Comscore Tracker

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswa

#IDNTimesLife Soroti kemajuan literasi digital saat pandemik

"Pandemik menyadarkan kita bahwa teknologi bisa membantu untuk mendapatkan akses belajar yang lebih baik," ujar Margaretha Ari Widowati dalam wawancara khusus yang dilakukan pada Jum'at (27/11/2012) pukul 10.00 WIB.

Pada acara bincang seru bersama IDN Times, Ari membagikan opini pribadinya terkait perkembangan dunia pendidikan tanah air. Terutama dengan segala perubahan yang ada di tengah pandemik. Ingin tahu lebih lengkapnya? Simak artikel berikut!

1. Meski sempat mengalami masa adaptasi di awal pandemik. Menurutnya, teknologi bisa membuat akses pendidikan jadi lebih luas lagi

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswatanotofoundation.org

Margaretha Ari Widowati atau yang lebih akrab disapa Ari menjabat menjadi Basic Education Director di Tanoto Foundation. Dalam pengamatannya, Ari menyadari bahwa kemajuan teknologi banyak membantu proses pendidikan kita saat ini.

"For the good things ya, pandemik menyadarkan kepada kita bahwa teknologi bisa membantu untuk mendapatkan akses belajar yang lebih baik," tuturnya.

Ia memberi contoh tentang banyaknya kelas online gratis yang digelar pada zoom meeting atau pun kanal YouTube. Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dihadapi justru adalah perihal keterbatasan waktu dan bagaimana membuat proses belajar jadi lebih menarik.

"Sekarang ini malah kita kehabisan waktu untuk belajar. Karena begitu banyak seminar, begitu banyak orang berbagi pengetahuan, semua itu karena adanya teknologi digital," pungkasnya.

Perkembangan teknologi ini menurutnya juga akan membantu proses belajar anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah. Karena selain mendapat materi dari gurunya, mereka juga bisa mengakses bahan pelajaran di internet. Misalnya, live streaming class yang digelar oleh Tanoto.

2. Sekilas tentang program PINTAR dari Tanoto Foundation

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswatanotofoundation.org

Pada tahun 2010, Tanoto menyelenggarakan sebuah program bernama "Pelita Pendidikan". Setelah 7 tahun lamanya berjalan, program ini telah bekerjasama dengan 150 sekolah yang ada di Riau, Jambi, dan Sumatera Utara.

Kemudian, pada 2018 lahirlah program PINTAR yang bertujuan untuk memperkuat kualitas program pendidikan tersebut. Terdapat beberapa perbedaan antara kedua program tersebut. Di antaranya adalah tipe sekolah yang disasar, perjanjian kerjasama dengan pemerintah yang melibatkan MOU, sampai fokus acara pelatihan yang juga melibatkan calon guru.

Dalam program PINTAR terdapat metode unik yang disebut sebagai "MIKiR (Experiencing, Interacting, Communicating and Reflecting)". Ari menjelaskannya sebagai berikut, "Metode ini tetap dilakukan walau anak-anak di rumah. Misalnya nih, ada tugas penelitian. Mungkin dulu penelitiannya di lab sekolah, tapi mereka juga bisa lakukan di lingkungan rumahnya sendiri".

Sampai saat ini terhitung sudah ada 20 kabupaten yang bekerja sama dengan Tanoto Foundation. Dan, di setiap kabupaten tersebut telah ada 24 sekolah yang dijadikan sebagai model.

"Nantinya, pemerintah yang akan menyebarkan metode pelatihannya. Walau cuma ada sekitar 448 sekolah model, tapi sekarang sudah ada 1.623 sekolah yang menerapkan program ini," tuturnya.

Selain itu, untuk bisa beradaptasi lebih cepat dengan kondisi pandemik Covid-19, Tanoto Foundation juga mengadakan pelatihan teknis dan non-teknis  kepada guru.

"Kita bantu guru-guru belajar editing video dan menulis dengan bagus. Lalu, pada 24-25 November lalu kita adakan acara sharing dengan beberapa tokoh," ucap Ari sambil tersenyum.

3. Hasil riset Tanoto Foundation menemukan data, 97,9 persen guru sudah memanfaatkan teknologi dalam pelaksanaan proses belajar dari rumah

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswaseasummit.avpn.asia

Kelancaran proses BDR (Belajar Dari Rumah), menurutnya telah banyak dibantu dengan kemudahan teknologi. Untuk memperluas cakupan data, Tanoto Foundation pun melakukan survei pada 293 SD dan MI serta 161 SMP dan MTS yang ada di 5 provinsi di Indonesia.

Survei yang digelar pada 14-40 Mei 2020 tersebut pun mengungkapkan bahwa mayoritas guru sudah memanfaatkan teknologi dalam proses BDR. Yaitu dalam total 97,9%.

"Pada awal pandemik kita survei tentang bagiamana penerapan pembelajaran jarak jauh di sekolah. Kita temukan ada sebagian anak yang merasa senang. Karena dia punya waktu dengan orang tuanya," ujar Ari.

Di satu sisi, penelitian juga menemukan bahwa 51,4 persen merasa proses BDR kurang menyenangkan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya adalah terlalu banyaknya tugas (43 persen), jenuh dengan kegiatan belajar yang diberikan (17,2 persen), dan gak bisa bertemu dengan teman (16,1 persen).

Lebih jauh lagi, Ari pun menjelaskan, "Lebih dari 80 persen guru masih memberikan tugas berupa soal bukan memberikan penugasan yang bersifat penelitian". Selain sistem belajar yang harus diperbarui, Ari juga berpandangan bahwa orang tua perlu memberikan dukungannya kepada anak demi proses belajar yang baik.

Baca Juga: Ini 5 ‘Ritual’ Pagi Anak Sebelum Mereka Sekolah Online di Rumah 

4. Ada banyak pengalaman menarik dari program PINTAR yang dirasakan oleh Ari. Salah satunya limpahan semangat dari para siswa dan guru

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswainstagram.com/margarethaariwidowat

Saat ditanya apa satu pengalaman terbaik yang pernah ia rasakan, Ari merasa keberatan menjawab. Menurutnya, ada terlalu banyak pengalaman berkesan yang terjadi selama bertahun-tahun ia terjun ke lapangan.

"Setiap kali saya ke sekolah, saya bawaannya mau nangis aja. Karena dengan segala keterbatasan yg mereka miliki, anak-anak tetap semangat. Mereka gembira menyambut gurunya," tuturnya.

Antusiasme yang serupa juga ia rasakan dari para guru, fasilitator daerah, sampai kepala sekolah. Hal tersebut membuatnya sadar tentang pentingnya merancang program yang gak akan memberatkan guru.

"Kita bikin modul untuk bantu guru memfasilitasi BDR. Gimana cara pakai Zoom yang benar terus gimana akses materi belajar secara online," ujar perempuan berkacamata ini.

Baginya, sistem pendidikan yang baik secara gak langsung juga bisa membantu kualitas bangsa. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendukung pekerjaan mulia para guru.

"Sepuluh tahun lagi, para siswa akan jadi orang tua dan pekerja. Pendidikan yang mereka dapat akan memengaruhi pengambilan keputusan yang mereka buat," pungkas Ari.

5. Arti pendidikan bagi Ari secara personal. Dan, pentingnya menggapai pendidikan tinggi bagi setiap orang

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar SiswaImplementasi Program PINTAR Tanoto Foundation di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Dok. IDN Times)

Isu tentang pendidikan selalu jadi hal yang menarik perhatian Ari. Sebab, ia dididik oleh seorang Ayah yang juga berprofesi menjadi guru.

"Ayah saya seorang guru. Jadi saya tahu betul gimana sih tantangan-tantangan yang dihadapi para guru," katanya.

Peran para guru yang pernah mendidiknya sejak sekolah dasar gak bisa dilupakannya. Karena bagi Ari, pendidikan merupakan kunci utama dari masa depan seseorang. Ia menuturkan,

"Walau saya berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tapi saya dapat pendidikan yang bagus. Karena orang tua saya mengusahakannya sebaik mungkin".

Ari pun menceritakan kembali kisah perjalanannya menempuh pendidikan. Dari mulai aktif berorganisasi, belajar berbisnis, hingga selalu mendapat peringkat tinggi. Perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pun ingin menerapkan nilai yang serupa pada keluarganya.

"Itu saya terapkan kepada anak-anak saya, kalau pendidikan itu paling penting. Cari sekolah yang bagus dan hormati guru karena guru adalah fasilitator kita," ujarnya.

Ia pun menyatakan, bahwa selain perlu mendorong anak untuk mendapatkan jalur pendidikan terbaik. Orangtua juga perlu menjalin hubungan yang baik dengan anak untuk kualitas pendidikan karakter mereka.

6. Meski sempat gagal mencapai impiannya menjadi dokter, Ari merasa kegagalan tersebut gak jadi akhir perjuangannya

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar Siswainstagram.com/margarethaariwidowat

"Saya orangnya ambisius! Dulu karena ada kegiatan ekstrakurikuler sampai sore, saya mulai cari uang sendiri. Mulai dari ngajar nari Bali sampai jadi tutor les matematika," ujarnya sambil terkekeh.

Kerja keras tersebut dilakukannya demi bisa mendapat tambahan uang makan dan ongkos perjalanan. Ari merasa enggan meminta tambahan uang jajan pada orang tuanya.

"Saya selalu surviving dari kecil dan saya harus bisa mandiri. Dan, saya masuk sekolah itu saya selalu dibebaskan uang pangkal karena nilainya bagus," katanya.

Setelah sempat gagal menempuh pendidikan dokter, Ari gak merasa menyesal akan kejadian tersebut. Ia pun mengungkapkan,

"Kalau saya benar-benar jadi dokter, mungkin saya gak bisa ketemu dengan guru-guru hebat seperti saat ini".

Berkaca dari pengalamannya di masa lalu, Ari merasa kerja keras dan perjuangannya pun telah membuahkan hasil.

"Ada sedikit rahasia, dulu itu saya jalan kaki ke sekolah untuk ngirit ongkos bis. Tapi, saat reuni aku bisa datang dengan mobil dan dianter oleh supir," katanya.

Sambil mengenang hal tersebut, ia mengaku sempat menangis dalam perjalanannya di mobil.

Ia bilang, "Buat saya itu adalah hasil dari nilai-nilai kerja keras dari dulu dan telah diperjuangkan oleh orangtua saya juga".

7. Margaretha Ari Widowati: "Begitu perempuan maju, maka dunia akan maju"

Margaretha Ari: Teknologi Bisa Perluas Akses Belajar SiswaIDN Times/Tyas Hanina

Seiring perkembangan zaman, kita bisa menyaksikan ada banyak perjuangan para tokoh perempuan yang dijadikan inspirasi oleh masyarakat sekitar. Menurut Ari, hal itu dapat terjadi berkat perjuangan seorang perempuan dan dukungan positif dari lingkaran terdekatnya.

"Saya selalu ingat kalau seseorang mau berubah itu harus dari dirinya sendiri dulu. Gak bisa kalau kita gak kuat dan gak punya strong willingness," tuturnya. Hal ini juga dia amati dari pertemuannya dengan para fasilitator daerah dan guru-guru yang kebanyakan perempuan.

Saat ditanya siapa sosok yang menginspirasinya, Ari dengan lantang menjawab,

"Bude saya itu sangat aktif orangnya. Dan, saya selalu ingin jadi perempuan yang bisa berkarier dengan bagus tapi juga punya hubungan yang baik dengan keluarga".

 

Dirinya pun mengaku juga mengidolakan Bunda Teresa. "Dia adalah contoh bahwa satu pekerjaan yang sederhana itu bisa berarti buat orang lain," ujar Ari menjelaskan alasannya.

Di penghujung wawancara khusus, Ari pun menitipkan beberapa pesan untuk para perempuan Indonesia yang tengah berjuang akan mimpinya.

"Pesanku adalah untuk jangan berhenti belajar dan menutup diri. Dan, satu lagi, be humble!" ujarnya.

Bertemu dengan banyak perempuan hebat yang menginspirasinya membuat Ari sadar betapa besar peran para perempuan di dunia.

"Perempuan adalah makhluk yang paling diberkati Tuhan. When the woman moves then the world will moves behind her," pungkas Ari sekaligus menutup jalannya wawancara.

Itu dia rangkuman wawancara khusus IDN Times bersama Margaretha Ari Widowati. Selain inspiratif, obrolan kali ini juga memberi banyak kita pencerahan tentang pendidikan ya!

Baca Juga: Alissa Wahid: Tugas Guru Adalah Memenuhi Janji Kemerdekaan Bangsa

Topic:

  • Tyas Hanina
  • Pinka Wima
  • Febriyanti Revitasari

Berita Terkini Lainnya