Comscore Tracker

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!

#IDNTimesLife supaya anak nyaman saat belajar

Banyak kasus kekerasan yang menimpa anak dan merenggut haknya. Kerap kali, tindak kekerasan terhadap anak bukan dilakukan oleh orang asing, melainkan pelakunya adalah orang yang memiliki kedekatan secara fisik dan emosional. 

Tak sampai di situ, tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat terjadi di mana saja. Paling banyak terjadi di ruang domestik seperti di rumah dan di ruang privat, seperti di sekolah. Oleh karenanya, penting memahami bagaimana menciptakan ruang aman bagi anak untuk terhindar dari kekerasan. 

The Body Shop Indonesia menyelenggarakan 'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021). Bersama Hari Sadewo (Child’s Rights Advisor Plan Indonesia) dan Sigit Wacono (Safeguarding Advisor Plan indonesia), dijelaskan bagaimana ciptakan ruang aman anti kekerasan anak di sekolah.

1. Anak harus tahu dan paham apa itu kekerasan

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021) (IDNTimes/Dina Fadillah Salma)

Kekerasan merupakan tindakan buruk yang dapat menimpa siapa saja, termasuk anak-anak. Oleh karenanya, anak perlu memahami seperti apa bentuk kekerasan agar dia bisa menghindar atau menolak perlakuan itu.

Hari menjelaskan mengenai apa itu kekerasan atau abuse, "Segala bentuk perlakuan buruk secara fisik, emosional, kekerasan seksual, penelantaran, atau perlakuan lalai, atau eksploitasi komersil." Anak harus mengerti mengenai ini sebagai bentuk pencegahan. 

Sebab, menurut Hari, bentuk eksploitasi itu dapat dikatakan abuse kalau pelakunya punya pola hubungan tanggung jawab atau memiliki hubungan kekuasaan atau kepercayaan. Artinya, yang melakukan tindakan itu adalah orang yang memiliki kedekatan secara fisik dan emosional dengan anak. 

2. Lakukan No! Go! Tell! apabila hal ini menimpa anak

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021) (IDNTimes/Dina Fadillah Salma)

Memberikan pemahaman terhadap anak mengenai kasus kekerasan merupakan bentuk pencegahan, sementara bentuk pengendaliannya adalah No! Go! Tell!. Ketiga hal tersebut dapat diterapkan di sekolah agar menciptakan ruang aman untuk anak. 

Ajarkan kepada anak bahwa tindakan abuse seringkali berbentuk ancaman, pemaksaan, janji-janji, atau iming-iming materi. Guru bisa menyosialisasikan kepada anak bahwa tindakan tersebut salah. Anak tidak pantas menerima perlakuan buruk dan harus berani untuk katakan "No!".

"Go!" atau pergi adalah anak diajarkan untuk menghindar dari orang yang ia curigai akan melakukan praktik abuse. Menjauh dan mencari tempat yang dia rasa aman. 

Terakhir, "Tell!" atau melaporkan dengan memberitahu kepada orang yang dipercaya apabila mengalami atau menyaksikan teman mendapat perlakuan abuse.  Laporkan kepada guru yang akan menjamin kerahasiaannya. 

Baca Juga: Cegah Kekerasan Seksual, The Body Shop Indonesia Buka Kelas Edukasi

3. Menciptakan sekolah sebagai tempat yang aman bagi anak

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021) (IDNTimes/Dina Fadillah Salma)

Jika anak mengalami perundungan atau kekerasan, sekolah akan menjadi tempat yang dihindari anak. Ia merasa takut, trauma, khawatir dikucilkan, bahkan takut dikeluarkan dari sekolah.

Sekolah harus jadi tempat yang menyenangkan untuk anak. Hal ini dibangun dari lingkungan yang nyaman, guru yang menjalin hubungan dengan penuh kasih sayang, serta teman yang akrab. 

Bagaimana menciptakan sekolah yang nyaman? "Edukasi bisa terkait dengan perlindungan anak. Implementasi standar perlindungan, misalnya, kayak tadi gak boleh mem-bully, gak boleh merundung, melecehkan, atau body shaming. Budaya perlindungan ini harus menjadi rutinitas, habit di sekolah," kata Sigit.

4. Membangun perlindungan di lingkungan sekolah

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021) (IDNTimes/Dina Fadillah Salma)

Perlindungan dari kekerasan anak, harus diciptakan di berbagai tempat, termasuk di sekolah. Adalah tanggung jawab semua pihak untuk melakukan pencegahan terhadap kekerasan, merespons dengan baik apabila ada orang yang mengalami kekerasan, dan memberi rujukan sebagai bentuk penanganan. 

"Pencegahan itu (terdiri dari_red) kebijakan dan penegakan, jadi akan bagus kalau sekolah itu punya kode etik di setiap sekolah. Jadi, misalnya, siswa tidak boleh melakukan kekerasan antar siswa, siswa tidak boleh melakukan tindakan yang secara moral gak benar kepada gurunya. Guru gak boleh melakukan tindakan yang mengarah pada kekerasan pada siswa. Guru sebagai role model," tambah Sigit. 

5. Lakukan langkah ini untuk mencegah kekerasan pada anak di sekolah

5 Tips Ciptakan Ruang Aman Anti Kekerasan Anak di Sekolah, Penting!'Workshop untuk Guru: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender & No! Go! Tell! di Sekolah' yang dilaksanakan pada Jumat (23/7/2021) (IDNTimes/Dina Fadillah Salma)

Lebih rinci, Sigit menjelaskan ada tiga hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap kekerasan anak, yakni pencegahan. Hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk pecegahan, yakni:

  1. Lakukan pencegahan dengan menegakkan kebijakan 
  2. Menjadikan guru sebagai role model atau contoh yang baik 
  3. Melakukan edukasi mengenai kekerasan 
  4. Mengimplementasikan standar perlindungan terhadap anak
  5. Membangun budaya perlindungan  

Tak hanya pencegahan, Sigit juga mengarahkan agar guru dapat merespons atau tanggap terhadap tanda-tanda kekerasan. Apabila ada gejala atau dugaan kekerasan, kita harus segera merespons, jangan menunggu anak melaporkan. 

Apabila benar terjadi tindak kekerasan terhadap anak, lakukan rujukan. Misalnya, anaknya butuh dirujuk ke psikolog, anaknya mungkin perlu dirujuk ke puskesmas karena mengalami cedera, atau dirujuk ke bantuan hukum. 

Itu tadi 5 hal yang bisa dilakukan untuk membangun ruang aman anti kekerasan terhadap anak di sekolah. Dengan menerapkan hal-hal di atas, diharapkan anak dapat terhindar dari kekerasan yang melukai secara fisik dan psikisnya. 

Baca Juga: 5 Dampak Bahaya Jika Bertahan dalam Hubungan Penuh Kekerasan

Topic:

  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya