Comscore Tracker

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikolog

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Istilah burnout barangkali sudah sering kamu dengar dalam dunia kerja. Namun, apakah kamu sudah memahami kriteria dan bagaimana cara menghadapinya? Platform pengembangan karier Glints, mengadakan Instagram Live Series 01 dengan bahasan burnout di tempat kerja pada Selasa (13/10/2020).

Acara ini menghadirkan narasumber di bidangnya yaitu Psikolog dan Penulis, Samanta Ananta, M. Psi., Psikolog. Apakah kamu termasuk karyawan yang penasaran dan ingin tahu lebih dalam akan istilah burnout? Berikut ulasan singkat dari ahli yang telah kami rangkum untukmu. 

1. Burnout pertama kali dicetuskan oleh Freudenberger pada tahun 1974 dengan istilah the high cost of the high achievement

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikologpexels.com/fauxels

Sebelum karyawan di berbagai bidang menggunakan istilah burnout sebagai tanda kelelahan kerja, kita kembali pada tahun 1974, di mana istilah burnout pertama kali dicetuskan pada eksperimen untuk petugas medis. Eksperimen ini ingin melihat para tenaga medis seperti dokter, perawat, dan psikolog yang terus-menerus bekerja dengan pasien. 

Seiring dengan berjalannya waktu, istilah burnout merambah pada pekerjaan non medis serta meluas pada industri lain. Burnout juga menyasar pada bidang pendidikan dan keluarga.

"Definisi burnout merujuk pada motivasi yang hilang, pengabdian individu yang gagal karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Social worker itu kan mengabdi, tapi rasanya tujuan awal sudah hilang dan motivasi sudah terkikis. Kerja tidak semangat, rasanya overwhelm, kemudian berkembang burnout," jelas Samanta.

Burnout memiliki beberapa kriteria yang salah satunya adalah high emotional exhausted, saat kelelahan sudah melebihi dari fatigue. Kemudian ada low personal efficacy, di mana kita merasa gak mampu lagi seperti ada pikiran 'kayaknya aku gak bisa deh menyelesaikan pekerjaan ini'.

Lalu, terakhir feeling of negativism or cynism, yang mana ketika kita mudah nyinyir terhadap segala hal. Pikiran mulai bercabang seperti mau liburan atau merindukan bekerja di kantor saat WFH, serta gak fokus sama apa yang dikerjakan saat itu.

2. Gejala burnout terlihat mulai dari pikiran, emosi, dan perilaku individu

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikologinstagram.com/glintsid

Psikolog Samanta memaparkan beberapa tanda atau gejala burnout di tempat kerja yang dapat kita kenali. Salah satunya jika dilihat dari fisik, postur tubuh cenderung bungkuk dan rentan sakit.

Secara emosi, karyawan menjadi tidak termotivasi dan mudah lelah. Misalnya, kamu baru bekerja sejam namun merasa sudah draining, seperti terjebak dalam situasi bekerja dan merasa hopeless. Kamu mungkin akan mengalami ketidakpuasan terhadap hasil pekerjaan.

Sementara pada perilaku, karyawan yang mengalami burnout lebih mudah lalai dari tanggung jawab. Pernah ngeles dengan tugas atau pergi-pergi ke luar kantor? Nah, perilaku seperti ini merupakan tanda awal gejala burnout di tempat kerja. Tapi, ada juga yang justru memulai isolasi diri dan gak mau terkoneksi dengan yang lain. 

"Ketika kita mengalami kondisi di luar batas kemampuan, kita bisa coping dengan tepat sumber kecil itu sebelum kita stres. Karena ketika sudah stres, kita biasanya over reactive. Kalau kita burnout itu, kadang kita tidak menyadari dan orang lain yang melihat. Skema di otak setiap orang berbeda sekali. Ada pengelolaan yang tepat, namun yang bahaya adalah pengelolaan yang gak tepat karena itu akan menurun ke berbagai organ tubuh kita yang lemah", terang psikolog Samanta. 

3. Apakah anak muda pada usia 20-30 tahun rentan terkena burnout?

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikologpexels.com/ Burst

"Memang ada penelitan bahwa anak muda usia 20-30 tahun berpotensi burnout lebih besar dibandingkan orang tua, apalagi yang statusnya single. Kemungkinan besar ada kebutuhan achievement yang tinggi, tapi gak tahu secara jelas dan konkrit beban tugasnya apa. Sebesar apa pekerjaan yang harus dia lakukan dengan achievement yang tinggi itu?" terangnya.

Sejalan dengan teori Abraham Maslow tentang aktualisasi diri yang telah tercapai di usia produktif, karyawan yang mengalami burnout mengalami pesimis saat achievement pada level aktualisasi diri tidak sesuai harapan.

"Nah, kerja cuma buat aktualisasi diri, tapi dia masih di level bawah. Dia masih di level bawah dan belum jadi manajer. Karena sudah punya takaran pengin begini, begini. Dalam lima tahun, aku harus jadi manajer, tapi sudah lima tahun kok aku belum naik level ya, jadinya pesimis. Kalau pesimis, harapan tidak terjadi dan mulai penurunan motivasi kerja, nah muncul tanda-tanda burnout," tambah dia.

Baca Juga: Kamu Merasa Burnout saat Bekerja? Ini Tips untuk Mengatasinya

4. Mengelola dan mencegah burnout dapat kita lakukan ketika memiliki pola hidup yang seimbang

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikologpexels.com/Wendy Wei

Memiliki kehidupan yang seimbang antara karier dan personal itu merupakan salah satu cara untuk mengelola serta mencegah burnout. Penting untuk memiliki komunitas di luar urusan pekerjaan sehingga membuat kita merasa semangat dalam hidup.

"Kalau kita ada di komunitas, kita bisa lebih merasa bebas untuk mengeksplorasi diri kita. Kuncinya adalah the power of giving, intinya adalah voluntary. Lalu kita akan merasa well being, sejahtera banget. Misalnya kita seorang akuntan, kita jago nyanyi. Ketika kita masuk komunitas ini, kita bisa ikut menghibur. Ada rasa menyenangkan ketika kita ada kegiatan yang terkoneksi satu sama lain," lanjutnya. 

Masalah burnout juga erat kaitannya dengan bagaimana kita belajar buat setting boundaries. Karyawan seharusnya tahu bagaimana membedakan masalah pekerjaan dan masalah pribadi.

Kalau sudah bekerja, tak perlu membahas masalah personal. Sebaliknya, ketika bersama keluarga, jangan membahas masalah kerjaan. Jadi, intinya tahu prioritas serta bagaimana mengatur pola kebiasaan ini.

5. Bagaimana jika kita tak sadar mengalami burnout?

Mengenal Burnout dan Cara Menghadapinya Langsung dari Psikologpexels.com/Engin Akyurt

Salah satu audiens Glints pada sesi ini, mengirimkan pertanyaan yang sepertinya sering kita alami saat burnout. "Bagaimana kalau gak sadar mengalami burnout? Sebab, kadang kita gak mau mengalami, tapi badan berkata lain."

"Ketika kita sudah tidak sadar tiba-tiba mengalami burnout fisik, namun pikiran berkata lain, berarti kita harus menyadari dengan melakukan 3R. Recognize dengan mengenali apa, reference dengan mencari tahu metode apa yang bisa kita lakukan dan sesuai sama kepribadian kita, lalu resilient menjadi utuh kembali pada performa sedia kala," tutupnya.

Itu tadi beberapa paparan mengenai burnout dan bagaimana kita sebagai karyawan dalam meresponsnya. Identifikasi menjadi penting supaya kita tahu apa yang harus diperbaiki dan pengelolaan stresnya seperti apa agar burnout dapat diatasi dengan tepat.

Baca Juga: 9 Fakta Sindrom Burnout: Kejenuhan Rutinitas Kerja

Topic:

  • Fajar Laksmita Dewi
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya