Comscore Tracker

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap Bersosialisasi

Orangtua memiliki peranan paling penting!

Pembatasan fisik dan sosial selama hampir dua tahun yang diakibatkan oleh pandemik COVID-19 menyebabkan beragam masalah, terutama masalah kesehatan. Gak hanya secara fisik, hal ini juga mempengaruhi kesehatan emosional, mental, hingga masalah tumbuh kembang, terutama pada anak.

Anak-anak usia dini kehilangan tingkat interaksi yang merupakan tonggak penting bagi perkembangan sosial emosionalnya. Oleh karena itu, tiap keluarga diharapkan dapat merespons secara memadai terhadap perubahan yang diperlukan dan menguatkan fungsi-fungsi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Menanggapi hal tersebut sekaligus merayakan Hari Keluarga Nasional 2022 yang jatuh pada Rabu (29/6/22) lalu, Danone Indonesia menyelenggarakan kegiatan Webinar yang mengangkat tema "Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi". Acara ini menghadirkan dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, dan Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri, sebagai pembicara.

Nah, berikut ini beberapa cara meningkatkan aspek sosial emosional anak agar siap bersosialisasi di masa transisi yang dirangkum dari ulasan para pembicara di acara tersebut. Yuk, simak!

1. Mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak saat berada di momen transisi

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap BersosialisasiWebinar Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dalam rangka Hari Keluarga Nasional 2022. 29 Juni 2022. (dok. Danone Indonesia)

Anak usia dini umumnya sangat rentan karena mereka bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan paling dasarnya. Memahami hal ini, Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengatakan jika momen transisi ini bisa menjadi kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

"Kami memahami bahwa anak membutuhkan lingkungan terdekatnya untuk merangsang dan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang optimal. Momen transisi bisa menjadi kesempatan baik untuk mengasah dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, utamanya dalam perkembangan sosial emosionalnya," katanya.

2. Menerapkan pola pengasuhan kolaboratif antara ayah dan ibu

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap Bersosialisasiilustrasi keluarga (IDN Times/Mardya Shakti)

Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Irma Ardiana, MAPS menerangkan bahwa gaya pengasuhan memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Pasalnya, pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi, dan pendekatan inklusif yang berguna untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga.

“Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dan bimbingan kepada anak-anak mereka. Peran orang tua yang tepat dalam memberikan dorongan, dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi milestone aspek perkembangan merupakan hal yang penting," terangnya.

Selain itu, mengenai pola asuh, survei BKKBN mengungkapkan bahwa selama pandemik COVID-19, 71.5 persen pasangan suami istri telah melakukan pola asuh kolaboratif, 21.7 persen mengatakan istri dominan, dan 5,8 persen lainnya hanya istri saja.

Di sisi lain, berdasarkan data UNICEF, diketahui bahwa selama pandemik orangtua mengalami tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi, serta menilai pengasuhan anak di rumah saja memiliki risiko tersendiri. Sayangnya, kondisi ini sangat mungkin menghambat kemampuan orangtua untuk mengatasi emosi dan kebutuhan psikologis anak.

3. Memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial anak, sejak janin sampai usia 23 bulan

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap Bersosialisasiilustrasi ibu hamil (IDN Times/Arief Rahmat)

Dalam konteks percepatan penurunan stunting, dr. Irma Ardiana, MAPS mengatakan jika pengasuhan di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sangatlah penting. Terlebih, pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas.

"Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Selain itu, peran Tim Pendamping Keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga berisiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina Keluarga Balita," tambahnya.

Baca Juga: 5 Tips Mendekatkan Anak Kandung dengan Anak Adopsi

4. Memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap BersosialisasiDokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH sebagai pembicara dalam Webinar Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dalam rangka Hari Keluarga Nasional 2022. 29 Juni 2022. (dok. Danone Indonesia)

Dalam webinar tersebut, Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH turut menjelaskan bahwa aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak. Tujuannya adalah  untuk mencapai semua aspek kehidupannya dan bersaing di fase kehidupan selanjutnya dimulai dari remaja hingga lanjut usia. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi.

“Bagi anak-anak, kebingungan menghadapi perubahan ruang dan rutinitas baru saat kembali menjalani kehidupan dan interaksi sosial dapat meningkatkan masalah sosial-emosional yang dampaknya bisa berbeda tergantung dengan usia anak dan dukungan dari lingkungannya. Gangguan perkembangan emosi dan sosial dapat mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan di masa dewasa, seperti gangguan kognitif, depresi, dan potensi penyakit tidak menular,” ucapnya.

Dokter Bernie juga menambahkan bahwa perkembangan emosi dan sosial berkaitan erat dengan kecerdasan otak dan sistem pencernaan yang sehat. Ketiganya saling terkait dan berpengaruh signifikan terhadap tumbuh kembang anak agar anak dapat tumbuh menjadi anak hebat.

“Agar anak-anak dapat beradaptasi kembali dengan normal, memiliki keterampilan sosial-emosional yang memadai, serta memiliki kemampuan berpikir yang baik, maka orang tua perlu memantau perkembangan sosial emosional anak secara berkala serta memberikan stimulasi dan nutrisi yang tepat,” ujarnya.

5. Mendorong si kecil untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal

5 Cara Tingkatkan Aspek Sosial Emosional Anak agar Siap BersosialisasiIbu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101, Cici Desri dalam Webinar Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi yang diselenggarakan oleh Danone Indonesia dalam rangka Hari Keluarga Nasional 2022. 29 Juni 2022. (dok. Danone Indonesia)

Di kesempatan yang sama, Ibu Inspiratif Founder Joyful Parenting 101, Cici Desri menceritakan pengalamannya saat mempersiapkan si Kecil menghadapi transisi untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sosial. Ia menjelaskan jika proses adaptasi gak berjalan dengan mudah.

“Proses adaptasi pun tidak selalu berjalan dengan mudah, mulai dari kekagetan si Kecil yang bertemu dengan banyak orang baru, beraktivitas, dan berinteraksi dengan banyak orang membuat si kecil kadang juga menjadi frustrasi. Menghadapi hal tersebut, saya dan suami mengambil bagian dalam pengasuhan dan memperkuat keterlibatan dengan si Kecil terlebih pada fase transisi saat ini,” ceritanya.

Sebagai orangtua, Cici dan suami juga turut mendorong si Kecil untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara verbal. Dengan begitu, mereka dapat mengetahui apa yang dirasakan si Kecil secara emosional. Selain itu, ia juga menghubungi guru dan staf terkait lainnya di sekolah si Kecil untuk memantau cara si Kecil mengatasi dan mengikuti tugas atau kegiatan.

Ia bahkan berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang untuk mengetahui lebih jauh upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil.

“Kami memahami bahwa fase membangun hubungan baru merupakan sebuah keterampilan. Melalui interaksi sosial secara tatap muka langsung, si Kecil mampu menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan berada di lingkungan barunya. Dengan begitu, saya yakin si Kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani, dan memiliki empati tinggi,” pungkas Cici.

Nah, itu dia beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan aspek sosial emosional pada anak. Yuk, coba ikuti serta terapkan langkah-langkah yang ada untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan bahagia!

Baca Juga: 5 Alasan Utama Kenapa Anak-anak Lebih Bahagia Dibanding Orang Dewasa

Topic:

  • Muhammad Tarmizi Murdianto
  • Pinka Wima

Berita Terkini Lainnya