Comscore Tracker

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya 

Gak mau kan anak jadi tertutup? #IDNTimesLife

Gak sedikit hubungan anak dan orangtua yang berubah layaknya orang asing. Setiap anak, baik di fase remaja atau dewasa, pasti punya masalah yang perlu dibagikan untuk mendapat respon positif. Tapi, gak sedikit anak yang lebih merasa nyaman berbagi cerita pada teman, dibanding orangtua sendiri.

Bahkan, beberapa kasus menyebutkan bahwa anak merasa kapok bercerita masalahnya ke orangtua. Padahal, orangtua seharusnya jadi tempat labuhan pertama setiap beban yang dirasakan anak. Tapi, kenapa yang terjadi malah sebaliknya? Jawabannya, karena kesalahan fatal orangtua dalam merespon. Seperti apa saja? Cek poin-poin berikut!

1. Dibanding-bandingkan dengan kemampuan orang lain 

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya ilustrasi ibu dan putrinya berbicara di kebun (Pexels.com/Zen Chung)

“Lihat si X, ujiannya juga sama! Tapi kenapa dia bisa, kamu enggak?”

Kesalahan orangtua yang satu ini kadang terasa samar. Maksudnya mungkin ingin memotivasi, tapi jatuhnya anak malah merasa sebal karena dibandingkan. Di satu sisi, anak juga merasa dirinya sangat buruk karena keadaan kontras orang lain yang berbeda dengannya.

Kalau ingin membangkitkan semangat anak, cukup kalimat motivasi saja yang disampaikan. “Ayah yakin kamu sebenarnya bisa, kalau usahanya lebih serius lagi!” Tak perlu ada perbandingan dengan siapa pun yang terlihat lebih baik.

2. Disalahkan dengan nada memarahi 

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya ilustrasi putri remaja kesal diomeli (Pexels.com/Polina Zimmerman)

“Kamu, sih malah ngambil cara itu, kenapa gak dipikir dulu!”

Respon semacam ini adalah hal paling menyakitkan untuk didengar. Anak sepenuhnya sudah menyadari kesalahannya. Orangtua gak perlu menambah beban anak dengan menyalahkan. Toh masalah sudah terjadi, seharusnya yang dicari adalah solusi.

Peran orangtua adalah melindungi dan bersikap peduli. Inilah yang dibutuhkan anak. Sulit memang untuk tidak memarahi kesalahan anak, sebab orangtua merasa punya “power”. Tapi ingat, dampaknya sangat besar! Anak akan tertutup dalam setiap masalahnya.

Baca Juga: 5 Ucapan Anak yang Ternyata Membuat Hati Orangtua Terluka

3. Dianggap beban yang merepotkan orangtua 

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya ilustrasi ibu bersedih ditemani anaknya (Pexels.com/Keira Burton)

“Mama lagi banyak pikiran! Masalah kamu cuma bikin Mama tambah pusing!”

Mendengar respon seperti ini, anak bakal merasa jadi beban yang merepotkan. Memang, orangtua punya segudang masalah rumah tangga yang mungkin memberatkan. Tapi belajarlah untuk tetap menjadi sandaran ternyaman bagi anak.

Kalau bukan orangtua, siapa lagi yang harus lebih menyayangi anak? Gak mau, kan anak jadi menutup diri setiap ada masalah, karena dianggap merepotkan?

4. Cenderung meremehkan masalah yang diceritakan anak 

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya ilustrasi ayah dan anak berbicara di atas kasur (Pexels.com/Ketut Subiyanto)

“Cuma masalah kaya gitu aja, masa kamu gak bisa beresin sendiri, sih?”

Menyepelekan masalah anak dengan maksud agar anak merasa masalahnya kecil, ternyata keliru. Hal yang sulit, akan tetap sulit kalau anak gak tahu cara menyelesaikannya.

Daripada meremehkan masalah anak, alangkah baiknya kalau orangtua mengajak anak diskusi soal solusi. Toleransi ketidakpahaman anak, jangan malah menjatuhkannya.

5. Cenderung menyepelekan kemampuan anak 

5 Respons Negatif Orangtua yang Bikin Anak Kapok Ceritakan Masalahnya ilustrasi ibu menasehati putranya di tempat tidur (Pexels.com/Ketut Subiyanto)

“Sini, biar Papa aja yang turun tangan, kamu patuh aja!”

Pernah gak kamu merasa ‘di-anak-kecilkan’ oleh orangtua atau orang yang lebih dewasa lainnya? Rasanya gak enak banget, kan? Bukan itu yang diinginkan anak saat bercerita masalahnya. Anak ingin divalidasi kesedihannya, dan diberi semangat untuk berani menghadapi masalah.

Meremehkan kemampuan anak juga memberi kesan kalau orangtua ‘terpaksa’ menolongnya. Kesan ‘terpaksa’ bikin anak merasa jadi beban. Karena itulah anak enggan untuk berbagi cerita kedua kalinya.

Intinya, anak hanya ingin mencari tempat yang aman untuk bercerita. Nah, supaya anak tetap bersikap terbuka pada orangtua, jauhi kelima respon negatif di atas, ya!

Baca Juga: 5 Alasan Klasik Orangtua yang Kerap Jadi Dalih untuk Memanjakan Anak

Nita Nurfitria Photo Verified Writer Nita Nurfitria

IG 👉 nita.nurfitria

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya