Comscore Tracker

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentak

Orangtua harus bisa kendalikan emosi

Pengalaman menjadi orangtua memang membuat emosi naik turun bak roller coaster. Kadang kita merasa bahagia dan bangga pada perilaku anak, namun kadang kita juga dibuat emosi dengan tingkah laku anak.

Merasa frustrasi dengan anak adalah hal yang wajar, terutama jika mereka berperilaku tidak baik. Tetapi cara kamu mengekspresikannya dan menghadapi situasi tersebut dapat berdampak besar pada perkembangan kepribadian dan kesehatan jangka panjang mereka.

Salah satu ekspresi yang kadang ditunjukkan orangtua saat mencoba mengendalikan anak adalah membentak. Sayangnya, tindakan ini dapat berdampak serius pada perkembangan anak-anak. Baca terus untuk mengetahui apa yang terjadi pada anak jika mereka sering dibentak.

1. Memengaruhi perkembangan otak anak

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentakpexels.com/Andrea Piacquadio

Membentak anak dapat mengubah cara otak anak berkembang. Ini karena manusia memproses informasi dan peristiwa negatif lebih cepat dan menyeluruh daripada yang baik.

Satu studi dalam jurnal NeuroImage dilakukan dengan membandingkan pemindaian MRI otak orang-orang yang memiliki riwayat kekerasan verbal oleh orangtua di masa kanak-kanak dan mereka yang tidak memiliki riwayat makian. Hasilnya, peneliti menemukan perbedaan fisik yang mencolok di bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses suara dan bahasa.

2. Anak tidak dapat menerima pesan yang disampaikan oleh orangtua

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentakpexels.com/August de Richelieu

Tak ada orang yang senang dimarahi, demikian juga anak-anak. Ketika anak-anak dibentak, mereka mungkin akan mengangguk dan sekilas tampak menurut. Tetapi yang sebenarnya adalah orangtua justru akan gagal memengaruhi anak, menurut laman Fatherly.

Anak-anak mungkin menangis, menunjukkan penyesalan, atau diam, tetapi sebenarnya anak sedang menutup diri alih-alih mendengarkan. Karenanya, membentak anak bukanlah cara komunikasi yang efektif. Membentak anak mungkin membuat mereka menghentikan apa yang mereka lakukan sesaat, tetapi tidak akan membuat pesan tersampaikan dengan baik atau memperbaiki perilaku anak di masa depan.

Baca Juga: 5 Nutrisi Ini Bantu Mencegah Kondisi Stunting pada Anak

3. Memperburuk perilaku anak

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentakpexels.com/Ksenia Chernaya

Saat dibentak, anak mungkin akan langsung menghentikan apa yang mereka lakukan. Tapi, jangan mengira bentakan dapat mencegah anak berperilaku buruk di masa mendatang.

Sebaliknya, penelitian justru menunjukkan bahwa membentak anak bisa menciptakan lebih banyak masalah dalam jangka panjang dan membuat perilaku anak menjadi semakin buruk. Dalam penelitian tersebut, anak usia 13 tahun yang dibentak oleh orangtuanya bereaksi dengan meningkatkan level perilaku buruk mereka pada tahun berikutnya. Studi ini telah dilaporkan dalam jurnal Child Development.

4. Berdampak buruk pada kesehatan fisik

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentakpixabay.com/RachelBostwick

Setiap pengalaman yang kita lalui turut membentuk kita dalam banyak hal, beberapa di antaranya bahkan mungkin tidak kita sadari. Stres di masa kanak-kanak dari orangtua yang melakukan kekerasan secara verbal dapat meningkatkan risiko anak untuk memiliki masalah kesehatan tertentu saat dewasa.

Psychological Bulletin melaporkan bahwa mengalami stres sebagai seorang anak dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan fisik.

5. Memicu depresi pada anak

Hati-hati, 5 Dampak Buruk yang Akan Terjadi jika Anak Sering Dibentakpexels.com/Pixabay

Selain merasa sakit hati, takut, atau sedih ketika dibentak oleh orangtua, kekerasan verbal juga memiliki kemampuan untuk menyebabkan masalah psikologis yang lebih dalam yang dibawa ke masa dewasa.

Dalam studi Child Development yang melacak peningkatan masalah perilaku pada anak usia 13 tahun yang dibentak, para peneliti juga menemukan adanya peningkatan gejala depresi. Penelitian dalam jurnal PLoS Medicine juga menunjukkan hubungan antara kekerasan emosional dan depresi atau kecemasan.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki gaya pengasuhan yang dirasa tidak efektif. Atau, jika kamu merasa mudah kehilangan kesabaran saat berhadapan dengan anak, mintalah bantuan profesional untuk mengendalikan sikapmu dan mendapatkan saran pengasuhan yang tepat.

Baca Juga: 6 Alasan Pentingnya Zat Besi untuk Tumbuh Kembang Anak

Eka ami Photo Verified Writer Eka ami

Lifelong learner

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Tania Stephanie

Berita Terkini Lainnya