakan keluarga tetapi juga ingin hidup dengan caranya sendiri

Inilah konflik terbesar dalam hati Kim Su Gyeom. Ia sangat ingin membuat ayah dan ibunya bangga, tetapi ia juga ingin memilih jalannya sendiri, tanpa tekanan atau campur tangan siapa pun. Ketegangan batin ini membuatnya sering bimbang, ragu, dan kehilangan arah.
Ia berusaha mandiri, tetapi pada saat yang sama membutuhkan validasi dari keluarganya. Ketidakselarasan dua keinginan ini menciptakan tekanan emosional yang berat dan menjadi salah satu problematika paling manusiawi dari karakternya.
Melalui perjalanan Kim Su Gyeom di The Dream Life of Mr. Kim, penonton dapat melihat refleksi nyata tentang tantangan anak muda dalam mencari jati diri. Lewat segala kegagalan, emosi, dan dilema, ia menunjukkan bahwa proses dewasa tidak selalu mulus, tetapi justru dibentuk oleh jatuh bangun yang melelahkan. Cerita Kim Su Gyeom mengingatkan bahwa kedewasaan membutuhkan waktu, keberanian untuk belajar, dan kesediaan untuk melihat hidup dengan lebih jernih.


















