Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke Lingkungan

Ketahui perkembangannya juga di Indonesia!

Beralih ke green jobs menjadi langkah penting bagi pekerja untuk turut menanggulangi krisis iklim. Proyeksi Bappenas dan UNDP menunjukkan peluang hingga 4,4 juta pekerjaan yang membutuhkan green skills pada 2030, menandakan meningkatnya kebutuhan akan green jobs di berbagai sektor.

Coaction Indonesia atau Koaksi Indonesia menyerukan ajakan ini pada peringatan Hari Bumi, Senin 22 April 2024. Manajer Riset dan Pengelolaan Pengetahuan Koaksi Indonesia Ridwan Arif mengatakan, masyarakat punya peran besar terkait dengan persoalan iklim dan lingkungan karena setiap orang memiliki ekosistemnya sendiri yang harus dirawat.

Hendi Rahmat selaku Founder dan CEO Westbike Messenger Service, menyatakan bahwa kunci untuk memulai karier green jobs adalah dengan mengenali masalah lingkungan dan mencari solusi inovatif. Dengan motivasi dan dukungan yang tepat, bisnis green jobs dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat. Yuk, cari tahu tentang green jobs dan peluangnya di masa depan!

1. Green jobs bukan hanya untuk lulusan sekolah teknik

Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke LingkunganBike Messenger Westbike dengan sepeda kargo untuk mengangkut barang lebih banyak (Doc. Koaksi Indonesia)

Untuk menggeluti green jobs tidak terpaku pada salah satu jurusan saja. Hal ini dibuktikan oleh Anindita Sekar Jati, seorang mantan manajer komunikasi New Energy Nexus yang berbasis di Jakarta.

Anindita tidak menyangka peminatannya terhadap dunia komunikasi dan broadcasting justru menggiringnya menggeluti green jobs. Sebelum di Nexus, organisasi yang berfokus pada entrepreneurship, Anindita pernah magang di rumah produksi dokumenter kemudian pindah bekerja ke Yayasan WWF.

“Saya itu bekerja di sektor sustainability agak nyasar. Semula peminatannya broadcasting sesuai dengan jurusan kuliah di Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia. Saya magang di rumah produksi dokumenter hingga kemudian dikenalkan dengan rekan yang bekerja di WWF. Saya sadar, ini bukan organisasi kecil. Sistem kerjanya kompleks yang juga melibatkan rekan pemerintah dan entitas usaha swasta,” jelasnya dalam podcast Subjective yang merupakan program kerja sama dengan Koaksi Indonesia.

Bekerja di New Energy Nexus, dia mempelajari ragam isu seputar perubahan iklim, transisi energi, dan liku pengembangan energi terbaru. Sesuai dengan tempat kerjanya yang berfokus pada wirausaha di sektor energi terbarukan, wawasannya akan energi terbarukan makin luas dan bertumbuh.

Menurutnya, usaha rintisan berbasis digital yang fokus pada energi terbarukan masih sangat jarang. Beberapa yang sudah hadir, di antaranya; Sylendra Power, Forbetric, Warung Energi, Pendulum, dan Bionersia.

2. Green jobs dengan IoT eFishery

Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke LingkunganeFishery turut mendukung produktivitas pembudidaya tambak ikan dan udang dengan aplikasinya (Doc. Koaksi Indonesia)

Untuk mengembangkan peluang green jobs, diperlukan praktik ramah lingkungan yang mendukung, seperti IoT eFishery yang bergerak dalam industri perikanan dan akuakultur. Ivan Nashara Haryanaprawira, Product Manager Ruang Guru, menceritakan pengalamannya menjadi pekerja hijau saat terlibat dalam pemasaran produk mesin pemberi pakan otomatis berbasis internet (IoT automatic feeder) ikan dan udang tambak milik eFishery.

Ivan menjelaskan, urgensi modernisasi sistem budi daya produk perikanan di Indonesia. Salah satunya yang dilakukan eFishery dengan memperkenalkan mesin pintar pemberi makan ikan dan udang tambak di Indonesia. Menurutnya, modernisasi ini penting karena banyak pelaku usaha tambak yang tertatih-tatih hingga merugi.

Bukan hanya soal hilirisasi produk perikanan, tetapi persoalan di hulu, yakni ongkos produksi mulai dari tenaga kerja hingga urusan pakan. Pakan dalam usaha akuakultur menyedot 80 persen biaya operasional. Selain itu, semakin banyak pemberian pakan semakin banyak emisi yang terlepas ke udara.

“Dengan IoT automatic feeder, petambak bisa mengatur pola pemberian pakan. Bisa 10 detik atau satu menit sekali. Kontrol dan penyusunan jadwal pemberian pakan bisa dilakukan lewat telepon pintar. Pemberian makan secara teratur dan terkendali akan membuat ikan sehat dan gemuk. Ada beberapa efek lain yang juga bagus. Ketika pemberian makan bisa teratur dan terkendali, pakan tidak larut dalam air. Kualitas air dan ikan bagus,” jelasnya.

Menurut Ivan, peluang green jobs di sektor ini terbuka luas. “Kita masih penasaran kenapa Indonesia tidak unggul. Target tambak udang di Indonesia pun jutaan ton. Belum lagi ada program dua ribu tambak atau tambak milenial. Potensi bisnis ini menjadi luas dengan ukuran perekonomian yang juga besar. Ratusan ribu orang dan lahan kerja. Kalau bisa efisien bisa buat Indonesia bersaing,” tutup Ivan.

3. Semua bisa beralih ke green jobs

Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke LingkunganNew Energy Nexus Indonesia Hackathon salah satu program yang berfokus pada tema energi bersih (Doc. Koaksi Indonesia)

Green jobs tidak hanya berkutat pada sektor manufaktur, konstruksi, dan energi hijau, seperti energi terbarukan dan transisi energi, tapi juga bisa dilakukan oleh pekerja di semua sektor. Contohnya, pekerja di perkantoran hijau (green office), usaha konstruksi hijau (green construction), serta gedung ramah lingkungan atau green building.

Pekerjaan layak indikatornya banyak, tidak eksploitatif secara fiskal dan tidak diskriminatif secara sosial. Kedua, pekerjaannya berkontribusi memulihkan lingkungan,” jelas Azis Kurniawan, Manajer Kebijakan dan Advokasi Koaksi Indonesia.

Azis juga menjelaskan, beberapa kriteria green jobs menurut ILO, di antaranya mampu meningkatkan efisiensi energi dan menghemat bahan baku, membatasi gas rumah kaca, meminimalisasi limbah dan polusi, mengembalikan ekosistem atau memulihkan ekosistem. Terakhir, green jobs harus bisa mendukung upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

Itulah mengapa, menurut dia sudah waktunya anak-anak muda mulai atau menekuni green jobs. Dengan luasnya lingkup green jobs, masyarakat kini bisa beralih menekuni pekerjaan ramah lingkungan.

“Selama kita di kantor menggunakan energi dengan efisien, termasuk menggunakan kertas bolak-balik, itu masuk kategori green jobs. Mematikan alat pendingin udara dan lampu penerangan juga termasuk. Banyak orang tidak merasa bekerja di green jobs, padahal kalau mereka tahu mereka sudah melakukannya setiap hari,” tutur Azis.

Baca Juga: 5 Alasan Pilih dengan Bijak Saat akan Melamar Pekerjaan

4. Perkembangan green jobs di Indonesia

Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke Lingkunganilustrasi rapat (pexels.com/pixabay)

Ke depannya, green jobs akan semakin booming di Indonesia. Menurut Koaksi Indonesia, ada berbagai penyebabnya. Misal, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim yang mengakibatkan bertumbuhnya usaha kecil, yang berkontribusi pada lingkungan, seperti usaha pemanfaatan limbah menjadi produk lain, misalnya tas, kemasan makanan, hingga kertas daur ulang.

Saat ini juga semakin banyak perusahaan yang membentuk divisi keberlanjutan (sustainability). Dengan adanya divisi sustainability, suatu perusahaan harus patuh terhadap berbagai regulasi terkait keberlanjutan, misalnya proses produksi ataupun bahan baku.

Sementara, kajian dari World Economy Forum: Future of Jobs pada tahun 2016 mengungkap, bahwa sektor energi dan berbagai industri di seluruh dunia mulai beralih ke green economy. Peralihan ini disebabkan isu tentang perubahan iklim dan kekhawatiran dunia akan ketersediaan sumber daya alam.

5. Terciptanya jenis pekerjaan baru

Mengenal Green Jobs, Pekerjaan yang Beri Dampak Baik ke LingkunganFoto bersama delegasi komunitas anak muda dan teman serta para narasumber Green Jobs (Doc. Koaksi Indonesia)

Koaksi Indonesia juga sudah menghitung kebutuhan tenaga kerja langsung di energi terbarukan berdasarkan kapasitas terpasang dalam target RUEN (Rencana Umum Energi Nasional). Hasilnya, pada 2030 akan dibutuhkan lebih dari 430.000 tenaga kerja langsung, yaitu tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses pembangunan pembangkit untuk menghasilkan energi listrik dengan energi terbarukan.

Di antaranya; tenaga kerja untuk feasibility study, mendesain pembangkit, teknisi, petugas operation & maintenance, dan pekerja yang membangun. Dari pembangunan itu, tumbuh pekerjaan yang tidak langsung maupun yang terinduksi, seperti sales engineer, analis, legal, dan konsultan.

Sementara pada 2050, diperkirakan ada lebih dari 1 juta green jobs yang tercipta dari sektor energi, baik itu pekerjaan langsung, pekerjaan tidak langsung, maupun pekerjaan yang terpicu sektor usaha energi. Bappenas juga sudah memetakan Okupasi Nasional Green Jobs. Di mana, hingga Agustus 2022 pemetaan okupasi ini telah mengidentifikasi 191 jenis green jobs.

Hari Bumi memberikan panggilan yang kuat untuk mengubah kebiasaan dan memperhatikan dampak kita terhadap lingkungan. Green jobs inilah yang menjadi solusi inovatif, tidak hanya memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang untuk membangun karier yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi bumi. Mari bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan melalui green jobs!

Baca Juga: 6 Hal Perlu Dipahami dari Perkembangan Karier di Era Digital

Shasya Khairana Photo Verified Writer Shasya Khairana

S

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topik:

  • Muhammad Tarmizi Murdianto

Berita Terkini Lainnya