Comscore Tracker

#MahaKaryaAyahIbu: Impian Hidup Anak Kedua untuk Mengukir Senyum Indah di Wajah Termanis Ayah dan Ibu

Wajah termanis Ayah dan Ibu merupakan hadiah spesial aku.

Artikel ini merupakan karya tulis peserta kompetisi storyline "Mahakarya untuk Ayah dan Ibu" yang diselenggarakan oleh IDNtimes dan Semen Gresik. 


Keluargaku adalah idolaku selaku perwujudan dari keluarga yang kokoh tak tertandingi dari segala penjuru dunia. Sang motivator terbesar dan termaha dahsyat dalam hidupku adalah kedua orangtuaku. Ya, dialah Ayah dan Ibu kandungku. Orang tua yang telah berjuang mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Aku yang terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara merasa sangat berbangga hati berada di keluarga yang sederhana ini. Angka genap yang sempurnah menurutku dengan tiga pasang laki-laki dan tiga pasang perempuan.

Arti keluarga dalam hidupku adalah oksigen sebagai sumber nafas hidupku yang mana segalanya sangatlah berarti dalam kehidupan dunia yang fana. Kugambarkan keluarga ibarat surga di dalam kerasnya dunia dan sebagai  sinar mentari pagi laksana lentera penyejuk yang selalu menyinari hati serta untuk selebihnya tak bisa aku ungkapkan dengan lisan atau kata-kata. Pekerja keras tanpa lelah dan berhati muliawan itulah tipikal kepribadian yang melekat pada kedua orang tuaku.

Bentuk didikan yang lemah lembut dan bernuansa kebaikan tanpa pilih kasih yang diberikan kepada anak-anaknya merupakan perwujudan bukti nyata kasih sayang yang diterapkannya. Begitu besar terpaan hempasan zona kehidupan fana yang ganas, tidak menjadi hambatan dari orang tuaku dalam menjalankan aktivitas hari-harinya untuk membahagiakan anak-anaknya.

Sedikit mengukir alkisah singkat bahwa, mulanya Ayahku bekerja sebagai petani jagung dan mengabdikan diri sebagai Sekretariat Desa tepatnya di Desa Warambe, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara, dan sungguh beruntungnya pada saat itu Sekretariat Desa diangkat sebagai PNS sehingga akhirnya Ayahku alhamdulillah berstatus PNS. Tidak lama kemudian Ayahku dipindahkan di kantor Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara dan dipercayakan sebagai Bendahara Kecamatan.

Bukan hanya itu, Ayahku juga mempunyai pekerjaaan sampingan menambah pendapatan keluarga seperti masih setia melakukan aktivitas bertani, memasang instalasi lampu, memperbaiki alat-alat elektronik dan masih banyak yang lainnya. Pekerjaan apapun dijalankannya dengan ikhlas selama pekerjaan itu halal, sementara Ibuku sendiri juga bekerja sebagai petani jagung dan mengurus segala urusan dalam rumah tangga. Sungguh merupakan perwujudan peran orang tua yang maha dahsyat, pekerja keras dan memiliki kemampuan yang multitalen dan perlu aku dijadikan sebagai panutan hidup serta yang paling utama adalah menjadi kebanggaanku nomor satu dari penjuru dunia yang tak ternilai budi luhur jasanya.

Realita pekerjaan yang sangat menguras tenaga dari waktu pagi, siang hari yang ditemani pancaran cahaya mentari yang panas dan bahkan waktu sore hari telah menjadi alur ladang aktivitas hari-hari kedua orang tuaku dalam mengumpulkan berbagai kepingan rupiah. Wajah mulai mengkerut tak terawat dan kusam, tangan mulai nampak kasar juga beruratan merupakan gambaran saksi bisu bukti tipekal sifat kerja keras dari kedua orangtuaku.

Namun mereka sangatlah tidak mempedulikannya karena semua itu dilakukan dengan harapan untuk membahagiakan seluruh anak-anaknya dan menyekolahkannya sampai pada perguruan yang lebih tinggi dengan impian menginginkan seluruh anaknya menjadi anak yang berstatus sukses dan mempunyai pekerjaan yang lebih layak. Sungguh merupakan perjuangan orang tua yang hebat dan aku sangat berbangga hati memiliki mereka selaku pahlawan yang bergelar tanpa tanda jasa.

Rasanya ingin sekali aku membalas jasa perjuangan hidup orang tuaku. Impianku sebagai status anak kedua sangatlah sederhana yakni ingin mengukir senyuman indah dibalik wajah termanis Ayah dan Ibu tercinta sebagai hadiah terindah kupersembahkan untuk mereka berdua. Senyuman manis itu juga menjadi aura penghiburku dan penyemangatku.

Yah…penyemangat empat lima yang selalu berkibar dan berkoar-koar untuk bisa sukses dan menjadi andalan kebanggaan dari kedua orang tuaku. Senyuman itu nampak terlihat pada indra penglihatanku semasa aku didampingi oleh kedua orang tuaku dalam meraih gelar sarjana sosial pada jurusan Sosiologi Universitas Halu Oleo Kendari, tepatnya pada hari selasa tanggal 3 mei 2016.

Aku ingat persis kejadian itu, karena hari itu adalah momen yang bersejarah dalam hidupku dan bisa memandang jelas senyum termanis dari kedua orang tuaku. Ayah yang memakai baju kemeja berwarnah kuning dengan sangat rapih nampak terlihat sangat beribawah, sementara Ibu yang memakai baju kebaya bermotif warnah kuning terlihat sangat elegan dan enak dipandang mata.

Ingin kembali aku melanjutkan studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan berimpian menjadi salah satu guru sosiologi yang profesional sebagai perwujudan pembuktian kebanggaan kedua orang tuaku. Bukan itu saja, aku juga berimpian menjadi penulis ternama sehingga setiap saat aku bisa mengukir senyuman indah wajah termanis orang tuaku melalui goresan pena tinta hitamku.

Mahakarya sederhana impian anak kedua mengukir senyuman indah wajah termanis Ayah dan Ibu merupakan hadiah spesial aku persembahkan untuk kedua orangtuaku dan yang paling utama adalah aku selalu berharap dalam setiap sujudku semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah, hidayat, rezeki, kesehatan dan keselamatan kepada mereka berdua, amin yarabbal alamin.

Nasrul La Ode Muhammad Photo Writer Nasrul La Ode Muhammad

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ernia Karina

Berita Terkini Lainnya