Comscore Tracker

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The Penthouse

Kemauan anak tak harus selalu dituruti

Setelah tiga musim tayang, drama makjang The Penthouse akhirnya tamat. Drama ini sering membuat penonton kesal dengan drama perebutan harta, pembunuhan, serta dendam yang seakan tak berakhir. Walau begitu ada banyak pelajaran yang terkandung dalam drama ini.

Selain hal di atas, drama The Penthouse juga menunjukan sikap toxic parenting para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Apa saja sih, toxic parenting di The Penthouse? Yuk, intip informasi berikut ini!

1. Terlalu memaksakan kehendak pada anak 

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The PenthouseCheon Seo Jin The Penthouse (instagram.com/sbsdrama.official)

Bukan rahasia lagi kalau orang asia sangat berorientasi pada keluarga dan prestasi anak menjadi hal yang sangat penting. Karena banyak alasan, orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak. Hal ini terjadi kepada Ha Eun Byul yang dipaksa oleh Cheon Seo Jin.

Cheon Seo Jin memaksa Ha Eun Byul karena ambisinya untuk menjadi penyanyi seriosa yang terbaik di Korea. Sayangnya karena terlalu dipaksa, mental Ha Eun Byul terganggu dan membuatnya tidak stabil. Mungkin memaksa kehendak pada anak terlihat sepele, namun jika dibiarkan akan berakibat fatal pada pertumbuhan anak.

2. Anak selalu dibela walau melakukan kesalahan 

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The Penthousekeluarga Kang Ma Ri (instagram.com/sbsdrama.official)

Sebagai orang tua yang sangat menyayangi anaknya, Kang Ma Ri selalu membela Yoo Jenny walaupun Jenny melakukan kesalahan. Ia dibutakan oleh rasa cinta kepada sang anak, padahal tanpa ia sadari hal ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak. Anak tidak akan menyadari kesalahannya karena selalu dibela.

Menegur anak saat ia melakukan kesalahan juga bagian dari rasa cinta orangtua, lho. Anak harus diajarkan sejak dini bahwa selalu ada konsekuensi yang harus diterima setiap membuat kesalahan.

3. Kekuasaan orangtua dipakai untuk menutupi kesemena-menaan anak

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The PenthouseJo Dan Tae The Penthouse (instagram.com/sbsdrama.official)

Dengan semua uang dan kekuasaan yang dimilikinya, Jo Dan Tae menyalah gunakan kekuasaannya untuk menutupi kesemena-menaan perlakuan anaknya kepada orang lain. Ia menyuap pihak sekolah dengan banyaknya uang yang diberikan, agar anaknya yang ketauan mem-bully siswa lain tidak dikeluarkan dari sekolah.

Hal ini bukannya melindungi anak malah akan semakin merusak karakter anak. Ia akan semakin semena-mena karena berpikir akan selalu dilindungi oleh kekuasaan dan uang orangtuanya.

Baca Juga: The Penthouse Tamat, 5 Pelajaran Hidup Berharga dari Cheon Seo Jin

4. Mengadu domba anak dengan temannya   

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The PenthouseCheon Seo Jin dan Ha Eun Byul The Penthouse (instagram.com/sbsdrama.official)

Belajar dan berprestasi memang penting, namun hidup dengan benar dan tetap merasa sehat secara mental lebih penting daripada itu semua. Cheon Seo Jin mengadu domba anaknya agar termotivasi untuk mengalahkan Bae Rona. 

Hakekat orang tua adalah mencukupi kebutuhan, melindungi, mengayomi, dan membuat anaknya selalu merasa aman. Apa yang dilakukan Cheon Seo Jin hanya membuat Ha Eun Byul selalu merasa takut kalah dan menghalalkan segala cara untuk menang melawan Bae Ro Na, termasuk hampir membunuh.

5. Orangtua menormalisasi kejahatan anak

Jangan Ditiru, Ini 5 Toxic Parenting dalam Drama The PenthouseJo Dan Tae dan Jo Seo Kyung (instagram.com/ummaxim)

Usia remaja adalah dimana seseorang mengalami krisis karena berada di masa transisi menuju kedewasaan. Kenakalan remaja memang wajar, namun jika sudah merugikan dan menyakiti orang lain, orangtua perlu waspada dan tidak bisa menormalisasi hal tersebut.

Para orangtua di The Penthouse, karena rasa cinta yang besar pada anaknya malah menutupi dan menormalisasi kejahatan pembulian yang dilakukan anak-anak mereka. Padahal kenakalan anak-anak mereka sudah menyakiti dan melukai orang lain.

Jika terus dinormalisasi, anak-anak tidak akan pernah sadar kalau ia salah, malah ia akan tumbuh menjadi orang yang menormalisasi kejahatan juga. Hal kecil seperti mendisiplinkan anak saat ia melukai orang lain, sudah harus dilakukan sejak anak masih kecil.

Menjadi orangtua tidak pernah muda, karena di tangan orang tualah masa depan anak-anaknya. Oleh karena hal inilah kenapa orang ua tidak boleh berhenti belajar untuk menjadi lebih baik. 

Baca Juga: 5 Perubahan Diri Orangtua Ketika Menua, Hadapi dengan Sabar Ya! 

Oriza Kim Photo Verified Writer Oriza Kim

Nothing, just me tryin to be on top.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya