Comscore Tracker

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua 

Dahli Anggara, Millennial of the Month April 2020 

Sains dan kesehatan barangkali merupakan topik yang cukup sulit untuk ditulis dengan gaya yang populer. Mengalihkan bahasa ilmiah menjadi kalimat yang lebih mudah dipahami orang awam tentu menjadi tantangan yang tidak mudah. 

Namun, beda halnya di tangan Dahli Anggara. Community Writer satu ini tergolong sangat jago menyulap artikel sains ilmiah menjadi sebuah tulisan populer yang sangat mudah dipahami dan gak bikin pembaca pusing. Tak cuma artikel Sainsnya yang selalu memukau, Angga pun merupakan penulis yang sangat produktif di IDN Times Community. Hal ini yang menjadi alasan tim IDN Times Community memilihnya sebagai Millennial of the Month bulan April 2020.

Yuk, simak cerita inspiratif selengkapnya!

1. Bukan lulusan eksak, tapi Angga justru sangat suka menulis hal-hal berbau ilmiah

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua Dok. Pribadi/Dahli Anggara

Menulis itu tidak selalu harus selaras dengan ilmu yang kita pelajari di sekolah maupun bangku kuliah. Ungkapan ini memang benar adanya. Dahli Anggara merupakan salah satu penulis yang membuktikannya.

Penulis yang kini tinggal di Balikpapan ini merupakan lulusan jurusan Ekonomi Bisnis dari Universitas Surabaya (UBAYA). Alih-alih menulis artikel sesuai ilmu yang dipelajarinya, sejak bergabung menulis di IDN Times Community pada 2019 lalu, Angga sangat aktif menulis artikel kategori Science (Sains) dan Health (Kesehatan) — dan konsisten hingga saat ini. 

Tak selalu topik ilmiah terkini, Angga pun kerap menulis fakta-fakta unik atau yang lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Seperti salah satu artikelnya yang mendapatkan lebih dari 20 ribu views berjudul 5 Kota Paling Jorok dan Kotor di Dunia, Bikin Kamu Enggak Betah. Selain itu, Angga juga banyak menulis fakta menarik seputar tumbuhan dan hewan yang jarang kita tahu. Yang membuat tulisannya menarik adalah cara penyampaiannya yang santai dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. 

2. Awalnya Angga tidak sengaja menemukan platform menulis IDN Times Community yang kini menjadi andalannya

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua Dok. Pribadi/Dahli Anggara

Sejak remaja, Angga mulai suka membaca yang kemudian mengantarkannya pada hobi menulis. Publikasi tulisan yang paling diingatnya adalah saat menulis review sebuah anime dan ternyata berhasil terbit di majalah dinding. Dari sana ia mulai menekuni dunia tulis menulis.

Ternyata, hobinya membaca tulisan-tulisan Sains pun membawanya sampai ke laman IDN Times. “Awalnya gak sengaja nemu IDN Times dan baca artikel Sainsnya. Saya ngerasa cocok dengan gayanya lalu tahu ada IDN Times Community, jadinya kecantol nulis juga,” akunya.

Tepatnya pada September 2019, Angga mulai mencoba menulis di IDN Times Community. Menurutnya, di sini semua idenya bisa tertampung menjadi tulisan yang tak sekadar untuk dibaca tapi juga memberi manfaat buat banyak orang. “Ditambah lagi (gayanya — red) gak kaku tapi tetap profesional,” kata penulis yang juga punya kesibukan sebagai suplier sparepart motor ini.

Selain karena memang suka menulis, Angga sangat produktif mengirimkan tulisan karena adanya feedback dari editor dan artikelnya diapresiasi. Semangat menulisnya ini begitu tinggi. Dalam sehari setidaknya ia mengirim 2–3 artikel. Baginya, jangan sampai, deh sehari absen menulis karena itu bisa mempengaruhi mood-nya. “Libur seminggu aja bisa bikin malas menulis. Itu yang saya gak mau,” katanya.

Baca Juga: Shandy Pradana, Lulusan Sejarah Peraih Best Top 5 Writer Community

3. Meski ada ratusan artikelnya yang pending, hal itu gak membuat Angga berhenti menulis

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua Dok. Pribadi/Dahli Anggara

Artikel yang pending barangkali jadi hal yang paling bikin gelisah bagi penulis IDN Times Community. Meski merupakan penulis yang aktif dan produktif, nyatanya tulisan Angga pun banyak sekali menumpuk di kolom pending. Pula, siapa sangka kalau tulisan pertamanya di IDN Times Community sampai sekarang bahkan tidak tahu bagaimana kabarnya.

“Kayaknya ada sekitar 100 artikel saya yang pending. Tapi, buat saya gak masalah, sih. Apalagi tulisan-tulisan saya yang dulu (di awal bergabung), pasti masih banyak salahnya,” ungkapnya. Hal itu justru gak membuatnya berhenti untuk menulis, malahan ia semakin bersemangat karena akhirnya mempelajari bagian mana saja dari tulisannya yang salah kemudian ia perbaiki sesuai ketentuan dan saran dari editor.

Untuk itu, ia punya tips buat para penulis yang artikelnya banyak tidak terbit. Beberapa di antaranya adalah coba selidiki letak kesalahannya kemudian perbaiki. Jangan sampai kesalahan yang sama diulangi lagi. Selain itu, jangan terlalu pedulikan artikel-artikel yang menumpuk di kolom pending. Teruslah menulis. Jika akhirnya satu saja artikelmu berhasil terbit, itu bisa membuka jalan bagi ratusan atau ribuan artikelmu untuk ke depannya.

“Intinya jangan menyerah. Buktikan bahwa menulis itu adalah gairah, bukan karena paksaan,” tegasnya.

4. Menulis itu gak sulit jika kita udah terbiasa dan punya trik menemukan idenya

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua Dok. Pribadi/Dahli Anggara

Setiap penulis pastinya punya cara dan proses kreatif sendiri dalam menciptakan tulisan. Membuat tulisan berbasis ilmiah dan menjabarkannya dengan gaya yang mudah dipahami tentu bukan hal yang gampang. Namun, bagi Angga sendiri, hal itu bisa ia atasi dengan mudah. “Kuncinya adalah banyak membaca,” katanya.

Di sela kesibukannya mengelola usaha yang dijalankannya — terlebih ia harus sering bolak-balik Balikpapan-Surabaya untuk mengambil bahan dagangan — namun ia selalu menyempatkan untuk membaca. Setelah membaca, biasanya ide akan selalu muncul. Tak berhenti di situ, Angga segera membuat draft seketika menemukan ide dan menggalinya lagi lebih dalam.

“Saya juga sering nonton National Geographic, Discovery, Animal Planet. Dijamin sekali nonton tayangan-tayangan tersebut gak bakal buntu ide,” ungkapnya.

Karena Sains dan Kesehatan merupakan topik yang tidak bias, sumber referensinya pun mudah didapat. Jika sudah menemukan fokus mau menulis tentang apa, segera cari referensi tambahan dengan menggunakan kata kunci bahasa Inggris di Google. “Jika sudah terbiasa gak akan sulit, kok!” Tegasnya.

Selain itu, jangan takut untuk out of the box. Artinya, carilah topik tulisan yang jarang terlintas dalam pikiran orang, tapi itu merupakan informasi yang penting dan menarik. Salah satu artikel Angga berjudul “5 Buah Enak Ini Ternyata Dapat Membawa Dampak Buruk, Apa Saja?” contohnya. Siapa sangka, topik sederhana seperti ini pun meraih views lebih dari 50 ribu, lho!

5. Menurutnya, menulis itu adalah aktivitas yang penting dilakukan oleh anak muda, lho!

Dahli Anggara: Menulis adalah Tips Jitu Antipikun di Masa Tua Dok. Pribadi/Dahli Anggara

“Secara ilmiah, orang yg berusia di atas 60 tahun, rentan dengan pikun dan alzeimer,” kata Angga ketika kami tanya soal pentingnya menulis. Nah, atas dasar hasil penelitian ini, Angga menegaskan bahwa anak muda harus menggunakan otaknya dengan baik. Aktivitas yang mudah dan cukup jitu untuk mencegah kita dari kepikunan adalah menulis dan membaca.

Memang, agar tidak mengalami Alzheimer, otak perlu dilatih dengan keras. Makanya, selagi muda kita harus rajin membaca. Akan lebih bagus lagi jika konsisten menulis juga. Menurut Angga, hal inilah yang membuat orang-orang usia lanjut di negara maju masih sehat dan produktif.

Tentunya kamu juga pengin jadi pribadi yang produktif, dong sampai tua? Yuk, semakin rajin menulis dan jangan malas membaca!

Baca Juga: Muna Waroh, ARMY Peraih Best Top 5 Writers Community 2019

IDN Times Community Photo Verified Writer IDN Times Community

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati
  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya