Comscore Tracker

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?

"Belajar sastra, mau jadi apa?"

Dalam dunia perkuliahan, sebenarnya Sastra bukanlah jurusan atau program studi baru. Jurusan Sastra termasuk dalam rumpun ilmu humaniora. Berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyediakan Program Studi Sastra dari beberapa negara, yang dianggap penting untuk keperluan diplomasi antara Indonesia dengan negara-negara tersebut.

Meskipun eksistensi Jurusan Sastra telah meluluskan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi pada dunia kerja nyata, tetapi masyarakat masih memberikan persepsi negatif pada orang-orang yang menuntut ilmu di Jurusan Sastra. Artikel ini menguraikan enam persepsi dari masyarakat awam terhadap Jurusan Sastra yang nyatanya tidak benar.

1. Mahasiswa sastra hanya belajar bahasa

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Unsplash/Connor Luddy

Tidak jarang, orang-orang menganggap bahwa mahasiswa yang berkuliah di Jurusan Sastra hanya belajar bahasa. Anggapan tersebut jelas sangat keliru.

Jurusan Sastra tidak hanya mengajari bahasa, contohnya Jurusan Sastra Prancis. Apakah ketika seseorang berkuliah di jurusan Sastra Prancis hanya akan belajar bahasa Prancis selama kurang lebih delapan semester? Tentu saja tidak.

Jurusan tersebut tentunya mempersiapkan mahasiswanya menjadi sosok yang memahami seluruh aspek dari Prancis, seperti sejarah Prancis, pengetahuan geografi Prancis, budaya masyarakat, dinamika pemikiran Prancis, dan hal yang paling penting adalah perkembangan diplomasi antara Prancis dengan Indonesia.

Bahasa Prancis merupakan suatu keahlian atau instrumen wajib yang dimiliki oleh mahasiswa Prancis untuk memahami segala aspek Prancis, terutama literatur. Begitu juga dengan Jurusan Sastra lainnya, seperti Sastra Jepang, Korea, Belanda, bahkan Indonesia.

Oleh karena itu, persepsi masyarakat awam yang menganggap bahwa mahasiswa sastra hanya mampu memahami bahasa dari suatu negara merupakan kekeliruan berpikir yang harus dihindari.

2. Mahasiswa sastra punya julukan Kamus Berjalan

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Pexels/pixabay

Banyak orang yang mengira bahwa mahasiswa sastra pasti mahir berbahasa asing, seperti mahasiswa Jurusan Sastra Jerman yang dinilai mahir menggunakan bahasa Jerman.

Anggapan tersebut mengakibatkan mahasiswa sastra disebut Kamus Berjalan. Sering kali, orang-orang melontarkan kalimat, "Tolong artikan kalimat ini, dong. Kamu, 'kan, Jurusan Sastra Inggris, pasti tahu semua arti kosakata bahasa Inggris." 

Julukan Kamus Berjalan yang diberikan masyarakat kepada mahasiswa sastra cukup memberatkan eksistensi mahasiswa sastra. Julukan tersebut terkesan memaksa anak sastra untuk mahir menggunakan bahasa yang telah dipelajari selama kuliah. Padahal, mempelajari suatu bahasa bukanlah hal yang mudah.

Salah satu contohnya, seseorang yang belajar bahasa Rusia selama bertahun-tahun apakah kemampuan orang tersebut otomatis setara dengan native speaker Rusia? Belum tentu. Hal ini karena gramatika Rusia dan Indonesia memiliki konsep yang sangat berbeda.

Kedua negara ini memiliki kultur yang jauh berbeda sehingga pemahaman penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi belum tentu sama persis.

Begitu juga dengan orang-orang yang mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Prancis yang memiliki perbedaan antara penulisan dan pelafalan atau bahasa Mandarin yang tidak mengenal alfabet latin. 

Proses penerjemahan suatu bahasa ke bahasa lain tidaklah instan. Perlu adanya beberapa tahapan dalam menerjemahkan suatu teks. Proses pertama diawali dengan penerjemahan kata per kata secara harfiah.

Kemudian, dapat dilakukan penerjemahan makna secara keseluruhan sehingga hasil terjemahan mudah dipahami. Jadi, anggapan bahwa mahasiswa jurusan sastra adalah Kamus Berjalan hanyalah persepsi yang keliru.

3. Mahasiswa sastra harus mahir membuat puisi

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Pexels/Pixabay

Kita telah mengetahui bahwa mahasiswa sastra mempelajari berbagai aspek yang berhubungan dengan literatur dan kebudayaan dari suatu negara. Maka, persepsi yang mengatakan bahwa anak sastra harus mahir membuat puisi tidaklah benar.

Mahasiswa sastra memang mempelajari perkembangan puisi, cara menganalisis puisi, dan membuat puisi. Namun, apakah semua mahasiswa yang mengikuti Kelas Puisi pasti ahli dalam menciptakan puisi? Tentu saja tidak.

Sejatinya mahasiswa sastra tidak berbeda dengan mahasiswa jurusan lain. Tentunya, setiap mahasiswa sastra juga memiliki peminatan yang berbeda, seperti contoh mahasiswa A minat terhadap kajian puisi; mahasiswa B minat pada sejarah suatu negara yang dipelajari; dan mahasiswa C minat terhadap kebudayaan suatu negara.

Lalu, mengapa semua mahasiswa sastra dipersepsikan mahir membuat puisi? Tentu saja kekeliruan ini harus dihindari.

Baca Juga: 5 Alasan Penting agar Mahasiswa Sadar bahwa Karya Sastra Itu Penting

4. Perkuliahan mahasiswa sastra santai

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Pexels/Kobe Michael

Apakah bijaksana menganggap bahwa dunia perkuliahan Jurusan Sastra lebih ringan daripada jurusan lain? Padahal, kita tidak pernah menjalani kehidupan anak sastra. Ketahuilah bahwa mahasiswa sastra memiliki perjuangan tersendiri yang cukup berat.

Setiap harinya, mereka harus mempelajari kosakata baru; memahami konsep gramatika yang asing dan sulit; dan harus mampu berbicara dengan pengucapan yang benar.

Proses tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, bahkan tiga sampai emapt tahun tidak dapat dikatakan sebagai waktu yang cukup untuk seseorang mahir menggunakan bahasa asing.

Belum lagi, mereka harus mengkaji berbagai karya sastra; memahami aspek sosiologi sastra; dan meneliti kebudayaan suatu negara untuk mengerti literaturnya yang cenderung tersirat. 

5. Relevansi mempelajari sastra kurang praktis bagi masyarakat

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Pexels/Kaique Rocha

Jika banyak orang yang mengatakan bahwa sastra kurang bermanfaat bagi masyarakat, hal tersebut merupakan persepsi yang tidak benar. Bukti nyata pentingnya sastra bagi kehidupan manusia dapat kita lihat dari negara Rusia.

Bangsa Rusia dianggap sebagai bangsa yang beradab di Eropa sejak mereka mengenal sastra. Pada waktu itu (tahun 988), sastra di Rusia berupa liturgi bahasa gereja. Tidak hanya Rusia, tetapi banyak negara yang dianggap lebih beradab sejak mereka mengenal dunia literatur.

Seiring perkembangan zaman, sastra berperan sebagai media kritik sosial. Banyak puisi yang secara tersirat mengkritik pemerintah. Banyak novel yang menegaskan kritik sosial pada suatu masyarakat. Oleh karena itu, sastra merupakan bidang ilmu yang relevan sepanjang masa. 

6. Sulitnya prospek pekerjaan lulusan jurusan Sastra

6 Persepsi Keliru terhadap Mahasiswa Sastra, Benarkah pada Menganggur?Pexels/Emily Ranquist

"Anak sastra nanti setelah lulus hanya jadi penerjemah ya?"

Sepertinya, lontaran kalimat konyol tersebut perlu dihilangkan. Pasalnya, prospek pekerjaan lulusan Sarjana Sastra atau Sarjana Humaniora sangat luas. Banyak lulusan Jurusan Sastra yang bekerja di instansi pemerintahan, swasta, bahkan bekerja di luar negeri.

Tidak jarang, kita dapat menemukan lulusan Jurusan Sastra yang menjadi duta besar, diplomat negara, konsultan, penerjemah, dosen, guru, penulis, pengusaha, management trainee, dan lain sebagainya.

Itulah anggapan-anggapan keliru tentang mahasiswa sastra. Terbukti, setiap bidang ilmu pasti ada manfaatnya untuk dipelajari. Jadi, jangan sampai kamu remehkan, ya.

Baca Juga: Peduli Karya Sastra, PDS HB Jassin Kini Dikelola Pemprov DKI Jakarta

Doni Oktagrasya Photo Community Writer Doni Oktagrasya

Student at Universitas Indonesia

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Just For You