Comscore Tracker

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak 

#IDNTimesLife Bisa menghancurkan hubungan orangtua dan anak 

Sudah seharusnya orangtua memercayai anak sendiri. Sebab meski anak punya kegiatan di luar rumah, tetap saja waktu terbanyaknya ada di rumah. Bahkan jika anak dan orangtua jarang bertemu, komunikasi yang baik seharusnya bisa menjaga kepercayaan orangtua pada anak.

Sayangnya, ada orangtua yang seperti gak bisa memercayai anak sendiri sekalipun tinggal serumah. Ia selalu penuh kecurigaan dan membuat anak tertekan. Ini gak bisa dianggap wajar dan disepelekan. Orangtua harus berhenti mencurigai anak karena 5 sebab berikut ini.

1. Selalu diragukan oleh orangtua sendiri sangatlah menyakitkan

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/lizzyzhou_13

Gak ada yang lebih menyakitkan dari tidak dipercayai oleh orang terdekat. Apalagi oleh orangtua sendiri. Jika hubungan antara orangtua dan anak sehat, seharusnya memercayai anak sama sekali gak sulit.

Itu akan terjadi secara otomatis. Sebagaimana orangtua percaya pada diri sendiri. Maka bila orangtua kerap curiga pada anak, orangtua harus introspeksi. Apa yang salah dari hubungan mereka selama ini?

Apakah sebenarnya orangtua gak mengenal anak dengan baik? Apakah orangtua bahkan perlu berkonsultasi dengan psikolog terkait rasa curiganya yang berlebihan pada orang lain?

2. Kecurigaan orangtua akan terus bertambah dari waktu ke waktu

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/shawnsfields

Ini yang sering gak disadari orangtua yang selalu mencurigai anak. Bahwa satu kecurigaan akan diikuti oleh kecurigaan berikutnya. Terus seperti itu sampai orangtua selalu dipenuhi pikiran buruk tentang anak sendiri.

Di lain pihak, tentu saja anak merasa sangat tertekan selalu dijadikan target kecurigaan orangtua. Padahal makin gak ada bukti dan saksi yang kuat, akan makin besar kecurigaan orangtua. Kenapa bisa begitu?

Sebab orangtua berusaha terlalu keras menghubung-hubungkan yang sebenarnya gak berhubungan. Pikiran orangtua sendiri yang mencari-cari pembenaran atas kecurigaannya. Ini menutup pikiran dari kemungkinan sebaliknya, yaitu anak sama sekali gak layak dicurigai.

3. Kalau memang gak ada bukti, kenapa harus berkeras anak berbohong? 

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/brookecagle

Saat kita mulai mencurigai orang, sangat penting untuk menanyakan adakah bukti atau saksi yang mendukung kecurigaan kita? Tentu bukan sembarang bukti dan saksi melainkan buktinya harus kuat dan saksinya bisa dipercaya.

Kalau salah satu dari dua hal penting itu saja gak terpenuhi, gak ada lagi alasan untuk memperpanjang kecurigaan. Jika perasaan orangtua tetap kuat mengatakan ada yang gak beres dengan anaknya, pastikan gak tergesa-gesa menunjukkannya pada anak.

Apalagi langsung memberondongnya dengan berbagai tuduhan. Sebab tetap ada kemungkinan perasaan orangtua yang keliru. Lebih baik tetap bersikap tenang sambil menyelidikinya pelan-pelan. Jangan tiba-tiba menjadikan anak pesakitan.

Baca Juga: Berefek Buruk ke Anak, Ini 5 Ciri Toxic Parenting yang Perlu Kamu Tahu

4. Bisa memicu konflik hebat 

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/atlas_green

Bukan salah anak bila kesabarannya habis menghadapi kecurigaan orangtua. Ia jauh lebih muda daripada orangtua. Apalagi jika ia benar-benar gak seperti yang dicurigai orang tuanya. Mungkin akan terjadi pertengkaran besar.

Bahkan bisa diwarnai adu fisik. Kalaupun anak gak seberani ini untuk melawan sikap toksik orangtuanya, mungkin dia akan memilih menjauh. Menjauh secara fisik dengan tinggal terpisah. Menjauh secara psikis dengan bersikap masa bodoh pada orangtua.

5. Jika orangtua selalu yakin anak gak jujur, mungkin itu menggambarkan sifat orangtua sendiri

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/caliboiijulian

Orangtua yang terus mencurigai anak tanpa bukti dan saksi harus berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri. Jangan-jangan, satu-satunya dasar kecurigaan orangtua pada anak adalah karena ia menyamakan anak dengan dirinya.

Mohon maaf sekali, tetapi apakah orangtua juga sering berbohong pada siapa pun? Pada orangtuanya sendiri sejak dahulu kala, pasangan, atau orang-orang lainnya? Bukan hal yang mengejutkan bila memang itulah yang terjadi.

6. Tingkah orangtua memeriksa kebenaran bisa jadi mempermalukan anak

Jangan Curiga Terus, 6 Sebab Orangtua Harus Belajar Memercayai Anak Unsplash.com/pagie

Meski di poin 3 orangtua boleh berusaha menyelidiki pelan-pelan ketimbang tiba-tiba menuduh anak begini begitu, pastikan cara-cara yang diambil tetap bijaksana. Jangan malah mempermalukan anak sehingga membuatnya makin kesal.

Misal, terus menghubungi teman-temannya dan menanyakan kebenaran ucapan anak. Atau, selalu mengecek posisi anak dan kegiatannya dari orang-orang yang sedang bersamanya. Ini tak ubahnya memata-matai anak.

Seolah-olah ada kamera tak kasatmata yang selalu mengikuti anak. Pernahkah orangtua memikirkan bahwa mungkin saja anak akan diolok-olok oleh temannya karena tingkah orangtuanya? Penyelidikan bahkan cukup dilakukan dengan strategi wait and see.

Gak ada kebohongan yang akan bisa terus ditutupi. Sering kali bahkan terbuka dengan sendirinya. Kuncinya hanyalah kesabaran orangtua. Bila kemudian perilaku dan ucapan anak sering gak konsisten atau muncul bukti dan saksi yang cukup meyakinkan, mungkin dugaan orangtua benar.

Bila dua hal di atas gak muncul, orangtua harus berani mengakui kekeliruannya pada diri sendiri bahkan pada anak. Meminta maaf pada anak dan belajar mengurangi kecurigaan akan sangat baik untuk hubungan orangtua dan anak.

Baca Juga: 5 Dampak Buruk Kurangnya Ilmu Parenting dalam Rumah Tangga

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Abigail Putra

Berita Terkini Lainnya